jurnalistik.co.id – Trent Alexander-Arnold kembali mendapat panggung di tengah lapangan bersama Real Madrid. Namun, perubahan peran itu masih memunculkan perdebatan klasik: ia “dipakai di posisi itu”, atau memang “berkarier sebagai gelandang”.
Dalam laga Liga Champions melawan Inter pada Selasa, Alexander-Arnold tampil di lini tengah untuk membantu kemenangan Madrid dengan skor 2-1. Jose Mourinho menanggapi sorotan tersebut dengan nada tegas, menegaskan bahwa eksperimen ini tidak otomatis mengubah identitas utamanya sebagai pemain bertipe lain.
“He has played midfield with England and Liverpool… but he is not a midfielder,” kata Mourinho setelah pertandingan yang berlangsung sengit itu. Ia juga menyebut performa Alexander-Arnold berjalan sesuai kebutuhan taktis: “He has played very well. He has interpreted what he needed to really well, tactically.”
Mourinho menambahkan, “Both him and Valverde have worked very well at this level.” Dengan kalimat itu, arahnya jelas: penempatan Alexander-Arnold di tengah lapangan dipandang sebagai keputusan yang lahir dari kebutuhan permainan, bukan rencana jangka panjang tanpa batas.
Masuknya dari lini tengah bukan tanpa konteks
Penempatan Alexander-Arnold di tengah lapangan lebih bersifat situasional. Absensi pemain karena skorsing Eduardo Camavinga, Arda Guler, dan Bernardo Silva membuat Mourinho memiliki opsi yang lebih sempit untuk menyusun skuat pada laga tersebut.
Alexander-Arnold mengisi lini tengah bersama Federico Valverde. Meski begitu, penampilannya tidak sepenuhnya mulus sepanjang 90 menit. Ia menciptakan dua peluang, sekaligus melakukan percobaan umpan silang lebih banyak dibanding pemain Madrid lainnya, tetapi tidak berhasil memenangkan duel tekel.
Catatan akurasinya juga tergambar dalam angka: passing accuracy-nya tercatat 83,3%. Ia kemudian digantikan tidak lama setelah Inter memperkecil skor pada menit ke-77, dan momen itu memicu riuh stadion—meski tidak selalu diarahkan kepada Alexander-Arnold sebagai individu, melainkan bisa juga menggambarkan frustrasi atas performa tim.
Ini juga menjadi penanda lain dalam cerita peranannya. Laga tersebut merupakan pertandingan kompetitif pertama di mana Alexander-Arnold dan bek kanan—sekaligus rekan bertipe kanan lainnya—Denzel Dumfries sama-sama menjadi starter. Sebelumnya, keduanya juga pernah memulai bersama pada laga pramusim melawan Fiorentina, tetapi dengan porsi peran berbeda: Alexander-Arnold beroperasi sebagai pemain bertahan di sisi kanan, sedangkan Dumfries bermain lebih maju di area yang sama.
Sejak bergabung ke Bernabeu pada musim panas lalu, Alexander-Arnold menghadapi kesulitan untuk menjadi pilihan utama sebagai full-back kanan. Karena itu, posisi starter memang sering butuh proses. Mourinho terlihat belum memiliki satu kepastian mutlak mengenai siapa full-back kanan yang akan dipakai secara berkelanjutan, dan pola perebutan tempat itu mirip dengan musim sebelumnya ketika Alexander-Arnold harus bersaing agar dapat memulai bersama Dani Carvajal.
Versi baru “gelandang” yang tetap dibatasi batasnya
Berita Terkait
BBC Sport melaporkan Mourinho terkesan dengan pemain berusia 27 tahun itu—bukan hanya dari sisi kualitas bermain, tetapi juga nilai dan fleksibilitas yang ia bawa ke ruang ganti. Di pandangan Mourinho, Alexander-Arnold tidak identik dengan full-back tradisional karena ia punya kemampuan bergerak ke area sentral dan memberi kontribusi dalam serangan dari posisi-posisi yang biasanya dikuasai gelandang.
Mourinho juga menempatkan bagian permainan yang menurutnya menonjol: passing, umpan lambung silang, through balls, serta pengiriman bola untuk situasi bola mati. Dengan elemen-elemen itulah, ia mampu menambah variasi yang dibutuhkan tim saat menghadapi tekanan lawan.
Saat ditanya mengenai sisi kesulitan yang muncul dalam peran tersebut, Mourinho mengakui bahwa posisi di tengah tidak sepenuhnya mudah bagi Alexander-Arnold. Ia menyoroti perbedaan intensitas kerja fisik dan konsekuensi yang datang dari perubahan zona bermain: “He has lost some balls because it is not the same to play in this position compared to at right-back.”
Ia menambahkan, “The intensity of physical work is quite difficult. He has a different engine.” Namun, penekanan Mourinho kemudian beralih kepada komitmen: “He has given 100%. He left the pitch with nothing left to give.” Kalimat itu merangkum kesan bahwa, meski ada keterbatasan, kontribusi yang dituntut tetap dijalankan sampai batas akhir.
Perjalanan Alexander-Arnold bersama timnas: pernah didekatkan, lalu ditarik mundur
Perdebatan mengenai kemampuan Alexander-Arnold di tengah lapangan ternyata tidak muncul pertama kali di Madrid. Di Euro 2024, Gareth Southgate pernah menempatkannya sebagai pemain sentral untuk fase turnamen, tetapi eksperimen tersebut dihentikan setelah hanya dua pertandingan fase grup.
Sementara di Liverpool, rencana permainan Klopp juga sangat bergantung pada kemampuan Alexander-Arnold untuk masuk ke tengah dan menebar umpan, meski berangkat dari starting position sebagai right-back.
Namun, ada momen ketika Alexander-Arnold sempat merasakan atmosfer posisi tersebut dalam konteks yang berbeda bersama timnas. Pada Juni 2023, ia diberi nomor 10 untuk pertandingan kualifikasi melawan Malta, yang dimenangi Inggris 4-0—dan Alexander-Arnold sendiri mencetak gol dari area tengah.
Ketika ditanya apakah ia bisa melihat masa depan di posisi itu, Alexander-Arnold berkata kepada Channel 4: “I haven’t played it too much, but it feels comfortable,” lalu menegaskan, “It feels natural, I will say that. It’s somewhere I can see myself playing.”
Southgate kemudian masih mencoba merangkul ide tersebut selama 12 bulan berikutnya, sebelum pada akhirnya meninggalkan rencana itu setelah Inggris hanya bermain imbang 1-1 dengan Denmark. Dalam laga yang sama, Alexander-Arnold digantikan sebelum melewati batas satu jam pertandingan.
Jadi, ketika Mourinho memutuskan menempatkannya di tengah melawan Inter, sebenarnya ada kesinambungan historis—meski kini Madrid jelas tidak berencana menjadikannya “gelandang penuh” tanpa syarat. Sejalan dengan pernyataan Mourinho, penempatan itu dapat dipahami sebagai keputusan taktis yang efektif pada hari itu, bukan perubahan permanen atas identitas pemain.
Dengan Real Madrid yang mengincar hasil di kompetisi Eropa, pertanyaan berikutnya adalah apakah variabel skuat akan membuka ruang lebih sering untuk Alexander-Arnold di area sentral. Namun, pesan Mourinho terdengar masih sama: ia bisa memainkan peran itu ketika dibutuhkan, tetapi statusnya tetap bukan “not a midfielder.”












