jurnalistik.co.id – Laga Norwegia vs Inggris di perempat final Piala Dunia 2026 mempertemukan dua tim yang sama-sama mengejar langkah menuju semifinal pada Minggu (12/7/2026) pukul 04.00 WIB. Pertandingan ini digelar di Miami dan sekaligus menghidupkan kembali rivalitas yang sudah terbentang nyaris 90 tahun.
Inggris datang dengan status salah satu favorit juara, sementara Norwegia berangkat dengan ambisi meneruskan “kisah kejutan” yang mereka jalani di Amerika Serikat, Kanada, dan Meksiko. Dari sisi sejarah pertemuan, The Three Lions memang lebih sering menang.
Namun, jika melihat catatan head to head, Norwegia tidak datang tanpa cerita berharga. Ada momen-momen yang mengubah persepsi dan membuat pertemuan keduanya selalu menyisakan ruang untuk kejadian tak terduga.
Sejarah Pertemuan: Inggris Lebih Dominan
Secara keseluruhan, dari 12 pertemuan sebelumnya, Inggris mencatat tujuh kemenangan, sedangkan Norwegia meraih dua kali menang. Tiga laga lainnya berakhir imbang, sehingga keunggulan Inggris terlihat cukup konsisten dari waktu ke waktu.
Dominasi Inggris bahkan sudah terlihat sejak pertemuan awal kedua negara. Laga pertama mereka berlangsung pada 14 Mei 1937, ketika Inggris menghajar Norwegia dengan skor 6-0 di kandang lawan.
Setahun berselang, Inggris kembali mengunci kemenangan telak, kali ini dengan skor 4-0 dalam laga persahabatan di London. Dua hasil itu menjadi fondasi awal bagaimana Inggris tampil lebih cepat dan lebih kuat dalam duel antarkedua tim.
Pasca Perang Dunia II: Tren Kemenangan Tetap Berlanjut
Setelah Perang Dunia II, pola keunggulan Inggris tidak serta-merta hilang. Pada 1949, Inggris menang 4-1 atas Norwegia, lalu pada 1966 giliran Inggris kembali meraih kemenangan 6-1.
Di laga 1966 tersebut, Jimmy Greaves tampil sebagai bintang dengan mencetak empat gol. Pencapaian itu juga disebut terjadi hanya beberapa pekan sebelum Inggris menjuarai Piala Dunia 1966, sehingga relevan dengan periode kuat sepak bola Inggris pada era tersebut.
Rangkaian kemenangan yang panjang membuat pertemuan kedua tim sejak awal cenderung berujung pada hasil yang menguntungkan Inggris. Meski begitu, dalam sejarah yang sama, Norwegia tetap pernah menorehkan dua kemenangan yang sampai kini dikenang.
Berita Terkait
Dua Kemenangan Bersejarah Norwegia
Kemenangan pertama yang sangat diingat terjadi pada fase kualifikasi Piala Dunia 1982. Saat itu, Norwegia memulai perjalanan dengan hasil yang jauh dari harapan, setelah kalah 0-4 dari Inggris di Wembley pada 1980.
Berikutnya, Norwegia membalas dengan cara yang mengejutkan. Setahun setelah kekalahan tersebut, mereka meraih kemenangan 2-1 di Oslo, sekaligus mengubah arah narasi pertemuan.
Kemenangan kedua juga mempertegas bahwa Norwegia mampu tampil di luar ekspektasi ketika menghadapi Inggris. Walau rekor keseluruhan tetap condong ke The Three Lions, dua hasil ini menjadi pembuktian bahwa Inggris tidak pernah benar-benar kebal terhadap kebangkitan tuan rumah.
Momen Ikonik dari Komentator Norwegia
Laga Norwegia yang menang 2-1 di Oslo tersebut juga dikenang karena sebuah komentar legendaris dari penyiar Bjorge Lillelien. Ia berteriak, “Maggie Thatcher, can you hear me?”, setelah Norwegia mengalahkan Inggris.
Kutipan itu kemudian melekat sebagai simbol euforia dan tekanan yang dilewati Norwegia dalam pertandingan bersejarah tersebut. Di titik inilah rivalitas kedua tim terasa lebih dari sekadar angka-angka head to head, karena ada momen emosional yang terukir dari peristiwa nyata di lapangan.
Perjumpaan di perempat final Piala Dunia 2026 menjadi pengingat bahwa sejarah bisa saja memihak Inggris, tetapi sepak bola tetap memberi ruang untuk kejutan. Apalagi, pertemuan resmi antara kedua negara di panggung besar seperti ini biasanya membawa tekanan baru yang berbeda dari pertemuan sebelumnya.
Terakhir, disebutkan bahwa pertemuan Norwegia vs Inggris kali ini menjadi perjumpaan pertama sejak laga persahabatan pada 2014. Artinya, meski catatan panjang sudah dibukukan, duel di Miami menghadirkan konteks yang benar-benar baru bagi kedua tim.
Dengan Inggris sebagai favorit, Norwegia akan berusaha memanfaatkan setiap momentum untuk mengubah arah pertandingan. Di sisi lain, Inggris dituntut menjaga ritme permainan agar catatan dominasi tidak kembali terganggu oleh satu malam yang tak terduga—seperti yang pernah terjadi pada Norwegia dalam kemenangan 2-1 di Oslo.
Pada akhirnya, pertandingan perempat final ini bukan hanya soal siapa lebih banyak menang dalam rekor pertemuan. Ia juga tentang apakah sejarah panjang itu bisa dipertahankan, atau justru menjadi latar bagi babak berikutnya yang menambah daftar kejutan bersejarah Norwegia atas Inggris.












