jurnalistik.co.id – Pembuka Liga Champions tengah menempatkan Jose Mourinho pada momen yang sangat spesial: Real Madrid menjamu Inter Milan, hanya berjarak “enam belas tahun” dari kemenangan terbesar Mourinho bersama Nerazzurri.
Senin ini, Mourinho kembali berdiri di area teknis di Santiago Bernabeu, sementara Inter datang sebagai lawan pada pertandingan Selasa pukul 20:00 BST. Bagi Real Madrid, laga ini juga menjadi indikator awal apakah sosok yang kembali ke klub mampu membawa mereka kembali menuju kejayaan Eropa.
“At Real Madrid, I’m going through two different periods,” kata Mourinho, menegaskan bahwa pertemuan melawan Inter tidak akan ia hubungkan dengan bagian cerita sebelumnya. Ia menyebut jeda panjang dan konteks baru sebagai alasan untuk menatap pertandingan dengan cara yang berbeda.
Jejak 2010 di Bernabeu
Enam belas tahun lalu, Mourinho berdiri di Bernabeu dan mengangkat trofi Liga Champions setelah membawa Inter menaklukkan Bayern Munich 2-0 pada final 2010. Itu menjadi kemenangan Liga Champions keduanya setelah bersama Porto pada 2004, sekaligus penutup masa kepemimpinan Mourinho di Inter.
Beberapa hari setelah final tersebut, Mourinho ditunjuk menjadi manajer Real Madrid untuk periode pertamanya. Kini, lebih dari satu dekade tidak berada di kompetisi elite itu, ia kembali hadir di stadion yang sama—namun dengan tanggung jawab yang berbeda, serta harapan agar Real mampu menjalani jalan yang lebih jauh.
Inter sendiri menjadi lawan yang terasa akrab bagi Mourinho. Namun, hubungan personal itu tidak lantas mengubah logika kompetisi: selama pertandingan berlangsung, fokus utamanya tetap pada target kemenangan.
Tekanan Real Madrid dan “closed chapter”
Kembali ke Real Madrid juga berarti kembali pada tuntutan yang telah lama melekat di klub. Saat pertama kali datang pada 2010, brief yang dihadapi jelas: menantang dominasi Barcelona, memenangkan La Liga, dan yang paling utama, mengantarkan Real meraih “10th European Cup”.
Real memang meraih trofi pada periode itu. Mereka mengangkat Copa del Rey pada 2011 dan La Liga pada 2012, sementara tim Mourinho juga mencapai tiga semifinal Liga Champions secara beruntun. Tetapi, jalan menuju gelar Eropa berhenti di tahap yang sama.
Real tersingkir oleh Barcelona pada 2011, kalah dari Bayern Munich lewat adu penalti pada 2012, dan kemudian juga terhenti oleh Borussia Dortmund pada 2013. Mourinho akhirnya meninggalkan klub pada 2013 tanpa menghadirkan trofi Liga Champions yang Real cari.
Menjelang pertemuan dengan Inter, Mourinho menegaskan bahwa ia tidak ingin kisah lama menjadi bayang-bayang untuk pertandingan berikutnya. Ia berkata, “I ended working for Real Madrid in 2013… This is a closed chapter. This match against Inter has nothing to do with the past.”
Ia juga menyinggung kondisi klub yang, menurut penilaiannya, melewati musim yang rumit. Karena itu, stabilitas dinilai menjadi kebutuhan. “What I’ve found at Real Madrid is what I’ve always found here,” ujarnya, sebelum menambahkan, “The best club in the world.”
Mourinho menekankan pengalaman yang ia miliki di Bernabeu—termasuk sisi terbaik dan sisi terberat—sebagai dasar untuk menjaga fokus pada pertandingan yang sedang berjalan. “I’m not thinking about this. I think that I’m the coach of Real Madrid and a Champions League game is going to happen.”
Pada saat yang sama, ia mengakui perlunya fondasi yang lebih stabil setelah periode sulit, sambil menegaskan identitas Real yang menuntut hasil. “Real is Real and at Real Madrid, you have to win,” tambahnya.
