jurnalistik.co.id – Di Birmingham, sprinter Amy Hunt membawa sorotan ke lintasan tidak hanya lewat kecepatan, tetapi juga lewat tampilan yang ia rancang sendiri sebelum turun bertanding. Ia mengaku nail art dan gaya glamnya menjadi bagian dari rutinitas yang membantu memupuk mental saat kompetisi berlangsung.
Hunt yang kini telah mengamankan dua medali emas di Kejuaraan Atletik Eropa itu menilai “glam” punya peran nyata dalam cara pikirnya. Ia menyebut, “the glam definitely helps that mentality because sprinting is such a confidence game”.
Ia juga menegaskan rasa suka terhadap pernak-pernik tersebut bukan sekadar tren. “Everyone knows I love a bit of glam and I love my nails.”
Atlet berusia 24 tahun kelahiran Midlands itu berpeluang mengukir pencapaian bersejarah di ajang pekan ini, dengan target meraih kemenangan beruntun dalam bentuk “quadruple win”. Menurutnya, momen merapikan diri dan menata penampilan masuk ke dalam proses masuk ke “mode” kompetisi.
Di Birmingham, Hunt menempatkan karakter lokal ke setiap detail kuku yang ia buat. Ia mengaitkan nail art-nya dengan landmark kota tempat Kejuaraan Atletik Eropa digelar, termasuk referensi ke Jewellery Quarter dan Bull Ring.
Ia menggambarkan “looking good and feeling good” sebagai bagian dari persiapan mental. Ia juga membandingkan langkah keluar menuju lintasan dengan gladiator yang memasuki arena, karena baginya momen tampil adalah bagian dari panggung yang harus dinikmati.
“It’s a show at the end of the day,” ujarnya. Dengan sudut pandang itu, tampilan bukan sekadar aksesori, melainkan pemicu keyakinan sebelum start.
Pola mengekspresikan diri lewat nail art rupanya bukan praktik baru di dunia atlet. Selain Hunt, sejumlah atlet lain juga dikenal dengan desain kuku yang menonjol saat tampil, termasuk Keely Hodgkinson, Sha’Carri Richardson, dan Noah Lyles.
Dalam catatan sejarah olahraga, kebiasaan tampil dengan gaya yang berani juga pernah diasosiasikan dengan Florence Griffith Joyner, yang dikenal sebagai Flo-Jo. Ia sering disebut sebagai perintis saat berlaga dengan kuku panjang dan berwarna terang pada era 1980-an.
Di sisi seni kuku, pendapat serupa datang dari nail artist berbasis London, Jess Young. Young meyakini mendesain kuku bisa menjadi cara tambahan agar orang merasa aman dengan dirinya, “comfortable and confident”.
Ia menambahkan bahwa nail design juga memberi ruang ekspresi pribadi. Young menjelaskan perbedaannya dibanding perlengkapan tim, karena dalam satu tim atlet biasanya harus memakai perlengkapan yang seragam, tetapi kuku memberi “lebih banyak” ruang untuk tetap individual.
Young berkata, “Within a team everyone has to wear the same kit, but I think what’s so special about getting your nails done is that you can be a lot more individual with it”. Menurutnya, kebebasan itu muncul karena desain kuku tidak harus tunduk pada aturan seragam yang sama ketatnya.
Berita Terkait
Ia menambahkan, “Because you can do whatever you want on your nails, it doesn’t have to be so ruled in terms of having a certain uniform.” Young lalu menilai hal tersebut memungkinkan atlet merasakan bentuk “self-liberation”, dengan kalimat, “I think that allows athletes to have a little bit more self-liberation.”
Selain soal identitas, Young juga menekankan aspek jeda personal. Ia menyebut kegiatan merapikan tampilan dapat menjadi momen yang “very therapeutic”, terutama bagi atlet yang memiliki jadwal padat.
Young berkata, “Athletes have such a busy lifestyle, to be able to take that time to pamper and take care of themselves, I think that also adds to feeling good in your body and feeling confident”.
Gagasan menampilkan kepribadian lewat desain tidak terbatas pada atlet lintasan. Kompetitor dari berbagai cabang, mulai dari gimnasts hingga pesepak bola, juga kerap masuk ke ruang salon.
Young bahkan melihat ini sebagai tanda masa ketika batas antara olahraga dan fashion semakin dekat. Ia menilai, “I think we’re in a time where we’re bridging the gap between sports and fashion,” dan menambahkan bahwa kuku adalah perluasan dari cara berpakaian dan cara atlet memperkenalkan diri saat tampil.
Menurut Young, “I think nails are just an extension of fashion, your sportswear or how you want to present yourself to the world when you are performing, because essentially being an athlete you are also a performer and you’re on stage”.
Pendekatan seperti itu juga tampak pada Hunt. Ia menukarkan anting perak dengan warna emas selama Kejuaraan Eropa, dan mengenakan tiara setelah meraih emas nomor 200 meter pada Kamis malam.
Meski berbeda sudut pandang, mantan sprinter Inggris Adam Gemili melihat “feeling good” sebagai faktor yang bisa menambah tenaga psikologis saat berlomba. Ia menyebut “feeling good” tentang diri sendiri dapat memberi “that necessary extra lift when competing”, dan menambahkan bahwa pria sering memilih “good trim”.
Perspektif lain datang dari Hannah East, psikolog olahraga yang sedang menjalani pelatihan dan bekerja dengan atlet untuk meningkatkan performa. East menyetujui hal-hal semacam ini bisa membantu, tetapi menekankan hubungan tersebut lebih bersifat tidak langsung.
Ia menjelaskan, “If you have a good appearance, you might feel more confident, you might feel more like yourself, more comfortable”. Lalu ia menambahkan kaitan lanjutan pada kondisi mental saat kompetisi dengan, “And that can lead to a change in emotion, a change in your behaviour, maybe your self-esteem, and those psychological states are what we then see increasing your performance.”
Namun East juga mengingatkan soal dampak industri dan komersialisasi estetika dalam olahraga. Ia menilai monetisasi tampilan adalah “definitely a factor to consider” dan menyebut hal itu “really crucial” untuk diperhatikan, karena “might play a role in reinforcing and creating that idea that we need to look a certain way if we’re going to compete”.
Karena itu, East menekankan atlet perlu memastikan pilihan gaya dan tampilan tersebut bekerja untuk dirinya sendiri. Hunt menyuarakan prinsip yang sejalan, dengan kalimat bahwa “athletes need to be remembering it needs to be something that works for them”.
Ia melanjutkan, “What might work for one person isn’t going to work for someone else.” Bagi Hunt, kuncinya adalah kejelasan atas apa yang membuatnya nyaman saat bersaing: “So just making sure that you’re really clear on what works for you.”












