Olahraga

Gianni Infantino: Politik, jet pribadi, dan pengaruh—dinamika hidup Presiden FIFA

×

Gianni Infantino: Politik, jet pribadi, dan pengaruh—dinamika hidup Presiden FIFA

Sebarkan artikel ini
Ilustrasi: Gianni Infantino: Politicians, private jets and power - the life of a Fifa president

jurnalistik.co.id – Gianni Infantino mendarat di Cali dan disambut di landasan oleh Presiden Federasi Sepak Bola Kolombia, Ramon Jesurun. Dalam foto yang kemudian dibagikan melalui akun Instagram federasi, keduanya tampak saling tersenyum sebagai bentuk dukungan yang sengaja ditampilkan.

Kunjungan itu tidak diarahkan untuk agenda pertemuan biasa. Infantino datang untuk menghadiri pelantikan presiden baru Kolombia, Abelardo de la Espriella.

Di rombongannya, Infantino juga dibarengi Alejandro Dominguez, presiden badan sepak bola konfederasi Amerika Selatan, Conmebol. Keberadaan pejabat regional itu menegaskan bahwa perjalanan kali ini tetap dibaca dalam konteks relasi politik dan jaringan kekuasaan, bukan sekadar urusan teknis turnamen.

Dalam narasi yang membayangi masa kepemimpinannya, perjalanan semacam ini dipandang sebagai “kehidupan seorang presiden FIFA” yang kerap menuntut kedekatan dengan figur-figur berpengaruh. Hubungan Infantino dengan Presiden AS Donald Trump sering disebut sebagai salah satu contoh yang paling menonjol.

Namun, gambaran tersebut ikut berubah setelah rencana investasi swasta Piala Dunia yang gagal memicu skandal besar pada periode terbarunya. Infantino disebut sempat meminta maaf, menyatakan keinginannya bertahan menghadapi gelombang kritik atas rencana menjual saham di Piala Dunia putra kepada perusahaan private equity.

Meski tampak berupaya kembali ke ritme normal, ancaman boikot dari UEFA tetap berdiri. Pengujian terhadap ketegangan itu diperkirakan akan segera terlihat ketika Piala Dunia U-20 di Polandia tinggal 29 hari lagi dari jadwal kick-off.

Jika dukungan dari luar Eropa membuat Infantino merasa lebih percaya diri, ia disebut tidak berniat mundur dengan mudah. Pertanyaan besarnya sekarang bukan hanya soal politik di luar lapangan, melainkan juga seberapa jauh otoritas FIFA mampu bertahan menghadapi tekanan yang datang dari badan Eropa.

Perjalanan “presidensial” dan peran yang menuntut kedekatan

Awal pekan ini, rombongan Infantino masuk ke kantor pusat FIFA di Rabat, Maroko, menggunakan rangkaian mobil Mercedes yang diblokir pandangannya, dengan pengawalan mobil polisi. Konvoi itu hadir saat ia memanggil sejumlah kecil anggota dewan manajemen FIFA untuk membahas rencana menjual 21% bisnis komersial dan tiket kepada sebuah perusahaan private equity.

Gaya mobilisasi itu juga disebut berkaitan dengan jet eksekutif Qatar Airways yang disediakan untuknya. Dengan pesawat tersebut, Infantino disebut bisa melakukan hingga tiga penerbangan dalam sehari dan menyaksikan dua pertandingan sepanjang gelaran Piala Dunia 2026.

Selain fungsi logistik, pola perjalanan ini dipandang memberi kesan seperti kepala negara lebih dari sekadar pimpinan organisasi olahraga. Dalam perannya, Infantino diharapkan mengunjungi 211 negara anggota, meninjau proyek akar rumput yang didanai FIFA.

Upaya untuk menyatukan sepak bola tidak dianggap bisa dilakukan hanya dari kantor FIFA di Zurich. Karena itu, ia perlu menghadiri pertemuan-pertemuan konfederasi dan mengikuti dinamika turnamen global yang diselenggarakan FIFA, sekaligus membangun hubungan dengan pejabat dan politisi di berbagai wilayah.

Di sisi lain, ada pula catatan permintaan pengawalan setara kepala negara yang ditolak. Menjelang kongres FIFA di Vancouver, otoritas lokal menolak permintaan konvoi tingkat empat yang biasanya disediakan bagi kepala negara atau Paus, dan polisi Selandia Baru menyebut penolakan serupa terjadi saat Piala Dunia Wanita 2023.

Infantino juga memperoleh kompensasi yang besar. Gajinya disebut meningkat menjadi sekitar £4 juta, dengan gaji dasar £2,2 juta dan bonus variabel yang dikonfirmasi sebesar £1,8 juta. Angka tersebut dibandingkan dengan gajinya sekitar £1,3 juta sepuluh tahun lalu setelah ia terpilih pada 2016.

Pendahulunya, Sepp Blatter, menerima paket sebesar £2,6 juta untuk tahun terakhirnya sebagai presiden FIFA. Di luar itu, Infantino juga disebut menerima “per diem” untuk menutup biaya dan kebutuhan hidup senilai £20.500 per tahun di atas gaji.