Tekanan semacam itu bukan hal baru baginya. Menurut Mourinho, daya tarik Real juga berhubungan dengan pengalamannya memimpin ruang ganti elit, sekaligus pengetahuannya tentang apa yang dibutuhkan untuk memenangkan Liga Champions.
Berita Terkait
Penilaian serupa datang ketika Kylian Mbappe dimintai pendapat apakah Mourinho didatangkan untuk mengembalikan otoritas. Mbappe menyatakan, “Mourinho brings his whole career,” lalu menambahkan, “He is a guy who knows how to win, to have a group around him and he knows about giving motivation to the whole group.”
Uji awal Real dan sikap Mbappe
Namun, persiapan Real sebelum pertandingan Liga Champions tidak berjalan mulus. Mereka kalah dari Real Betis akhir pekan lalu, sebuah hasil yang menurut Mourinho terjadi meski timnya menunjukkan produktivitas serangan yang kuat.
Mourinho menjelaskan, “We lost because we have not been able to translate offensive production into goals.” Kalimat itu menempatkan persoalan pada efektivitas, bukan pada intensitas permainan.
Saat ditanya mengenai kekalahan tersebut, Mbappe memilih untuk tidak bereaksi berlebihan. Ia menekankan tanggung jawabnya langsung pada pencetak gol. “The most important thing is to score goals and that is my responsibility,” ucapnya, sebelum menambahkan, “We are very relaxed.”
Mbappe juga menolak anggapan bahwa dua musim tanpa trofi akan menjadi beban tambahan untuk musim Liga Champions yang baru. Ia berkata, “My experience with Real Madrid says I shouldn’t think too long-term because a lot can change,” dan kemudian menekankan kebutuhan fokus pada momen sekarang: “I want to think how I can be ready now, to help my team to win the game against Inter Milan and to start the Champions League in a good way.”
Inter sebagai ujian pertama—tanpa mengubah logika tujuan
Bagi Mourinho, hubungan dengan Inter tetap terjaga. Ia menyampaikan harapannya agar ia bisa melihat orang-orang dari Inter baik sebelum maupun setelah pertandingan. “I would love to see people from Inter before and after the game,” ujarnya.
Tetapi, ia menegaskan batasnya di hari pertandingan. “But during the game, they won’t see me as a friend,” sambungnya. Mourinho menegaskan arah yang ingin ia jaga: “I want Real Madrid to win. This is football’s nature.”
Sementara itu, Mourinho tidak memposisikan laga ini sebagai penentu langsung musim Liga Champions. Ia mengingatkan bahwa masih ada tujuh pertandingan fase liga setelah ini. “Tomorrow is not especially important as it won’t decide anything. We have seven games and I think us and Inter will qualify and we might meet again in the future,” katanya.
Walau demikian, ia tetap menekankan setiap poin penting. “But every point is important and I’m sure a top team like Inter is trying to get points. We will try to win, of course we will,” tegasnya.
Hadiah penyiram taman: simbol 2010 yang kembali
Menariknya, suasana jelang pertandingan juga dibumbui sebuah kisah. Saat Mourinho meninggalkan konferensi pers, seorang jurnalis Italia berdiri dan menghadiahkannya alat penyiram taman kecil yang dibungkus pita.
Hadiah tersebut merujuk pada semifinal Liga Champions 2010 antara Inter dan Barcelona. Inter akhirnya tetap melaju ke final meski kalah pada leg kedua di Camp Nou. Setelah peluit akhir pertandingan final, Mourinho berlari ke lapangan untuk merayakan bersama para pemain, sementara penyiram di Camp Nou dinyalakan ketika Inter sedang merayakan kemenangan.
Gambar Mourinho yang merayakan saat penyiram menyemprot lapangan kemudian menjadi ikon—sebuah penanda yang melekat pada jejak kemenangan 2010. Lebih dari satu dekade setelah momen itu, Inter tetap dipandang sebagai rintangan pertama dalam upaya Mourinho menciptakan malam-malam Eropa yang serupa, namun dengan warna Real Madrid di depannya.












