jurnalistik.co.id – Michael Vaughan menilai pensiunnya Ben Stokes harus diikuti pergantian besar di struktur kepemimpinan kriket Inggris. Menurutnya, Brendon McCullum dan Rob Key perlu mundur sebagai bagian dari “complete clearout”.
Pandangan itu disampaikan Vaughan setelah Stokes resmi mengakhiri karier internasionalnya. Ia berpendapat kondisi yang makin memburuk dalam hasil tim membuat waktu untuk perubahan sudah tidak bisa ditunda.
Vaughan menyorot bahwa Stokes, McCullum, dan Key sebelumnya tetap dipertahankan pada peran masing-masing oleh ECB (England and Wales Cricket Board). Keputusan tersebut muncul setelah kekalahan Inggris di Ashes musim dingin lalu.
Namun, pada laga terakhir Stokes pada level internasional, Inggris justru menelan kekalahan beruntun dari Selandia Baru. Vaughan menempatkan rangkaian hasil tersebut sebagai bukti bahwa pembenahan tidak cukup bila hanya mempertahankan personel yang sama.
Vaughan mengutip penilaian tegasnya saat membahas masa transisi setelah Stokes memutuskan pensiun. Ia mengatakan, “Enough is enough. With Ben Stokes walking off into the sunset and results getting worse and worse, now is the time for a complete clearout, with the coach Brendon McCullum and director of cricket Rob Key going too,” sebagaimana dilaporkan kepada Telegraph.
Ia menilai hasil-hasil yang didapat tidak muncul begitu saja secara kebetulan. “Results like this do not come along often, and when you put it on the back of the Ashes winter, which was so poorly planned, and the failure to beat India last summer, you know something major has to give.”
Vaughan menambahkan bahwa seruan pemecatan atau perubahan tersebut bukanlah sesuatu yang ia lakukan dengan sukarela. Ia menegaskan, “I take no pleasure in doing this. I don’t like calling for heads. At the end of the Ashes I tried very hard not to. But I can’t cope with watching English cricket be so wasteful any more.”
Ia menilai ada banyak kemampuan di ruang ganti Inggris, tetapi tidak dimanfaatkan secara maksimal. Dalam pandangannya, proses yang berjalan terlalu lama dianggap tidak cukup efektif untuk mengubah performa tim.
“There is so much skill and talent in the England changing room but it is not being harnessed at all. If all we have is to just keep going harder, and it’s been exposed again, on the back of chaos off the field, which has been happening too regularly, then it is time for change.”
Vaughan juga menyebut bahwa Stokes bisa saja kembali memperkuat tim, asalkan perubahan dilakukan di level paling atas. Ia menunjukkan bahwa adanya pergantian kepemimpinan dapat membuka peluang untuk situasi yang lebih menyatu antara pemain dan otoritas terkait.
“I’ll be absolutely staggered if this leadership group is still together,” kata Vaughan. Ia kemudian menyinggung kemungkinan perubahan menjelang Ashes kandang berikutnya melawan Australia pada 2027.
Pembicaraan Vaughan merujuk pada skenario saat kepemimpinan baru datang kepada Stokes. Ia menambahkan, “That new leadership group might just get in their nice cars, drive up to Durham and say to Ben, ‘Ben, you’re playing great. Any chance of one last hurrah against Australia this summer?’”
Vaughan juga berkata, “I would not rule that out.” Ia menggambarkan bahwa pintu untuk masa depan karier Stokes tidak sepenuhnya tertutup bila organisasi mampu merespons masalah yang menumpuk.
Di sisi lain, Stokes sendiri sudah menegaskan keputusan pensiunnya tidak akan dibalik. Ia menyampaikan keputusan tersebut kepada rekan setim sebelum hari keempat, dan pengumuman pensiun diumumkan pada pukul 15:25 BST.
Seiring pengumuman itu, Stokes langsung menunjukkan dampaknya di lapangan. Setelah pertandingan berjalan, ia berhasil mengambil wicket Zak Foulkes dengan lemparan berikutnya.
Dalam keterangan yang diberitakan, Stokes menyatakan ia akan tetap bermain untuk Durham. Ia menyebut mengakhiri karier internasionalnya adalah “best thing” untuk dirinya, serta membantah bahwa keputusan itu merupakan reaksi langsung terhadap peristiwa-peristiwa belakangan yang penuh gejolak.
Stokes melewatkan Test kedua setelah insiden di sebuah klub malam di London. Setelah diklarifikasi, ia kemudian diberi izin untuk kembali menjadi kapten pada Test ketiga di Trent Bridge.
Rangkaian momen di hari yang sama juga menggambarkan suasana laga yang tidak berjalan mulus. Stokes sempat naik ke posisi pembuka untuk memukul dan mencetak 30, sementara Inggris mencapai 103-4 dalam kondisi yang kacau.
Meski begitu, Inggris masih tertinggal 269 run dari target agar mereka dapat menghindari kekalahan seri. Vaughan menyebut bahwa Inggris seharusnya bisa melakukan reset setelah Ashes 4-1, tetapi perbaikan yang diharapkan justru tidak terasa nyata.
Ia menilai periode itu seharusnya menjadi titik pembaruan. Menurutnya, Ashes tersebut diwarnai persoalan di luar lapangan serta tuduhan lingkungan yang terlalu longgar, dan setelahnya tim belum benar-benar menunjukkan arah yang konsisten.
Vaughan juga mengaitkan kritiknya dengan hubungan yang ia anggap kurang solid antara Stokes dan ECB. Ia menyebut adanya “lack of trust” di antara kedua pihak setelah insiden klub malam terjadi beberapa waktu lalu.
Menurut Vaughan, “That was probably the final nail,”. Ia menilai ada kesalahan yang tidak hanya datang dari satu sisi, tetapi ketidakpercayaan sudah terlalu dalam untuk diabaikan.
Ia menegaskan, “You have to say that the way the ECB treated Ben Stokes, there was a bit of fault on both sides, but there clearly has been a lack of trust on both sides.”
Vaughan juga menilai pengumuman pensiun Stokes kemungkinan belum menjadi akhir dari rangkaian kabar yang akan muncul. “I don’t think we’ve heard the last of this announcement. There’ll be more to come from it.”
Ia menutup dengan harapan agar semua pihak dapat berkumpul dan memperbaiki permainan Inggris. “I just hope over time everyone can get together and get this team playing better cricket.”
Dalam waktu dekat, Inggris memang tetap akan menjalani aktivitas kriket papan atas meski Stokes sudah mundur dari level internasional. Tim memainkan aksi white-ball pada T20 pertama melawan India pada Rabu, sementara jadwal Test berikutnya masih menunggu hingga 19 Agustus melawan Pakistan.
Bagi Vaughan, jeda pertandingan tersebut juga memberi ruang untuk perkembangan lebih lanjut di tubuh organisasi. Seruannya jelas mengarah pada perubahan kepemimpinan yang, menurutnya, seharusnya dilakukan agar tim tidak terus terjebak pada pola yang sama.












