Olahraga

Awal Premier League Dinilai dari Expected Goals (xG): Tim yang Melampaui dan Tertinggal

×

Awal Premier League Dinilai dari Expected Goals (xG): Tim yang Melampaui dan Tertinggal

Sebarkan artikel ini
Ilustrasi: How Premier League teams have really started - according to expected goals

jurnalistik.co.id – Analisis expected goals (xG) memberi gambaran bagaimana klub-klub Premier League benar-benar memulai musim, jauh melampaui sekadar posisi klasemen di minggu-minggu awal.

Pada titik seperti ini, hasil pertandingan memang belum cukup untuk langsung dijadikan patokan besar. Meski begitu, xG membantu menunjukkan siapa yang lebih mendominasi permainan lewat kualitas dan kuantitas peluang tembak—termasuk bagaimana tim seharusnya bertahan sebelum faktor penyelesaian akhir dan keberuntungan bekerja.

Secara konsep, xG menilai performa berdasarkan tembakan yang dibuat dan tembakan yang dihadapi. Setelah itu, peran penyelamatan kiper, finishing, serta “nasib” tetap ikut berpengaruh pada hasil akhir di lapangan.

Karena sampelnya masih kecil dan jadwal tiap tim tidak selalu seragam, pendekatan xG juga sebaiknya dipahami dengan kewajaran. Namun, sejarah Premier League menunjukkan pola yang menarik: tim yang tampak lebih mendominasi jalannya pertandingan biasanya lebih konsisten mengumpulkan poin dalam perjalanan panjang musim.

Untuk mengurangi distorsi, analisis ini mengarahkan fokus pada situasi tanpa penalti. Alasan utamanya sederhana: keputusan wasit dan momen kelengahan pertahanan dapat menciptakan gambaran yang tidak selalu mencerminkan kualitas serangan dan pertahanan sesungguhnya.

Tim yang tampil lebih baik dari gambaran hasil

Juara Arsenal justru tetap menempati posisi teratas dalam gambaran “xG difference” pada fase awal. Bahkan setelah mengalami kekalahan terbesar mereka dalam tiga tahun di pertandingan sebelumnya melawan Brighton, Arsenal dinilai sebagai tim terbaik secara keseluruhan berdasarkan selisih xG.

Manchester City berada tidak jauh di belakang Arsenal dalam hal dominasi yang ditangkap oleh indikator xG. Sementara itu, Brentford juga menonjol karena start yang impresif serta belum terkalahkan, tanpa terlihat ada keberuntungan yang berlebihan di balik performa tersebut.

Di sisi lain, Manchester United sering terlihat seperti “naik-turun” antara momen yang lebih subur dan periode yang lebih mandek. Meski begitu, secara xG mereka tidak benar-benar terlihat buruk seperti yang mungkin ditangkap dari cerita hasil.

Menjelang awal musim ini, hanya tiga tim yang memiliki xG difference lebih tinggi sejauh ini dibanding Manchester United. Ini menempatkan Setan Merah dalam kelompok yang relatif kuat dari sisi bagaimana permainan mereka seharusnya berujung pada hasil.

Klub-klub seperti Nottingham Forest dan Bournemouth juga dinilai lebih baik daripada yang tersirat oleh posisi mereka di klasemen awal. Dengan kata lain, tampilan angka menunjukkan ada kualitas yang belum sepenuhnya diterjemahkan menjadi poin.

Tim yang tertinggal dalam xG

Di bagian bawah, Aston Villa, Crystal Palace, dan Newcastle muncul sebagai tim dengan performa paling kurang meyakinkan berdasarkan gambaran keseluruhan xG. Menariknya, untuk Newcastle ini terasa sedikit lebih mengejutkan karena mereka berada di paruh atas tabel.

Meski masih terlalu dini untuk panik, kondisi itu menandakan ada ruang perbaikan yang cukup besar. Villa, misalnya, pernah menunjukkan kemampuan untuk bangkit setelah start yang pelan pada musim sebelumnya dengan akhirnya finis di posisi keempat.

Namun, ada satu catatan yang ikut menambah kewaspadaan bagi tim-tim mapan. Tim promosi terlihat tidak mau menyerah, dengan Hull dan Ipswich sama-sama membuat awal yang solid dalam kampanye.

