Hukum & Kriminal

Ledakan di Alun-alun Dadaha Tasikmalaya Bikin Panik Warga, Eks Napiter Berinisial A Diamankan

×

Ledakan di Alun-alun Dadaha Tasikmalaya Bikin Panik Warga, Eks Napiter Berinisial A Diamankan

Sebarkan artikel ini
Ilustrasi: Ledakan di Alun-Alun Dadaha Bikin Panik Warga, Eks Napiter Ditangkap

jurnalistik.co.id – Ledakan di sekitar gerobak pedagang kaki lima di trotoar depan Alun-alun Dadaha, Kota Tasikmalaya, Jawa Barat, sempat membuat pengunjung dan warga sekitar panik. Peristiwa itu disebut terjadi pada Sabtu (10/7/2016) malam.

Ledakan dimaksud dikaitkan dengan seorang pedagang kaki lima berinisial A yang saat itu sedang berkelahi dengan rekannya sesama pedagang yang berjualan di samping gerobaknya. Di lokasi, A dikenal berjualan es teh.

Seorang pedagang bernama Deni (47), yang berada di dekat area kejadian, mengatakan pertikaian berlangsung sebelum ledakan terdengar. Ia menyebut momen tersebut sempat dipisahkan oleh pedagang lain dan warga setempat.

“Kejadiannya itu tukang es teh (A) dan tukang bakso goreng di depan saya berkelahi tadi malam (Sabtu). Bahkan, sempat dipisah oleh pedagang lain dan warga setempat,” jelas Deni (47), Minggu (12/7/2026).

Deni mengatakan ia tidak mengetahui penyebab pasti perkelahian tersebut. Menurutnya, ketika ledakan terjadi, kepanikan langsung muncul di sekitar lokasi.

“Kalau saya kenal sih orangnya baik. Tidak terlihat yang curiga-curiga apa. Cuman, saat berkelahi semalam memang ramai dan tiba-tiba ada ledakan saja gitu. Sampai lampu trotoar jalan juga pecah,” ujarnya.

Ia menambahkan bahwa pelaku selama ini dikenal sebagai sosok yang cenderung pendiam, tetapi tetap ramah kepada pembeli esnya. Dari pengamatannya, tidak ada tanda mencurigakan yang terlihat sebelum kejadian malam itu.

Setelah suara ledakan muncul, warga di sekitar segera berkerumun. Polisi kemudian berdatangan usai peristiwa terjadi.

“Saya tidak tahu caranya bagaimana itu bisa meledak. Tiba-tiba saja ada suara meledak. Tidak terlalu besar seperti bom sih, cuman suaranya keras juga. Terus niatnya mau apa, saya dan pedagang lainnya di sini juga kurang tahu,” ungkap Deni.

Dalam pemberitaan yang sama, disebutkan tidak ada korban dalam peristiwa kemarin. Meski demikian, keramaian warga tetap terjadi karena ledakan yang terdengar keras.

Pengamanan dan temuan barang bukti

Selain keterangan dari para saksi di lokasi, pemberitaan juga menyebut A merupakan mantan narapidana teroris (Napiter). Ia disebut berasal dari Kelurahan Cilembang, Kecamatan Cihideung, Kota Tasikmalaya, Jawa Barat.

Pada uraian sebelumnya, disebutkan A nekat meledakkan gerobak dagangan saat emosi usai berkelahi sesama pedagang kaki lima di Dadaha, Tasikmalaya, pada Sabtu (11/7/2026) malam. Namun, di bagian awal laporan juga disebut ledakan terjadi pada Sabtu (10/7/2016) malam.

Setelah kejadian, A langsung ditangkap oleh petugas gabungan Brimob, Polda Jabar bersama petugas Satreskrim Polres Tasikmalaya Kota pada Minggu (12/7/2026) siang. Pengamanan dilakukan menyusul peristiwa yang sempat membuat warga panik.

Tim gabungan kemudian melakukan penggeledahan di rumah kontrakan A di Kelurahan Cilembang. Dalam penggeledahan itu, tim menemukan sejumlah barang bukti yang dicurigai untuk aksi teror.

Barang bukti yang ditemukan disebut berupa alat-alat peledak dan buku bacaan Aqidah. Temuan tersebut menjadi bagian dari proses penegakan hukum setelah pengamanan pelaku.

Profil pelaku menurut warga sekitar

Seorang warga bernama Nurdin (54) menyampaikan bahwa A selama ini dikenal sebagai mantan Napiter Jamaat Ansharut Daulah (JAD) yang masih dalam masa pembinaan. Menurut Nurdin, A juga menerima uang pembinaan setiap bulannya dari lembaga pemerintah terkait.

“Pelaku memang mantan Napiter, soalnya pelaku pun masih setiap bulannya menerima uang pembinaan dari lembaga pemerintah terkait. Saya tahu dari beliau yang bilang dan selama ini sudah kembali ke NKRI serta memilih berdagang es teh di Dadaha. Warga di sini juga pada tahu itu,” jelas Nurdin kepada Kompas.com di sekitar rumah kontrakan pelaku, Minggu sore.

Nurdin mengatakan keseharian A adalah berdagang es teh kaki lima dengan gerobaknya yang mangkal di trotoar Komplek Dadaha. Ia juga menyebut A pernah memperlihatkan kemampuan membuat petasan.

Ia menuturkan bahwa saat momen Lebaran dan Tahun Baru, A disebut sangat ahli membuat petasan untuk diperjualbelikan di samping usaha berjualan es teh. Pernyataan itu disampaikan Nurdin sebagai gambaran kebiasaan yang ia ketahui dari lingkungan sekitar.

Sementara itu, di lokasi kejadian, Deni menggambarkan A sebagai sosok yang sebelumnya tidak menimbulkan kecurigaan, namun tetap terlibat konflik dengan sesama pedagang sebelum ledakan terjadi. Kepanikan warga dan pecahnya lampu trotoar jalan turut menjadi bagian dari dampak yang sempat terlihat saat peristiwa berlangsung.