jurnalistik.co.id – Valdas Dambrauskas akan berjalan keluar di Old Trafford pada Kamis sebagai pelatih Sabah di Liga Champions. Perjalanan kariernya kembali menemukan titik awal yang hampir dua dekade lalu membawanya masuk ke dunia kepelatihan.
Pelatih asal Lituania itu menilai momen tersebut seperti lingkaran yang selesai pada waktu yang tepat. “This is beyond my imagination,” katanya kepada BBC Sport. “To go through that tunnel on to that pitch.”
Dambrauskas mengingat bahwa ia pernah datang ke Old Trafford saat masih mendampingi anak-anak dalam program sepak bola. Kini ia akan kembali, tetapi kali ini sebagai sosok yang memimpin tim.
Ia juga menyebut kedatangan ke Inggris sebagai peluang besar dalam perjalanan panjangnya. “I’ve been many times to Old Trafford with the kids, and now I’m going to come as a coach,” ujarnya.
Permainan kuis yang mengubah arah
Kisah Dambrauskas tidak lahir dari jalur yang biasa. Ia berawal dari penampilan di versi Lituania acara Who Wants to Be a Millionaire?, lalu menggunakan kemenangan yang tidak ia bayangkan akan menjadi fondasi kariernya.
Pada 2002, ia meraih 4.000 litas (sekitar £725). Dambrauskas menegaskan bahwa bagi dirinya, cerita paling penting bukanlah jumlah uang dari acara televisi itu, melainkan bagaimana langkah setelahnya.
Ia memandang uang tersebut sebagai modal untuk mengikuti kursus dan meraih lisensi kepelatihan. “My idea was somehow I will try to go on these [coaching] courses to gain the coaching badge,” tuturnya.
Menurut Dambrauskas, angka itu setara dengan sekitar enam bulan gaji rata-rata warga Lituania. Meski terdengar kecil, nilai praktisnya justru menentukan arah hidupnya.
Ia juga menertawakan ingatan yang sempat terlupakan. “This is so long ago,” katanya dengan senyum. “A back-in-the-year story that really was forgotten. And now suddenly everybody is speaking about this.”
Delapan tahun kerja keras di London
Dambrauskas tiba di London pada Agustus 2002 saat berusia 25 tahun dengan status visa pelajar dan kemampuan bahasa Inggris yang terbatas. Setelah itu, ia menjalani proses panjang yang ditopang kerja nyata dan berbagai peran di sepak bola.
Ia menghabiskan delapan tahun untuk membangun pengalaman, mulai dari melatih proyek komunitas, berkiprah di klub semi-profesional, hingga terlibat dalam program pengembangan pemain usia muda yang berada di ranah profesional. Di waktu yang sama, ia mengurus dua anak.
Pada 2004, ia mendaftar kursus sports science dan coaching di London Metropolitan University. “I went on every possible course, every possible conference, London Football Coaches Association meetings,” ujarnya, menggambarkan keseriusannya mengejar pengetahuan.
Ia memulai dari aktivitas sukarela lewat Access to Sports Project untuk anak-anak dari kelompok kurang beruntung di Finsbury Park. Dari situ, ia melanjutkan kiprah bersama London Tigers, organisasi komunitas yang mengelola tim dari level junior sampai semi-profesional.
Proses bertahap membawanya hingga dipercaya menjadi pelatih kepala tim pertama di sepak bola non-liga, bersaing di Spartan South Midlands League, serta ikut dalam jalur turnamen seperti FA Cup dan FA Vase. Saat itu, ia juga tercatat sebagai orang Lituania pertama yang memperoleh lisensi kepelatihan UEFA melalui London Football Association.
Dambrauskas menekankan bahwa semua kesempatan ia kejar tanpa menunggu keadaan berubah sendiri. “Everywhere I could go just to gain some information, some knowledge, some extra diploma, extra course. That was very important for me and I took my chances,” katanya.
Langkah masuk klub profesional
Titik baliknya datang ketika Manchester United Soccer Schools memberi kesempatan pada 2004. Ia kemudian menghabiskan lima tahun melatih di program kursus hunian di Inggris dan Eropa.
“I went through three or four interviews. I will be forever grateful to [Foundation chief executive] John Shiels, the way he gave me this chance, because I didn’t have experience,” kata Dambrauskas. Ia juga menyebut suasana di Manchester United Soccer Schools dipenuhi tokoh-tokoh besar yang membuatnya berkembang.
Setelah periode singkat bersama Fulham, ia pindah ke Brentford. Dalam fase itu, Dambrauskas memberi sorotan khusus pada pengaruh academy director Ose Aibangee yang menekan batas kemampuan dirinya.
Ia menggambarkan kondisi yang tidak mudah ketika harus menyelaraskan kehidupan rumah tangga dan pekerjaan yang beragam. “I was a gardener, a handyman, doing newspaper rounds at the beginning, also polishing floors in a pub,” ucapnya. “So many jobs. Working in retail, and then as a sports development officer, then a sports development manager, and the central YMCA. I was doing two, three, sometimes four jobs.”
Karier berputar lintas negara hingga 13 trofi
Berita Terkait
Kesempatan untuk menjadi pelatih penuh waktu muncul saat ia memangku tiga pekerjaan sekaligus: di Brentford, di London Tigers, serta sebagai sports development manager. Keputusan itu membuatnya meninggalkan Inggris dan kembali ke Lituania pada akhir 2010.
