Olahraga

Josh Kerr Juara Mili Commonwealth Games 2026 dalam Duel Sengit di Glasgow

×

Josh Kerr Juara Mili Commonwealth Games 2026 dalam Duel Sengit di Glasgow

Sebarkan artikel ini
Ilustrasi: Commonwealth Games 2026: Josh Kerr wins Saturday night scrap in Glasgow

jurnalistik.co.id – Josh Kerr menutup Commonwealth Games 2026 dengan kemenangan yang terasa seperti pertarungan jalanan di Scotstoun Stadium, Glasgow. Lari nomor mile putra itu berakhir dengan emas untuknya setelah persaingan yang berlangsung sengit sejak awal.

Malam Sabtu tersebut tidak menawarkan bantuan apa pun. Tidak ada pacers, tidak ada wave lights, dan tidak ada janji tentang target waktu maupun rekor yang akan dipecahkan.

Yang tersisa hanya duel versi “Glasgow rules” dan tekad Kerr agar tidak memberi ruang bagi siapa pun untuk melewatinya. Lawannya datang dari berbagai latar: Jake Wightman, rekan setim dan teman masa kecil dari Skotlandia; Cam Myers yang tampil sebagai talenta Australia; serta Timothy Cheruiyot, peraih perak Olimpiade.

Setelah finis, perayaan Kerr menunjukkan betapa besar arti medali emas baginya. Ia membungkus tubuhnya dengan Saltire, dan di beberapa detik terakhir ia bahkan sempat “mengendalikan” keramaian saat melintasi garis finis.

Emosi itu juga terlihat saat ia mencoba ikut bernyanyi. Kerr beberapa kali berhenti, menggigit bibir, lalu menyeka air mata di kedua mata ketika “Flower of Scotland” bergema.

“We rush through these moments so quickly,” kata Kerr kepada BBC Sport Scotland. “So I was just telling myself to slow down.”

Ia menambahkan bahwa momen berharga itu membuatnya teringat pada perjalanan panjang: “In my head, I was flashing through all the hard moments and realising that I’ve come a long way. And to have Flower of Scotland playing versus the GB national anthem, it’s just different. Not many times in my career I’ll ever be able that.”

Di lintasan, Kerr tampak memikul beban sebagai petarung utama. Usia 28 tahun menjadi bagian dari narasi, tetapi yang lebih menonjol adalah kualitas dan rekam jejaknya: ia datang sebagai juara dunia, sekaligus peraih medali perak dan perunggu Olimpiade.

Namun, ukuran kecepatannya malam itu tidak ditunjukkan lewat angka finis. Saat ia menyeberang garis, papan waktu menunjukkan 3 minutes 54.12 seconds, hampir delapan detik lebih lambat dibanding performa terbaiknya untuk mile di London bulan lalu.

Yang tidak terlihat di papan angka adalah “keruwetan” sepanjang lomba. Untuk tiga dari empat putaran, situasinya lebih mirip rammy daripada race, dengan kontak fisik yang benar-benar terasa.

Di awal, Kerr sempat membiarkan ritme berjalan sesuai kehendaknya sendiri. Ia keluar ke lintasan di tengah kembang api, sempat beraksi dengan memutar botol, lalu membiarkan 12 rivalnya melesat terlebih dahulu.

Baru ketika mereka mulai memeriksa situasi dan berlari kembali, Kerr memanjang-legakan langkahnya dan memperhatikan respons penonton. Ia juga memilih posisi di start dengan cara yang tidak umum: Kerr menempatkan diri di antara Myers dan Cheruiyot.

Bagi Kerr, tantangan yang paling menentukan adalah kemampuan bertahan saat lomba berubah menjadi adu saling dorong. “As long as you stay on your feet, it’s fine,” penilaiannya setelah perlombaan.

Menjelang satu fase penting, bel lomba seolah menjadi tanda untuk pergantian permainan. Dalam sekejap, Kerr melesat ke arah luar untuk mengejar Myers dan Cheruiyot, yang sempat lebih dulu membuat pilihan terbaik sesaat.

Dengan sisa 250m, Kerr akhirnya meninggalkan keduanya. Wightman berusaha mengikutinya, tetapi untuk mengejar pria secepat Kerr, keberanian saja tidak cukup.

Wightman, yang menjadi medali perunggu dari dua Commonwealth Games terakhir, akhirnya harus puas dengan posisi keenam. Sementara itu, Myers menyusul untuk mengambil perak, dan Cheruiyot memastikan perunggu.

Kerr sendiri menggambarkan momen saat ia merasa gap mulai terbentuk. “I peeked up at the screen, saw I had a bit of a gap, and I felt great,” ujarnya.

Ia melanjutkan dengan fokus yang tetap dijaga sampai akhir: “I was just trying to stay present and enjoy it. I learned how to race on that track – and I’ve had some pretty bad ones out there – so to really enjoy that last 100m was a really important moment.”

Baginya, kemenangan ini juga terasa sebagai klimaks yang dibangun oleh Glasgow Games. Event Blue Riband yang bersejarah itu kembali hadir, dan Kerr menjadi pemenang yang sesuai reputasi nomor tersebut.

Kerr memahami nilai sejarah olahraga sekaligus arti sorak tuan rumah. Ia tumbuh bersama panggung ini—ia pernah menjadi anak yang hadir pada ajang atletik di Hampden pada 2014—dan ia mengerti bahwa setiap gambar, kata yang dibagikan, serta coretan namanya akan menjadi bagian dari kenangan penonton di stadion.

Ia juga berbicara tentang tanggung jawab sebagai atlet yang ditunggu. “I have to take my time out there because they’ve waited and put their hard-earned money to come out and watch me perform,” kata Kerr.

“You’ve got to stay in your lane and realise I’m lucky coming into this championship healthy, ready to go and I’m in the best shape of my life. And to do that in front of a home crowd is very special.”

Di akhir cerita, kemenangan Kerr bukan hanya soal finis cepat, melainkan soal mampu menjalani lomba yang fisiknya berat, ritmenya berubah, dan tekanan emosi yang besar—lalu tetap berdiri di posisi teratas sampai garis finis.