Kedekatan politik, kontroversi, dan posisi terhadap boikot UEFA

Keberpihakan yang kerap dikaitkan dengan Donald Trump ikut dianggap mengangkat status Infantino di mata sebagian pihak, meski membuat sebagian lain merasa tanggung jawab sepak bola dipinggirkan. Pada Mei 2025, Infantino melakukan tur diplomatik Timur Tengah bersama Trump dan terlambat dua jam saat kongres FIFA di Paraguay.

UEFA menuding Infantino memprioritaskan “kepentingan politik pribadi” dan bahkan menggelar walk-out. Selain itu, ada pula pemberian Fifa Peace Prize kepada Trump beberapa minggu sebelum AS menginvasi Venezuela untuk menjatuhkan Presiden Nicolas Maduro dan melancarkan serangan udara ke Iran.

Di tengah kritik, komite etik FIFA tidak disebut menanggapi keluhan soal netralitas politik Infantino terkait penghargaan tersebut. Infantino juga sempat tampil mengejutkan pada pertemuan perdana “Board of Peace” milik Trump, yang dibentuk untuk mengawasi rekonstruksi Gaza, dan Komite Olimpiade Internasional menyatakan aturan netralitas politiknya tidak dilanggar.

Kontroversi lain yang kembali menajamkan isu kedekatan politik datang saat striker AS Folarin Balogun lolos dari larangan setelah ia menerima kartu merah di Piala Dunia. Langkah itu dinilai tidak biasa oleh FIFA, sementara Trump menyatakan ia secara pribadi menghubungi Infantino agar kartu merah tersebut ditinjau ulang, meski Infantino menegaskan keputusan berada pada badan independen.

Pada akhir pekan Piala Dunia, Trump dan Infantino juga disebut tampil bersama di Trump Tower, New York. Trump kemudian mengatakan ia telah menelepon presiden FIFA yang “mengambil keputusan hebat lainnya”. Puncak dari rangkaian hubungan yang dibawa ke dalam arus kebijakan FIFA juga terkait Fifa Forward Enterprise, yang private investor-nya disebut berhubungan dengan pihak keluarga Jared Kushner.

Menjelang sorotan yang lebih luas, Infantino juga jarang memberi pertanyaan terbuka dari media. Dalam empat tahun terakhir, ia hanya mengadakan dua konferensi pers yang masing-masing berlangsung sekitar satu jam sebelum Piala Dunia, sementara selebihnya pernyataan datang lewat wawancara yang disalurkan kanal resmi FIFA.

Sebelum Piala Dunia, respons Infantino terkait wasit Somalia, Omar Artan, yang ditolak masuk ke AS di Bandara Miami, memunculkan kekhawatiran. Ketika menjawab isu itu, ia mengatakan “just, you know, chill, relax”. Pada pernyataan Rabu, FIFA disebut menunjukkan sedikit penyesalan, tetapi sekaligus menegaskan bahwa pihaknya tidak akan lagi mentoleransi serangan terhadap integritas, tata kelola yang baik, dan due process.

Daya tarik jabatan presiden FIFA digambarkan kuat, ditandai hanya sedikit presiden permanen yang pernah memegang kursi itu sejak era Stanley Rous. Di luar Eropa, pendapatan rekor yang dicapai Infantino ikut mendanai operasi sepak bola banyak negara anggota, sehingga membentuk loyalitas dan dukungan elektoral.

Meski demikian, kritik di Eropa dan beberapa asosiasi nasional lain menyebut “rekam jejak” terlalu panjang. FIFA dinilai tidak bisa lagi dijalankan sebagai proyek yang otoriter. Dalam manifesto pemilihannya, Infantino juga mendorong perluasan Piala Dunia, dan peningkatan menjadi 64 tim pada 2030 disebut sangat mungkin jika ia memperoleh masa jabatan keempat.

Ada juga rencana perluasan Piala Dunia Antarklub musim panas. Trofi kompetisi disebut diukir dengan penghormatan personal “Inspired by the Fifa president Gianni Infantino”. Alokasi dua Piala Dunia pria berikutnya bahkan disebut membantu memastikan Arab Saudi memperoleh gelaran 2034.

Untuk Piala Dunia musim panas, undian disebut berlangsung meriah dan mewah, dengan Trump dan Infantino menjadi pusat perhatian. Sejumlah pendukung merasa harga tiket terlalu tinggi, sementara sebagian yang bersedia membayar ditolak mendapatkan visa. FIFA kemudian disebut memilih mekanisme pasar sekunder dengan harga tidak dibatasi serta pembagian 30% untuk setiap tiket yang terjual, dan jaksa agung New York serta New Jersey dilaporkan telah mengeluarkan subpoena kepada FIFA untuk menjawab praktik tiketnya.

Di tengah berbagai kontroversi, Infantino pada awalnya diperkirakan tetap terpilih kembali karena dukungan kuat di banyak asosiasi anggota. Bahkan sebelum Piala Dunia, 111 asosiasi disebut sudah menyatakan dukungan untuknya—angka yang cukup untuk memastikan ia terpilih kembali. Kini gambaran itu disebut tidak lagi pasti, seiring dampak dari kegagalan rencana investasi swasta tersebut.

UEFA dipandang melihat momen ini sebagai kesempatan untuk memaksa Infantino mundur. Tetapi kehadirannya dalam pelantikan presiden Kolombia di Cali menunjukkan bahwa proses tersebut bisa sangat sulit dicapai, terutama ketika ia tetap mampu mempertahankan jaringan dukungan di berbagai wilayah.