jurnalistik.co.id – Di tengah suhu terik yang sedang membakar Kota Padang, Alam Nasyra (21) memilih tempat yang tidak ikut mengundang keramaian. Ia menepi di sebuah bangku taman besi di halaman depan gedung perpustakaan.
Di atasnya, pohon rindang setinggi sekitar sepuluh meter berdiri kokoh, memberi keteduhan alami yang terasa langsung saat angin siang datang. Embusan yang menyejukkan mengalir dari arah Pantai Padang, sementara ia tetap fokus pada bacaan.
Di sela-sela jeda, Alam terlihat membolak-balik halaman novel fiksi berjudul āLaut Berceritaā karya Leila S. Chudori. Aktivitas itu membuatnya seperti berada di ruang yang lebih hening daripada hiruk-pikuk kota.
Rutinitas semacam ini bukan hal yang baru baginya. Dalam satu bulan terakhir, ia konsisten datang ke lokasi yang sama untuk mengisi waktu luang dengan membaca di tempat yang teduh dan sejuk.
Keheningan yang Menolong Konsentrasi
Alam menjelaskan bahwa alasan utamanya sederhana: ia butuh kondisi yang membuat pikirannya tidak mudah pecah. Ia mengatakan, āKalau di sini bisa lebih konsentrasi dan tidak ada yang mengganggu. Makanya saya rutin datang ke sini hampir setiap hari,ā ujarnya dengan suara pelan, lalu menaruh buku dengan rapi di atas paha.
Baginya, perpustakaan daerah tidak sekadar menjadi fasilitas umum, tetapi juga ruang penenang yang membantu kebiasaan membaca tetap berjalan. Setiap kali kejenuhan datang, ia rela meluangkan waktu untuk hadir di sana.
Untuk mencapai tempat itu, Alam menempuh perjalanan sekitar 10 menit dari lokasi tinggalnya. Waktu yang tidak terlalu lama itu ia anggap sepadan, karena suasana yang didapat terasa berbeda dari kebisingan sehari-hari.
Mahasiswa jurusan Teknik Industri ini memandang membaca sebagai lebih dari sekadar hobi pengisi waktu luang atau formalitas akademis. Ia menilai, membaca dapat bertransformasi menjadi kebutuhan, terutama bagi generasi muda yang sedang bertumbuh.
Menurutnya, buku adalah instrumen penting untuk menambah pengetahuan umum sekaligus memperluas cakrawala berpikir. Dengan cara itu, ia merasa pembaca lebih siap menghadapi dinamika kehidupan sosial yang semakin kompleks.
Melawan Arus Informasi yang Mengacau
Berita Terkait
Alam juga tidak menutup mata bahwa menjaga konsistensi membaca di era modern adalah tantangan yang berat. Ia menyebut musuh paling sulit ditaklukkan justru ada di genggaman tangan sendiri: telepon pintar (smartphone).
Dalam pandangannya, arus informasi yang masuk melalui berbagai platform media sosial sering kali simpang siur dan dipenuhi hoaks. Ia merasakan tantangan tersebut hadir bertubi-tubi, sehingga kebiasaan membaca butuh tempat dan strategi agar tidak mudah terseret distraksi.
Meski demikian, ia percaya, ketika kebiasaan membaca sudah kuat, anak muda bisa menjadi pribadi yang lebih bijak. Ia menekankan bahwa membaca membantu menguatkan cara pandang saat menghadapi informasi yang berlomba-lomba menarik perhatian.
Ia juga melihat proses ini sebagai upaya membangun kontrol diri. Dengan berada di halaman perpustakaan yang teduh dan jauh dari gangguan, ia lebih mudah kembali pada fokus, bukan pada alur informasi yang terus bergulir di layar.
Lebih dari itu, Alam menilai kebiasaan membaca memberi ruang untuk menenangkan pikiran. Ia seolah menemukan āpelarian magisā ketika buku dibuka, sehingga aktivitasnya tidak lagi sekadar menghabiskan waktu.
Dari Fiksi ke Jurnal Ilmiah
Hal menarik lainnya datang dari cara kebiasaannya tumbuh. Alam tidak memulai ketertarikannya dengan buku-buku berat bergenre ilmiah, melainkan dari dunia fiksi.
Ia mengaku, melalui imajinasi dalam bacaan fiksi itulah ia membangun habituasi atau kebiasaan membaca secara konsisten. Dari fondasi itu, ketertarikannya perlahan merambah ke tulisan non-fiksi, hingga akhirnya ia merasa nyaman mengonsumsi jurnal-jurnal ilmiah.
Perjalanan membaca yang bertahap itu membuatnya lebih mantap ketika harus menjaga rutinitas di tengah distraksi digital. Saat buku semakin beragam, fokusnya tetap terjaga karena ia sudah terbiasa meluangkan waktu untuk membaca.
Di halaman depan perpustakaan daerah Kota Padang, ia seakan menemukan bentuk perlindungan terhadap kelelahan informasi. Keteduhan pohon, angin dari Pantai Padang, dan suasana tenang di bangku taman menjadi alasan praktis sekaligus penguat kebiasaan.
Baginya, membaca di tempat teduh seperti ini memberi kesempatan untuk memilih kembali perhatian. Ia tidak hanya menikmati teks yang sedang dibaca, tetapi juga merawat disiplin yang ia butuhkan untuk menyaring arus informasi dari media sosial.












