Hukum & Kriminal

Pagar Meninggi: Kecemasan di Baliknya?

×

Pagar Meninggi: Kecemasan di Baliknya?

Sebarkan artikel ini
Ilustrasi: Pagar Kian Tinggi, Siapa Takut?

jurnalistik.co.id – Beberapa pekan terakhir, perhatian publik tertarik pada hal yang tampak sederhana: pagar di sejumlah pusat perbelanjaan dan gedung komersial di kota-kota besar yang tiba-tiba dibuat lebih tinggi.

Jika yang dilakukan semata-mata urusan teknis, pertanyaannya menjadi wajar: mengapa pengamanan fisik justru diperketat, padahal tidak ada ancaman yang diakui?

Di satu sisi, pemerintah menyatakan tidak ada persoalan keamanan yang melatarbelakangi langkah tersebut. Pernyataan itu kemudian berbenturan dengan kenyataan di ruang publik: meningkatnya lapisan pembatas yang membuat area terlihat makin sulit diakses.

Di sisi lain, Gubernur DKI Jakarta Pramono Anung meminta agar pagar-pagar yang ditinggikan kelak dibongkar, dengan alasan kekhawatiran berlebihan tidak baik bagi kehidupan kota.

Perbedaan antara klaim dan tindakan itu yang kemudian menumbuhkan kegelisahan—bukan pada pagar sebagai benda, melainkan pada pesan yang ikut terbaca di balik keputusan mengubah bentuk ruang.

Dalam kehidupan sosial, tindakan sering kali berbicara lebih tegas daripada kalimat resmi yang menyertainya. Ketika seseorang benar-benar merasa aman, biasanya tidak ada kebutuhan untuk menambah lapisan perlindungan.

Sebaliknya, ketika proteksi fisik dinaikkan, publik cenderung menafsirkannya sebagai indikasi bahwa ada rasa cemas yang sedang bekerja, meski dinyatakan sebaliknya.

Dengan kata lain, yang paling terasa bukan hanya perubahan tinggi pagar, melainkan pergeseran cara ruang publik dimaknai oleh orang-orang yang melihatnya setiap hari.

Ruang tidak pernah benar-benar netral

Perspektif sosiologis membantu menjelaskan mengapa pagar tidak bisa dipahami hanya sebagai elemen arsitektur. Henri Lefebvre menegaskan, ruang bukan wadah kosong tempat aktivitas berlangsung, melainkan produk sosial yang dibentuk oleh relasi kekuasaan, kepentingan ekonomi, dan praktik kehidupan sehari-hari (Lefebvre, 1991).

Dengan kerangka itu, pagar lebih mirip pernyataan yang dibangun di permukaan kota daripada sekadar penghalang fisik.

Ketika mal atau pengelola gedung komersial mengubah batas yang semula terasa terbuka, yang berpindah bukan hanya dimensi bangunannya. Makna ruang di mata masyarakat ikut bergerak: area yang sebelumnya mudah terbaca sebagai milik bersama perlahan berubah menjadi lebih eksklusif.

Keberadaan pagar yang lebih tinggi mengisyaratkan adanya sesuatu yang perlu dijaga, dipisahkan, atau diamankan dari potensi gangguan dari luar.

Isyarat itu mungkin tidak selalu disampaikan secara verbal, tetapi terbentuk melalui perubahan visual dan pengalaman sehari-hari.

Lingkungan membentuk persepsi dan pola interaksi

Dalam psikologi sosial, perubahan lingkungan dapat memengaruhi persepsi serta kecenderungan perilaku manusia. Teori environmental psychology menunjukkan bahwa desain ruang mampu memengaruhi rasa aman, rasa memiliki, hingga pola interaksi sosial (Gifford, 2014).

Karena itu, pagar tinggi tidak berhenti pada fungsi materialnya. Ia juga melahirkan efek psikologis yang kemudian ikut membentuk cara orang memperlakukan tempat tersebut—apakah mereka merasa dipersilakan, dibatasi, atau bahkan “diminta menjauh.”

Pesannya bisa terdengar sederhana: ada risiko yang sedang dipertimbangkan, atau setidaknya ada keraguan yang ingin dikendalikan.

Perubahan yang semula dianggap urusan internal pengelola akhirnya menjadi bahan pembacaan publik. Orang akan menilai, mengapa pintu masuk, batas kawasan, dan garis jarak dibuat lebih tegas dibanding sebelumnya.

Ketika pemerintah mengatakan tidak ada masalah keamanan, publik dapat tetap mempertanyakan koherensinya—bukan untuk menuduh tanpa dasar, melainkan karena tindakan mengundang makna yang sulit diabaikan.

Di titik itulah logika “kota yang sehat” berhadapan dengan logika “pengelolaan risiko.” Kekhawatiran yang berlebihan, sebagaimana diingatkan Pramono Anung, bisa berdampak pada cara warga memandang ruang publik dan cara ruang tersebut dipakai untuk bertemu, bergerak, dan beraktivitas bersama.

Jika pagar meninggi terus dipandang sebagai jawaban atas ketegangan yang tidak pernah dijelaskan secara memadai, ruang kota berpotensi kehilangan nuansa terbuka yang selama ini membuat interaksi sosial terasa wajar.

Yang perlu disadari, masyarakat tidak hanya menerima informasi dari pernyataan resmi. Mereka juga membaca kota lewat isyarat yang tampak: apa yang ditambah, apa yang dipagari, dan apa yang dibuat lebih sulit disentuh.

Karena itu, setiap keputusan mengubah batas fisik membawa konsekuensi simbolik. Bahkan ketika alasan teknis disebut, persepsi publik dapat tetap mengikuti jejak visual yang ditinggalkan oleh pagar yang makin tinggi.

Fenomena ini dapat dipahami sebagai persilangan antara psikologi, politik, dan ekonomi perkotaan. Pengelola aset berupaya mengendalikan situasi di lingkungan mereka, sementara warga berharap alasan yang menyertainya sejalan dengan klaim “tidak ada ancaman”.

Ketika kesenjangan itu terjadi, kegelisahan tumbuh bukan semata-mata karena pagar, melainkan karena ketidakselarasan antara apa yang diucapkan dan apa yang diperlihatkan.

Pada akhirnya, persoalan pagar yang meninggi bukan hanya tentang pengamanan, melainkan tentang bagaimana kota membentuk dan dipahami warganya. Jika ruang yang dulu terasa terbuka pelan-pelan menjadi lebih eksklusif, publik akan menangkap sinyal bahwa ada sesuatu yang ingin diamankan dan dijauhkan—dan dari sinilah pertanyaan besar terus hidup.