Otomotif

Mitos atau Fakta: Isi Baterai Motor Listrik hingga 100 Persen Bikin Cepat Rusak?

0
×

Mitos atau Fakta: Isi Baterai Motor Listrik hingga 100 Persen Bikin Cepat Rusak?

Sebarkan artikel ini
Mitos atau Fakta, Cas Baterai Motor Listrik sampai 100 Persen Bikin Cepat Rusak? Otomotif 4 Juni 2026
Ilustrasi: Mitos atau Fakta, Cas Baterai Motor Listrik sampai 100 Persen Bikin Cepat Rusak?

jurnalistik.co.id – Di kalangan pengguna kendaraan listrik (EV) maupun perangkat elektronik harian, masih sering beredar anggapan bahwa mengecas baterai hingga menyentuh angka 100 persen dapat membuat komponen cepat rusak. Kekhawatiran ini biasanya dikaitkan dengan risiko pengisian berlebih (overcharge), terutama jika perangkat dibiarkan terhubung semalaman.

Anggapan tersebut lantas diuji dengan penjelasan dari pihak yang menangani baterai kendaraan listrik. Hernest, Owner dari Bogor Battery Electric Motion (BEMo), menyampaikan bahwa untuk tipe motor listrik modern, klaim mengisi daya sampai penuh akan cepat merusak pada dasarnya tidak beralasan.

“Kalau selama dia pakai baterai lithium, aman. Dia akan cut off otomatis (memutus arus sendiri). Sama seperti handphone sekarang, biar dicas seharian atau semalaman, arusnya akan putus kalau sudah penuh,” ujar Hernest kepada Kompas.com pada Rabu (3/6/2026).

Menurut Hernest, keamanan pengisian baterai lithium hingga 100 persen tidak lepas dari mekanisme pengaman yang sudah dirancang sejak awal pada sistem baterainya. Pada praktiknya, baterai modern tidak sekadar menerima arus listrik tanpa kendali, melainkan dipantau dan diatur terus-menerus agar kondisi sel tetap dalam batas aman.

Di sinilah komponen bernama Battery Management System (BMS) memainkan peran penting. BMS digambarkan sebagai “otak” pintar yang bertugas memantau, mengatur, dan menjaga kesehatan seluruh sel baterai.

Bagi Hernest, fungsi utama BMS adalah mengatur cut off agar risiko overcharge maupun undercharge (daya terlalu kosong) bisa dihindari. Dengan kata lain, saat indikator motor listrik sudah menunjukkan angka 100 persen, BMS akan menghentikan aliran listrik yang masuk meskipun kabel adaptor masih menempel di stopkontak.

Penjelasan ini menjawab kekhawatiran umum pengguna yang mengira bahwa arus akan terus mengalir selama charger terhubung. Hernest menegaskan bahwa pada baterai lithium, penghentian aliran listrik dilakukan secara otomatis ketika baterai telah mencapai kondisi penuh, sehingga efek “dipaksa terus terisi” tidak terjadi.

Namun, Hernest juga menyoroti adanya perbedaan kondisi jika motor listrik menggunakan jenis baterai yang berbeda. Menurutnya, risiko yang semula disebut sebagai mitos bisa berubah menjadi kenyataan pada motor atau sepeda listrik yang masih memakai baterai SLA (Sealed Lead Acid).

“Kalau di sistemnya SLA, baru itu terjadi (bisa rusak). Begitu sudah penuh dan tetap kita colok semalaman, baterai itu ibaratnya tetap disuapin terus. Akhirnya apa? Baterainya bisa kembung,” jelas Hernest.

Di baterai SLA, ketersediaan sistem pengaman yang “mengatur ulang” aliran listrik tidak sekomprehensif baterai lithium modern. Hernest mengaitkan masalah ini dengan tidak adanya proteksi pintar seperti BMS pada paket baterai bawaan pabrik.

Karena tidak ada pengaturan dari BMS, baterai SLA diceritakan akan mengalami tekanan berlebih ketika tetap dibiarkan terhubung pada kondisi sudah penuh. Dalam kondisi itu, arus yang masuk tidak lagi berhenti dengan cara yang melindungi sel, sehingga risiko kerusakan menjadi lebih besar.

Hernest kemudian menegaskan bahwa absennya sistem proteksi inilah yang membuat usia pakai baterai tipe SLA cenderung lebih pendek dibandingkan tipe lithium. Ia menggambarkan perbedaan tersebut sebagai konsekuensi langsung dari cara baterai dikelola.

“Baterai SLA itu umurnya pendek karena tidak diatur (oleh BMS). Kalau sudah dipakai setahun saja, itu sudah alhamdulillah,” kata dia.

Dengan demikian, prinsip kehati-hatian tidak sama untuk semua jenis baterai. Pada baterai lithium, pengisian sampai 100 persen dipandang aman karena ada mekanisme cut off otomatis dari BMS. Sementara itu, pada baterai SLA, kebiasaan mengecas hingga penuh lalu membiarkan colokan tetap terpasang semalaman justru dapat mempercepat kerusakan.

Kesimpulannya, pengisian baterai hingga 100 persen sangat aman dan direkomendasikan untuk baterai lithium. Sebaliknya, untuk motor listrik yang masih menggunakan baterai SLA, pengguna perlu lebih waspada dan tidak menunda atau membiarkan proses charging semalaman setelah indikator menandakan kondisi penuh.

Pendekatan yang disarankan pada intinya adalah memahami jenis baterai yang dipakai serta cara pengaman internalnya bekerja. Dengan begitu, pengguna tidak terjebak pada kekhawatiran yang muncul dari anggapan umum, tetapi juga tidak mengabaikan risiko nyata yang bisa terjadi pada sistem yang proteksinya tidak sekompleks baterai lithium.