jurnalistik.co.id – Menjelang magrib, aktivitas Gunung Anak Krakatau (GAK) kembali terekam menunjukkan erupsi yang masih fluktuatif. Berdasarkan laporan Badan Geologi Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM), kolom abu terpantau masih tampak dan pergerakannya mengarah ke barat laut.
Erupsi terjadi pada pukul 17.10 WIB pada Sabtu (11/7/2026). Letusan itu memunculkan kolom abu sekitar 200 meter di atas puncak.
Kolom abu teramati berwarna kelabu dengan intensitas yang tergolong tebal, kemudian bergerak ke arah barat laut. Pengamatan ini sejalan dengan data instrumen yang menunjukkan aktivitas terekam pada seismograf.
Menurut laporan tersebut, erupsi pada waktu itu memiliki amplitudo maksimum 49 milimeter. Durasi kejadian tercatat sekitar 1 menit 5 detik, berlangsung lebih lama dibanding beberapa letusan yang tercatat dalam beberapa hari sebelumnya.
Kondisi dan status siaga
Kepala Pos Pengamatan Gunung Anak Krakatau di Desa Hargo Pancuran, Kecamatan Rajabasa, Lampung Selatan, Andi Suwardi, menyampaikan bahwa erupsi yang berulang menandakan gunung api belum keluar dari fase aktifnya. Ia menegaskan, meski aktivitas muncul kembali, hasil evaluasi Badan Geologi hingga saat itu tidak mengubah tingkat aktivitas.
“Erupsi yang terjadi masih merupakan bagian dari dinamika aktivitas Gunung Anak Krakatau. Hingga saat ini statusnya tetap Level III atau Siaga, sehingga masyarakat diminta tetap mematuhi rekomendasi yang telah ditetapkan,” kata Andi pada Sabtu (11/7/2026).
Andi juga menjelaskan pemantauan dilakukan terus-menerus untuk memastikan setiap perubahan aktivitas dapat segera dianalisis, baik lewat pengamatan visual maupun instrumen kegempaan. Ia menambahkan bahwa setiap letusan dapat memiliki karakter yang berbeda, termasuk tinggi kolom abu, durasi, serta arah sebarannya.
“Setiap letusan memiliki karakter yang berbeda, baik dari tinggi kolom abu, durasi, maupun arah sebarannya. Semua parameter tersebut menjadi dasar evaluasi aktivitas gunung dan terus kami laporkan secara berkala,” ujarnya.
Berita Terkait
- Evi Mentari (37), PMI Asal Sukabumi, Meninggal di Arab Saudi karena Tumor Otak—Keluarga Mohon Pemulangan Jenazah
- Anak Krakatau (GAK) Kembali Erupsi setelah Lama Mereda, Ini Gejala Awal yang Terlihat
- Kota Tua Bidik 30.000 Pengunjung Lewat Festival “Desa Konoha”, Ada Cosplayer Naruto hingga PUBG
Imbauan keselamatan
Di saat aktivitas masih berlangsung, Andi mengingatkan agar masyarakat tidak menganggap erupsi yang berulang sebagai kondisi yang sudah biasa. Ia menekankan pentingnya keselamatan bagi semua pihak yang beraktivitas di sekitar Selat Sunda.
Andi mengimbau nelayan, wisatawan, maupun pelaku jasa wisata agar tidak mendekati kawasan Gunung Anak Krakatau dalam radius tiga kilometer dari kawah aktif. Ia juga menyatakan informasi resmi dari Badan Geologi harus menjadi rujukan utama dalam setiap aktivitas di sekitar wilayah tersebut.
Ia menegaskan bahwa pemantauan dilakukan sejak status Gunung Anak Krakatau dinaikkan menjadi Level III (Siaga) pada 2 Juli 2026. Sejak keputusan itu, petugas Pos Pengamatan Gunung Anak Krakatau di Desa Hargo Pancuran melakukan pengamatan selama 24 jam.
Dalam beberapa hari terakhir, pola erupsi tetap memperlihatkan kejadian yang berulang. Pada Jumat (10/7/2026), misalnya, gunung api tercatat mengalami lima kali erupsi, dengan kolom abu tertinggi mencapai 250 meter di atas puncak.
Sementara pada Sabtu sore, erupsi kembali terjadi dan menegaskan aktivitas vulkanik masih berlangsung serta memerlukan kewaspadaan masyarakat. Hingga Sabtu petang, Badan Geologi mempertahankan Status Level III (Siaga) dan rekomendasinya tetap sama.
Rekomendasi yang disampaikan masih menekankan agar masyarakat tidak melakukan aktivitas dalam radius tiga kilometer dari kawah aktif. Selain itu, masyarakat diminta mengikuti perkembangan informasi melalui kanal resmi pemerintah dan Badan Geologi sesuai ketentuan yang berlaku.
Dalam kejadian terbaru tersebut, arah sebaran kolom abu yang mengarah ke barat laut dipadankan dengan indikasi aktivitas pada data instrumen, sehingga evaluasi tidak hanya bertumpu pada pantauan visual. Perubahan ketebalan kolom juga menjadi salah satu sinyal yang terus dicermati oleh petugas.
Sejak peningkatan status menjadi Level III pada 2 Juli 2026, pengawasan berlangsung selama 24 jam di Pos Pengamatan Gunung Anak Krakatau. Dengan pola erupsi yang berulang dalam beberapa hari terakhir, masyarakat diimbau tetap konsisten menjadikan imbauan resmi Badan Geologi sebagai rujukan, terutama terkait larangan aktivitas di sekitar kawah dalam radius tiga kilometer.