Klub Ekranas menugaskannya sebagai asisten pelatih tim utama sekaligus pelatih tim cadangan. Setelah empat tahun, ia naik posisi menjadi manajer Zalgiris Vilnius, klub terbesar di Lituania.
Di sana, karier Dambrauskas benar-benar menanjak. Ia meraih dua gelar liga, tiga Piala Lituania, serta dua Piala Super Lituania dalam tiga musim, termasuk treble pada 2016.
Sesudah itu, ia menjalani rangkaian perpindahan yang membuatnya memimpin delapan tim dalam sembilan tahun di tujuh negara. RFS menjadi awal bersama trofi Piala Latvia, lalu ia melangkah ke Gorica di Kroasia.
Gelar liga ketiga datang bersama Ludogorets Razgrad dari Bulgaria. Ia menambah Piala Super dan memastikan timnya meraih tiket ke kualifikasi Europa League.
Dambrauskas kemudian kembali ke Kroasia bersama Hajduk Split. Ia menggambarkan periode tersebut sebagai “absolutely amazing” karena klub menjuarai Piala Kroasia, sekaligus menjadi trofi pertama mereka dalam 10 tahun. Setelah itu ia melatih OFI Crete di Yunani, Omonia di Siprus—yang lolos ke Conference League—serta Diosgyori di Hungaria.
Pada musim panas 2025, ia tiba di Sabah sebagai klub kesepuluh dalam kariernya. Di musim pertama, tim itu meraih double gelar liga dan piala, termasuk gelar liga pertama Sabah. Total trofinya bertambah menjadi 13 di lima negara.
Dari kualifikasi dramatis sampai fase grup
Untuk membawa Sabah ke Liga Champions, Dambrauskas melewati empat laga gugur. Timnya bahkan menjadi satu-satunya klub yang berhasil menembus seluruh tahapan dari babak kualifikasi pertama.
Dalam perjalanan tersebut, Sabah menyingkirkan TNS dari Wales, KuPS dari Finlandia, Aarhus dari Denmark, serta Hapoel Beer-Sheva dari Israel. Laga penentu justru memiliki nuansa dramatis yang mirip dengan narasi karier Dambrauskas itu sendiri.
Saat pertandingan kualifikasi terakhir terasa akan berakhir untuk Sabah, gol Tellur Mutallimov pada menit keempat waktu tambahan mengirim pertandingan ke perpanjangan waktu. Sabah kemudian menang 5-2 pada malam itu dan 6-4 secara agregat.
“To go to the Champions League is something beyond imagination,” Dambrauskas mengatakan. “We have never qualified for the Conference League, we have never qualified for the Europa League. We have never passed more than two rounds in a row in one competition, and now suddenly we are here.”
Undian Grup: Dortmund, Barcelona, Napoli, dan perjalanan ke Villarreal
Sabah bermarkas di Masazir, sekitar 30 mil di sebelah utara ibu kota Azerbaijan, Baku, dengan populasi sekitar 19.000 orang. Julukan tim adalah Owls, dan klub ini dibentuk pada 2017 sehingga pada Selasa akan merayakan ulang tahun ke-9.
Stadion Bank Respublika Arena memiliki kapasitas kurang dari 9.000 dan tidak memenuhi regulasi UEFA. Karena itu, Sabah diperkirakan memainkan pertandingan di Olympic Stadium di Baku.
Sabah akan menjadi tuan rumah untuk Borussia Dortmund, Barcelona, dan Napoli. Tim juga dijadwalkan bertandang ke Villarreal serta menghadapi laga-laga di Inggris.
“It can be a very hard draw, and it can be a Sabah draw,” kata Dambrauskas, terlihat jelas antusias. “You dream for this, to play in this competition, to play against those teams. So now is the time to show that you can handle it, to find a way to compete and we will try to do this.”
Ia menambahkan bahwa Sabah memiliki skuat yang kuat dan pemain yang lapar untuk membuktikan diri. “We have a good team, we have an ambitious team, we have hungry players who are really keen to show themselves,” ujarnya.
Dorongan mental yang ditanamkan ke ruang ganti
Presiden Sabah, Magsud Adigozalov, beberapa waktu lalu menilai dampak Dambrauskas tidak berhenti pada strategi taktik. Ia menyatakan pelatih tersebut menanamkan cara berpikir dan mentalitas menang.
“His influence goes beyond tactics,” kata Adigozalov kepada Report. “He has instilled a mindset and winning mentality in the team. Even in the most difficult moments, the team never abandons its game or fighting spirit, which is the result of the coach’s work.”
Dengan rute yang memutar dari London sampai berbagai negara sepak bola, Dambrauskas kini kembali ke tempat kariernya pernah ia bayangkan. Dua puluh tahun lalu, ia menatap lapangan Old Trafford saat salah satu wawancara kerja, bermimpi berdiri di garis pinggir.
Kini, mimpi itu mendekat ke kenyataan. “I lived in England when the battle between Manchester United and Arsenal was the biggest rivalry. Alex Ferguson and Arsene Wenger,” kata Dambrauskas. “Now I’m going to come back as a coach in the Champions League and hear that anthem.”












