Internasional

Lindsey Graham, sekutu Donald Trump di Senat AS, meninggal usia 71 setelah ‘brief and sudden illness’

×

Lindsey Graham, sekutu Donald Trump di Senat AS, meninggal usia 71 setelah ‘brief and sudden illness’

Sebarkan artikel ini
Ilustrasi: US senator and Trump ally Lindsey Graham dies after 'brief and sudden illness'

jurnalistik.co.id – Senator Amerika Serikat dari Partai Republik, Lindsey Graham, meninggal dunia pada usia 71 tahun pada Sabtu malam. Menurut pernyataan kantornya, Graham wafat setelah mengalami “brief and sudden illness”.

Graham merupakan sekutu dekat Presiden AS Donald Trump dan selama bertahun-tahun dikenal sebagai salah satu figur paling berpengaruh di Washington, khususnya dalam isu kebijakan luar negeri. Ia terpilih menjadi anggota Senat pada 2002, mewakili negara bagian Carolina Selatan, dan kerap mendorong langkah intervensi militer AS di berbagai wilayah.

Donald Trump menyampaikan duka cita dengan menyebut Graham sebagai “true American Patriot” dan mengatakan tokoh itu akan “greatly missed”. Pernyataan tersebut muncul di tengah kabar bahwa Graham justru baru pulang dari Kyiv, Ukraina, setelah bertemu Presiden Volodymyr Zelensky pada Jumat.

Dalam laporan tersebut disebutkan tidak ada kekhawatiran kesehatan yang diketahui sebelum perjalanan Graham ke Kyiv. Pertemuan itu juga terjadi dalam konteks posisi politik Graham yang konsisten mendukung penguatan persenjataan untuk Kyiv serta pemberian sanksi terhadap Moskow.

Setelah kabar kematian Graham beredar, Zelensky menyampaikan belasungkawa melalui unggahan di X. Ia mengatakan ia “deeply saddened” atas kematian Graham, serta menambahkan, “America and the world have lost a determined leader”.

Hubungan Graham dengan Trump mengalami perubahan yang tidak selalu sejalan di awal. Pada wawancara CNN saat Trump mencalonkan diri pada 2015, Graham menyebut Trump sebagai “a race-baiting, xenophobic, religious bigot”. Setahun berikutnya, Graham juga menilai, “If we nominate Trump, we will get destroyed… and we will deserve it.”

Namun, setelah peristiwa kerusuhan di Capitol AS pada 2021, Graham justru menyampaikan pidato di lantai Senat yang memperlihatkan sikapnya saat itu. Dalam pidatonya, ia mengatakan, “Trump and I, we’ve had a hell of a journey. I hate it to end this way. “All I can say is a count me out. Enough is enough.”

Seiring waktu, Graham kemudian berbalik menjadi salah satu pendukung Trump yang paling loyal. Ia memilih menolak vonis dalam persidangan pemakzulan Trump pada 2021, serta mendukung kemenangan Trump pada pemilu 2024.

Dalam wawancara dengan BBC pada 2023, Graham menjelaskan alasan ia tetap mendukung Trump dengan mengutip pertimbangan tertentu. Ia mengatakan, “There is a dark side to Donald Trump… and he was a very good president. But I am sticking with him because I saw what he did,” lalu menyebut sejumlah poin seperti catatan Trump terkait perbatasan selatan AS, pembunuhan komandan militer Iran yang berpengaruh Qasem Soleimani, serta pengangkatan hakim-hakim konservatif.

Graham juga dikenal dengan sikap intervensionis dalam kebijakan luar negeri, termasuk dukungan kuat terhadap perang di Iran. Dalam penampilan di program Face the Nation milik CBS bulan lalu—yang digambarkan sebagai salah satu wawancara televisi terakhirnya—ia mengatakan AS akan “obliterate” Iran jika negara tersebut tidak tunduk pada kendali AS atas Selat Hormuz.

Di luar AS, Perdana Menteri Israel Benjamin Netanyahu turut menyampaikan penghormatan pada Graham pada Minggu. Netanyahu mengatakan, “Lindsey understood that the security of Israel and America are inseparable”, dan menambahkan bahwa Israel kehilangan “one of its greatest friends”.

Sepanjang kariernya, Graham juga tercatat mendukung aksi militer terhadap Irak setelah serangan 11 September 2001, serta menentang penarikan pasukan AS dari Afghanistan pada 2021. Saat membahas keputusan itu, ia menggambarkannya sebagai “sad and dangerous event for US national security”. Ia juga pernah menyatakan, “Jihadists all over the world are celebrating,” dan menambahkan, “America will be seen as weak.”

Adapun pada Minggu, Trump mengatakan dalam wawancara dengan NBC News bahwa ia sempat berbicara dengan Graham pada Sabtu malam. Trump menilai senator tersebut “sounded great”, dan menyebut Graham dijadwalkan untuk tampil pada program “Meet the Press” hari Minggu.

Menurut pemberitaan media AS, rekaman transmisi personel medis darurat dari rumah milik Graham di Washington, DC, menyebut seorang pria di rumah tersebut mengalami cardiac arrest. Beberapa jam kemudian, kantor Graham merilis pernyataan resmi mengenai kematiannya.

Trump kemudian menambahkan penilaian personal tentang Graham kepada NBC pada Minggu. Ia mengatakan, “He was a tough cookie in many ways,” serta menjelaskan, “If he wanted to get something, if he thought he was right and he had people against him, he could be very tough, actually. But he was a good person.”