Serangan: siapa yang paling tajam dari peluang yang tercipta

Kalau melihat jalannya permainan ke depan, Brighton tampil sebagai pemilik serangan terbaik sejauh ini. Urutannya disusul oleh Manchester City, Brentford, dan Manchester United—sebuah rangkaian yang menunjukkan bahwa dominasi permainan memang terlihat pada kualitas peluang.

Walaupun Arsenal terkenal dengan kekuatan bertahan, angka xG tetap menghadirkan kejutan. Tercatat ada delapan tim yang punya xG lebih tinggi dari Arsenal, sementara Liverpool dan Chelsea berada di kisaran papan tengah dalam penilaian tersebut.

Brighton tidak hanya menghasilkan peluang dengan volume dan kualitas yang baik, tetapi juga termasuk yang paling “kejam” di depan gawang. Mereka mencetak 15 gol non-penalti dari 10,7 xG.

Tim yang bahkan lebih klinis dibanding Brighton adalah “Magpies”—julukan Newcastle. Uniknya, Newcastle justru memiliki xG terendah di liga pada fase awal ini, tetapi penyelesaian akhir mereka lebih efektif dibanding gambaran peluang.

Newcastle mencetak dua kali lebih banyak gol dibanding angka historis yang biasanya lahir dari peluang yang mereka miliki, yakni 9 gol dari 4,5 xG. Dengan begitu, pelatih Matthias Jaissle jelas akan berharap timnya tetap menciptakan peluang yang lebih baik, agar tidak semata bergantung pada finishing yang tajam sepanjang musim.

Sebaliknya, beberapa tim dinilai “kurang mengambil” keuntungan dari peluang. Coventry, Sunderland, Nottingham Forest, dan Tottenham sama-sama mencetak tiga gol lebih sedikit dari yang seharusnya berdasarkan peluang yang mereka miliki pada lima pertandingan pertama.

Hal itu bisa berarti ada persoalan murni dalam penyelesaian akhir, atau bisa juga sekadar perubahan keberuntungan yang akan bergeser di laga-laga berikutnya. Pada fase awal, keduanya tetap mungkin terjadi, dan angka xG membantu memisahkan kemungkinan tersebut.

Komponen bertahan: fondasi yang terlihat jelas

Kembali ke karakter bertahan, Arsenal tetap menampilkan lini belakang terbaik di liga. Bahkan setelah kekalahan besar dari Brighton, gambaran pertahanan Arsenal masih terlihat paling kuat dalam penilaian xG.

Di tempat lain, upaya membangun fondasi bertahan mulai tampak pada beberapa tim. Oliver Glasner bersama Forest punya pekerjaan untuk meningkatkan kemampuan mencetak gol, tetapi ada dasar yang sudah terbentuk di sisi pertahanan.

Andoni Iraola di Liverpool juga menunjukkan pola yang mirip: ada fondasi yang solid di belakang yang bisa dijadikan pijakan. Sementara itu, di “ibukota” permainan, Crystal Palace, Fulham, dan Chelsea justru dinilai terlalu terbuka di sektor belakang.

Meski begitu, Chelsea versi Xabi Alonso tidak sesuram yang tampak dari angka 12 gol yang sudah mereka kebobolan. Penilaian xG memberi nuansa bahwa performa pertahanan tidak sepenuhnya sejauh yang ditunjukkan oleh hasil akhir semata.

Brighton yang menonjol di serangan mengalami konsekuensi di pertahanan. Mereka tampil tidak selalu solid, dan tim Fabian Hurzeler tampak sedikit bernasib baik karena tidak kebobolan lebih sering.

Everton dan Leeds juga menunjukkan pola yang menarik: keduanya kebobolan tiga gol lebih sedikit daripada perkiraan berdasarkan peluang yang dihadapi. Walau begitu, baik Everton maupun Leeds tetap masuk dalam kelompok tim yang relatif kuat secara keseluruhan dalam bertahan.

Dengan baru lima pertandingan, kesimpulan yang benar-benar final memang belum layak dipakukan. Namun, angka-angka yang muncul dari xG sudah memberikan sinyal awal tentang arah permainan tiap tim, termasuk siapa yang tampak bisa melaju lebih jauh dan siapa yang berpotensi perlu peningkatan cepat.