jurnalistik.co.id – NASA menunjuk Blue Origin milik Jeff Bezos, Firefly Aerospace, dan sejumlah perusahaan antariksa lain untuk mengerjakan proyek pengiriman pendarat robotik, rover, hingga drone ke Bulan. Langkah ini menjadi bagian dari upaya pemerintahan Presiden AS Donald Trump untuk mempercepat pembangunan pangkalan Bulan sebelum akhir dekade ini.
Dalam pengumuman terbarunya, NASA memberikan kontrak senilai US$220 juta masing-masing kepada Lunar Outpost dan Astrolab. Dua perusahaan itu diminta membangun rover yang dapat bergerak secara otonom di Bulan, sekaligus dapat dikendalikan oleh astronaut di masa depan untuk menjelajahi permukaan Bulan.
Rover menjadi salah satu unsur penting dalam rencana eksplorasi bulan jangka panjang. Kendaraan ini diharapkan membantu misi mencari, memetakan, dan memahami kondisi permukaan Bulan dengan lebih rinci. Dalam skema NASA, rover yang dikembangkan Lunar Outpost dan Astrolab akan menjadi bagian dari perangkat eksplorasi yang mendukung rencana kehadiran manusia di Bulan pada tahap berikutnya.
Nasa juga mengumumkan bahwa Blue Origin akan bertugas mengirimkan rover-rover tersebut ke permukaan Bulan menggunakan pendarat kargo tak berawak milik perusahaan itu, yang disebut Mark 1. Setiap pendaratan dan pengiriman rover bernilai US$234 juta bagi Blue Origin, menurut NASA.
Penugasan ini menempatkan Blue Origin pada peran penting dalam rantai misi ke Bulan, bukan hanya sebagai penyedia wahana angkut, tetapi juga sebagai bagian dari infrastruktur yang menopang eksplorasi permukaan. Dengan kontrak tersebut, NASA memperluas kerja sama dengan sektor swasta untuk mempercepat pengembangan sistem yang dibutuhkan dalam misi bulan mendatang.
Di sisi lain, Carlos García-Galán, eksekutif program NASA, mengatakan bahwa pesawat ruang angkasa Elytra milik Firefly Aerospace akan mengangkut drone pertama ke Bulan dalam program Moonfall NASA. Drone itu akan menggunakan kendaraan otonom untuk memotret permukaan Bulan dan membuat peta bagi lokasi pendaratan dan pangkalan yang potensial.
Peran drone dalam program itu menjadi penting karena pemetaan awal akan membantu NASA menilai lokasi yang mungkin cocok untuk pendaratan berikutnya. Selain itu, pemotretan permukaan Bulan juga dapat mendukung pengumpulan data yang dibutuhkan untuk menyusun rencana pembangunan pangkalan di masa depan.
Pengumuman kontrak ini memperlihatkan bagaimana NASA terus mengandalkan perusahaan swasta untuk mempercepat misi eksplorasi antariksa. Dalam konteks pembangunan pangkalan Bulan, kerja sama tersebut mencakup pengiriman rover, penggunaan pendarat kargo tak berawak, hingga pengoperasian drone untuk pemetaan permukaan.
Langkah NASA juga menegaskan bahwa ambisi kembali ke Bulan tidak lagi bergantung pada satu jalur misi saja. Dengan melibatkan Blue Origin, Firefly Aerospace, Lunar Outpost, dan Astrolab, badan antariksa itu membagi pekerjaan teknis ke dalam beberapa komponen yang saling terhubung, mulai dari pengembangan wahana, pengangkutan alat, hingga eksplorasi permukaan.
Upaya itu sekaligus menunjukkan dorongan baru untuk mempercepat pembangunan pangkalan Bulan sebelum akhir dekade ini. Dengan kontrak baru tersebut, NASA menempatkan sektor swasta sebagai mitra utama dalam proyek yang berkaitan langsung dengan masa depan eksplorasi manusia di Bulan.
Dengan susunan tugas yang dibagi ke beberapa perusahaan, NASA tampak memilih pendekatan bertahap agar setiap komponen misi bisa berjalan lebih terukur. Pengiriman rover, penyediaan pendarat, dan pemetaan permukaan ditempatkan dalam alur kerja yang saling melengkapi untuk mendukung target jangka panjang di Bulan.
Pola ini juga memberi gambaran bahwa eksplorasi Bulan kini bergerak ke arah kolaborasi yang lebih teknis dan terpecah ke banyak peran. Alih-alih mengandalkan satu sistem besar, NASA menautkan sejumlah wahana dan perusahaan agar proses menuju kehadiran manusia di Bulan dapat disiapkan dengan lebih cepat dan lebih efisien.






