jurnalistik.co.id – Implementasi kebijakan pemangkasan potongan komisi aplikasi ojek online (ojol) menjadi maksimal 8 persen mulai berlaku pada Rabu (1/7/2026). Di Jakarta Selatan, khususnya kawasan Fatmawati dekat Stasiun MRT Fatmawati, para mitra pengemudi menyampaikan respons yang tidak seragam: ada yang melihat pendapatan bersih berpotensi naik, namun pada hari pertama juga muncul keluhan karena perubahan order dan pemotongan belum benar-benar dapat dipastikan.
Sejumlah pengemudi mengatakan mereka menyambut baik arah kebijakan yang memberi porsi lebih besar bagi pengemudi, yakni target pendapatan bersih sebesar 92 persen. Namun, mereka menekankan bahwa transparansi pembagian hasil dan mekanisme potongan menjadi kunci agar yang diterima benar-benar sesuai janji persentase tersebut.
Leman (52) mengaku merasakan perbedaan mencolok pada penerimaan order di pagi hari. Pengemudi yang biasanya mangkal di area Fatmawati menyebut volume pekerjaan terasa lebih berat dibanding hari-hari sebelumnya, serta menilai dampaknya terlihat pada tarif yang turut berpengaruh.
“Penerimaan orderannya rada berat ini. Saya baru dapat tiga, biasanya jam segini sudah 15 trip. Argo juga turun,” ujar Leman kepada Kompas.com, Rabu. Ia menambahkan bahwa angka yang ia terima juga bergerak di bawah kisaran yang biasa didapatkan.
“Biasanya kita terdekat itu (terima) Rp 10.400 atau Rp 10.500, sekarang menjadi Rp 10.200. Padahal harapan kita kalau potongan turun, pendapatan bersih bisa naik ke Rp 11.000 atau Rp 12.000, tapi kenyataannya malah turun,” tambahnya. Menurut Leman, harapan perubahan pendapatan bersih masih belum terlihat pada hari pertama penerapan aturan.
Keluhan serupa datang dari Hendrawan (30) yang menilai jumlah order pada hari pertama kebijakan berjalan justru mengalami penurunan. Ia menekankan penurunan itu terjadi secara drastis dibanding pola yang biasanya ia alami pada jam yang sama.
“Turun drastis. Biasanya jam segini sudah 15 (orderan), sekarang baru 8,” katanya. Meski ia menyampaikan penurunan order, ia juga tidak menutup kemungkinan adanya penyesuaian sistem yang membuat hasil baru akan tampak penuh setelah beberapa waktu berjalan.
Namun, tidak semua pengemudi merasakan tren yang sama. Soni (42) justru melaporkan adanya peningkatan jumlah order pada hari yang sama, sehingga ia melihat hari pertama ini berjalan berbeda dari keluhan yang banyak terdengar.
“Kalau saya malah meningkat, kebalikannya. Biasanya delapan, sekarang sudah 15 (orderan),” tutur Soni. Perbedaan respons tersebut menunjukkan bahwa perubahan di level pengemudi bisa dipengaruhi variasi permintaan, jam kerja, dan pola layanan, meski kebijakan potongan telah diberlakukan.
Meski jumlah order dinilai bervariasi, para pengemudi sepakat bahwa kepastian mengenai besaran potongan adalah aspek yang paling penting. Andrian (27) menegaskan inti kebijakan yang dinantikan pengemudi adalah penerimaan porsi pendapatan lebih besar, namun ia juga mempertanyakan bagaimana biaya layanan aplikasi dihitung dalam praktiknya.
“Jadi, kebijakan utamanya mah intinya driver itu terima 92 persen saja. Harusnya ya, semoga begitu. Cuman kan tidak tahu kan ada biaya layanan aplikasi atau apa, namanya juga baru launching hari ini,” kata Andrian. Dengan kata lain, ia menilai kebijakan mungkin membawa kabar baik, tetapi detail perhitungan tetap perlu dijelaskan agar mitra pengemudi tidak hanya menerima harapan.
Di bagian lain, Soni menambahkan bahwa informasi mengenai potongan yang benar-benar berlaku kemungkinan baru terlihat setelah akumulasi berjalan satu hari. Ia menjelaskan bahwa mekanisme pemotongan yang ia pahami akan terhitung pada hari berikutnya, sehingga hasil final belum dapat dibandingkan secara utuh pada hari pertama.
“Kita tidak tahu potongan 8 persen itu nantinya gimana karena kan kita dipotongnya besok hari. Karena ketahuannya baru besok, jadi sampai sekarang itu kita masih belum dapat jawaban. Sesuai atau tidaknya kan kita belum tahu,” tutur Soni. Dengan demikian, pengemudi berharap laporan harian di aplikasi pada hari selanjutnya bisa menjadi rujukan untuk menilai apakah potongan benar-benar hanya berada pada batas 8 persen.
Bagi mitra pengemudi di Fatmawati, hari pertama penerapan aturan baru juga menjadi masa uji coba yang menentukan. Mereka akan mencocokkan perubahan pendapatan dan potongan dengan laporan yang muncul keesokan harinya, sambil tetap mendorong transparansi agar porsi 92 persen yang dijanjikan benar-benar sampai pada pengemudi, bukan sekadar angka kebijakan.












