Olahraga

Joe Root: ‘very different place’ saat bersiap kembali jadi Kapten Tes Inggris

×

Joe Root: ‘very different place’ saat bersiap kembali jadi Kapten Tes Inggris

Sebarkan artikel ini
Ilustrasi: Joe Root in 'very different place' over England Test cricket captaincy

jurnalistik.co.id – Joe Root siap memulai babak kedua sebagai kapten Timnas Tes Inggris. Menjelelang masa jabatan tersebut, ia menyampaikan bahwa dirinya kini berada di “very different place” dibanding ketika memutuskan mundur dari peran itu empat tahun lalu.

Root pertama kali ditunjuk sebagai kapten Tes pada 2017. Dalam periode pertamanya, ia memimpin Inggris dalam rekor 64 pertandingan Tes serta mencatat rekor 28 kemenangan sebagai kapten sebelum akhirnya mengundurkan diri pada April 2022. Keputusan itu menyusul kekalahan Inggris dari West Indies dengan margin 10 wicket.

Saat itu, situasi tim tidak sedang berada pada performa terbaiknya. Inggris hanya meraih satu kemenangan dari 17 pertandingan Tes terakhir, termasuk momen ketika mereka dipermalukan 4-0 pada rangkaian Ashes di Australia. Di tengah tantangan performa tersebut, mereka juga harus beradaptasi dengan pembatasan akibat Covid.

Root kemudian mengungkap bahwa peran kapten berdampak serius pada dirinya. Ia mengatakan, “It had become a very unhealthy relationship, the captaincy and me. I could’nt leave it at the ground any more, it was coming home,” sebagaimana disampaikan pada Juni 2022. Ia menambahkan, “As soon as I made the decision, I knew it was the right thing to do. I felt like a big weight had been lifted.”

Sejak melepas jabatan kapten, Root menilai dirinya menemukan ritme yang lebih sesuai dengan kondisi mentalnya. Setelah mundur, ia tampil gemilang dengan rata-rata lebih dari 54 sejak Juni 2022, jauh melampaui rata-rata 46,44 pada lima tahun sebelumnya. Ia juga menorehkan 16 dari total 41 abad Tes.

Ketika kesempatan untuk kembali muncul, Root mengaku tidak ragu sedikit pun. Ia menyebut ada tawaran untuknya kembali mengemban peran tersebut, dan kedatangan pelatih kepala baru Stephen Fleming menjadi faktor besar dalam keputusan itu. Setelah berbicara dengan Fleming dan melihat energi serta antusiasme sang pelatih, ia pun merasa lebih cepat yakin bahwa langkah tersebut tepat.

Jadwalnya jelas: Root akan memulai stint kapten penuh keduanya saat menghadapi Pakistan di Headingley pada 19 Agustus. Fleming, yang akan menjadi pelatih kepala, bergabung lebih awal bersama tim sebelum tur Afrika Selatan pada bulan Desember.

Kesempatan ini juga datang setelah Root sempat mengisi peran kapten secara interim pada Juni. Saat itu, Ben Stokes tidak dapat tampil pada Tes kedua melawan Selandia Baru menyusul insiden di sebuah klub malam.

Root menempatkan jabatan kapten sebagai kehormatan besar. Ia mengatakan, “It’s one of the greatest honours you could wish to have. I’m very excited by it.” Ia juga menyatakan, “I’m in a very different place to the last time I did it with a team in a very different position.”

Menurut Root, kemampuan tim untuk tumbuh dan bergerak maju menjadi kunci. Ia berharap dirinya bersama Fleming bisa menimba pelajaran dari apa yang telah diraih dalam empat tahun terakhir, bukan memulai dari nol sepenuhnya.

Fleming sendiri, seperti Root, juga memegang rekor nasional dalam jumlah pertandingan dan kemenangan sebagai kapten Tes. Root menambahkan bahwa ia telah mengagumi Fleming “from afar”, baik saat Fleming masih menjadi pemain maupun ketika menjalankan peran sebagai pelatih. Ia menyebut, “To get the chance to work together is going to be great fun.” Root juga menjelaskan bahwa setelah berdiskusi dan melihat energi serta kegembiraan Fleming, ia “got excited very quickly.”

Namun, untuk memulai masa jabatan kedua, keduanya tidak mewarisi situasi yang sederhana. Inggris menghadapi periode ketika tim tampil dalam keadaan “disarray”. Mereka mengalami kekalahan beruntun di level seri, baik saat berada di Australia maupun di kandang sendiri oleh Selandia Baru. Gaya bermain yang dianggap “carefree” juga mendapat kritik, sementara persoalan disiplin di luar lapangan turut ikut memukul momentum era Bazball hingga berakhir dengan hasil yang mengecewakan.

Di tengah dinamika itu, Bazball berhenti pada saat kapten Ben Stokes pensiun pada bulan Juni dan pelatih Brendon McCullum diberhentikan “a fortnight later”. Meski demikian, Root menegaskan bahwa pada fase sebelumnya, duet kapten dan pelatih mereka pernah membawa kebangkitan yang cepat. Mereka berhasil memenangkan 10 dari 11 pertandingan pertama, dan Root berharap pendekatan yang dulu bekerja bisa memberi inspirasi untuk langkah berikutnya.

Root menyatakan harapannya dengan nada yang mengarah pada kesinambungan. “Hopefully we can work and build on a lot of the good things that have happened over the last four years,” katanya. Ia menambahkan bahwa Ben Stokes dan Brendon McCullum telah melakukan pekerjaan yang brilian, terutama dalam upaya mengubah keadaan dan membawa Inggris ke posisi yang diharapkan bisa “carry that forward in a slightly different way.”

Dalam wawancara internal dengan England & Wales Cricket Board, Root turut menjelaskan pendekatan kepemimpinannya untuk kapten kali ini. Ia menyebut bahwa empat tahun terakhir adalah masa paling menyenangkan dalam karier profesionalnya, dan sebagian besar hal tersebut ia kaitkan dengan cara McCullum dan Stokes membantunya melihat permainan dengan sudut pandang baru.

Ia menekankan bahwa apa yang mungkin paling segar di ingatan orang adalah kondisi terakhir, tetapi ia menggarisbawahi pentingnya melihat periode empat tahun secara utuh. Root mengatakan, “I’ve taken a lot from that and I feel it will be a big part of how I want to approach things moving forward as a leader of this team.”

Bagian yang paling menonjol bagi Root adalah perubahan cara berpikir yang dibentuk untuk mendekati pertandingan. Ia menuturkan bahwa tim berusaha “strip the fear away from things”, memastikan pemain merasa mereka bisa menampilkan kemampuan mereka sesering mungkin, bahkan di momen-momen besar. “The more that can happen, the better,” ujar Root.

Lebih dari itu, Root juga menegaskan bahwa tim perlu mampu membaca kapan harus memberi tekanan dan kapan harus mengatur ritme. Ia menyebut perlunya mengenali “when the right time is to put pressure back on teams, or when the right time is to soak it up” serta memainkan situasi secara sedikit berbeda. Menurutnya, langkah itu akan membuat tim “become a little bit smarter in certain areas”.

Di akhir penjelasannya, Root menyimpulkan harapannya terhadap kekuatan tim di bawah kepemimpinan baru. Ia percaya bahwa bila semua elemen tersebut bisa berjalan bersama, Inggris dapat menjadi tim yang sangat sulit dipatahkan dan ditaklukkan. “then I think we’ll be a very formidable team and a very difficult team to break down and to beat.”