jurnalistik.co.id – Kekacauan di hari batas penutupan bursa transfer Everton berakhir memicu kemarahan terbuka dari suporter. Menurut Phil McNulty, situasi itu membuat para pemilik, The Friedkin Group, serta CEO Angus Kinnear kini berada di bawah pengawasan ketat, bahkan dihadapkan pada kemungkinan “pemberontakan” dari tribun. Sumber kegaduhan bermula dari rencana transfer Folarin Balogun, yang di awal pekan diarahkan untuk merapat ke Finch Farm. Proses yang seharusnya menjadi kepastian justru berubah menjadi rangkaian kejadian yang berujung pada keputusan sang penyerang untuk mengakhiri langkahnya tanpa menandatangani kontrak. McNulty menulis bahwa rencana kepindahan Balogun dari AS Monaco senilai ÂŁ40 juta berubah menjadi “farce” pada dini hari Rabu. Keadaan ini muncul setelah kesepakatan awal direvisi menyusul persoalan pada pemeriksaan medis, sehingga pemain memutuskan berjalan keluar dari fasilitas latihan Everton tanpa menyelesaikan penandatanganan. Di atas kertas, semua pihak sebenarnya sudah berada pada titik untuk menyelesaikan transfer. Balogun (25 tahun) dan kedua klub sudah menandatangani “deal sheet” agar proses dapat berjalan setelah tenggat 23.00 BST pada Selasa. Everton bahkan sudah menjadwalkan penerbangan pukul 8 pagi untuk membawa Balogun ke Merseyside, namun pemain tidak bisa tiba sampai kemudian pada hari yang sama. Everton juga ikut frustrasi karena terjadi keterlambatan dokumen terkait dari Monaco. Saat masalah pada medis mulai muncul, Everton mencoba jalur alternatif. Mereka lalu berupaya mendatangkan Joshua Zirkzee dengan status pinjaman dari Manchester United, namun Zirkzee tidak diizinkan untuk dilepas dari Old Trafford. Everton juga mencoba langkah untuk Tammy Abraham dari Aston Villa, tetapi striker itu tidak meneruskan proses karena ia ingin tetap di Villa Park. Setelah upaya lain gagal, kesepakatan akhirnya baru disusun dengan Monaco beberapa menit sebelum batas waktu. Skema itu akan menghasilkan pembayaran di muka yang lebih kecil dan mekanisme pembayaran lanjutan yang terpicu sesuai perkembangan sang pemain, dengan catatan ketentuan personal Balogun tidak berubah. Namun tepat ketika semuanya berada di ambang selesai, Balogun justru berubah pikiran. McNulty menekankan bahwa di momen itulah Monaco memberi keterangan yang menambah tekanan pada Everton. Sporting director Thiago Scuro menyampaikan kepada jurnalis pada konferensi berita Rabu bahwa Balogun tidak nyaman dengan cara Everton memperlakukannya selama proses medis, dengan kutipan: “not comfortable”. Everton, di sisi lain, meyakini mereka mendukung Balogun sepanjang proses, seraya terbuka pada persoalan yang teridentifikasi. Klub juga menyatakan mereka akan bekerja sama dengan Monaco untuk mencari solusi agar transfer tetap bisa diselesaikan. Persoalan tersebut datang pada waktu yang “mempermalukan” Everton, karena semua kejadian berlangsung beberapa jam setelah klub menyetujui langkah striker Beto senilai ÂŁ15.5 juta menuju Fiorentina. Dengan rentetan masalah itu, Everton tidak hanya kehilangan waktu di tenggat, tetapi juga terseret ke narasi bahwa strategi dan operasional klub tampak tidak rapi pada fase paling menentukan. Untuk memperumit gambaran, McNulty menyoroti kontras yang terjadi di hari yang sama. Sementara drama Balogun menguap, Iliman Ndiaye justru menyelesaikan kepindahannya ke Manchester City dengan nilai ÂŁ65 juta. Everton bisa beralasan bahwa keputusan akhir berada pada pemain, namun pertanyaan yang lebih besar tetap menggantung: mengapa berbagai persoalan jangka panjang baru ditangani sampai hari terakhir? Anggota manajemen Everton juga mencoba menawarkan pembingkaian positif. Angus Kinnear, dalam wawancara yang kini dipandang bernasib sial, mengumumkan bahwa skuad Everton berada dalam kondisi “in a good place”. Ia juga menyatakan, “The challenge is we want to get the absolute best player we can in their position. Our metric is that by the close of the transfer window we have achieved that.” Pernyataan itu melengkapi pandangan dari pemilik Amerika bahwa tersingkirnya peluang Eropa musim lalu dianggap sebagai “failure”. McNulty menulis bahwa pandangan “failure” kini diarahkan bukan kepada David Moyes, melainkan kepada pemilik dan Kinnear sendiri. Ia menilai kata-kata itu tidak lagi berdampak pada Moyes, sebab setelah serangkaian kejadian, Everton menyisakan Moyes dengan hasil yang sangat terbatas dalam komposisi skuad. Moyes pada akhirnya hanya memiliki satu striker utama dari Thierno Barry, serta total hanya 18 pemain senior non-kiper. Di sisi lain, Everton memang melakukan beberapa perbaikan skuad yang terlihat positif, tetapi tetap tidak menghapus kesan “malu besar” atas jendela transfer yang berakhir berantakan. McNulty mencatat Everton berhasil mengaktifkan kembali Jack Grealish lewat skema pinjaman dan mengakhiri masalah bek kanan yang sudah lama mengendap dengan mendatangkan Ainsley Maitland-Niles dari Lyon seharga ÂŁ3 juta. Namun proses itu juga tidak berjalan mulus: pengumuman Maitland-Niles diumumkan resmi tak lama setelah tengah malam, menyusul pembatalan rencana sebelumnya untuk mendatangkan Kenny Tete dari Fulham senilai ÂŁ9.4 juta. Rencana itu dibatalkan karena Fulham tidak bisa menemukan pengganti yang dianggap cocok. Jika menilik komposisi, Everton saat ini hanya memiliki satu bek kanan yang diakui dalam diri Maitland-Niles dan satu bek kiri, Vitaliy Mykolenko. Pemain muda Adam Aznou pun dilepas dengan status pinjaman ke Malaga. Bagi McNulty, kondisi ini memperjelas mengapa kemarahan suporter semakin menguat: klub yang bergerak di momen akhir justru terlihat lebih lemah dibanding titik awal jendela transfer. McNulty juga mengingatkan bahwa Everton sempat menghindari satu bencana PR ketika mereka menarik diri dari penjualan Harrison Armstrong ke Nottingham Forest. Armstrong berusia 19 tahun dan dinilai sebagai produk akademi yang paling menjanjikan sejak Wayne Rooney, sehingga keputusan awal menjauhkannya sempat meredakan kritik. Namun, Everton kemudian terseret ke masalah lain yang sama merusaknya—dengan efek domino pada kepercayaan publik. Setelah kemenangan di putaran kedua Piala Liga Inggris atas Preston North End, David Moyes sebelumnya mengatakan bahwa Everton masih membutuhkan penguatan. Ia menyatakan, “I still think we have got a lot of work to do. We need more players. Our squad is not big enough and we need to get more quality in some areas if we can do.” McNulty menilai bahwa kata-kata tersebut jauh lebih bernilai daripada sekadar simbol, apalagi ketika suporter sudah menyalurkan ketidakpuasan secara formal, termasuk melalui petisi agar Kinnear mengundurkan diri. Kemarahan itu juga tampak dalam pernyataan resmi kelompok suporter. “The Everton Fans' Forum” merilis pernyataan panjang yang berisi kritik luas, menyebut skuad Everton tertinggal “dangerously short” pada area-area kunci. Mereka menambahkan bahwa penutupan jendela transfer musim panas ini menyisakan pertanyaan serius bagi pendukung menyangkut perencanaan, rekrutmen, dan pengambilan keputusan: “This is not about demanding that Everton spend recklessly. Supporters understand the financial restrictions the club operates under. We are not demanding marquee signings simply for the sake of it. We are demanding competence, preparation and accountability.” Kelompok “The 1878s” yang selama ini membantu meramaikan stadion baru Hill Dickinson Stadium dengan bendera besar, spanduk, dan tifo juga merespons hari tenggat dengan sikap serupa. Dalam pernyataan, mereka mengatakan akan “standing down for the foreseeable future” sebagai bentuk protes. Mereka juga menegaskan aturan desain bendera: “Like the rest of our fanbase, we are utterly disappointed and disgusted with how this transfer window has gone, especially the end of it.” Mereka menambahkan, “Also for fans asking, just to reiterate – when we design flags, there are rules and regulations that we have to adhere to regarding the wording on our flags during displays, we are not allowed derogatory or offensive wording or images. If we were able to get a load of flags in the ground to show our feelings of discontent, disappointment and anger over this whole situation, believe us, we would, but this is something that simply wouldn't be allowed.” Meski demikian, Everton memang tetap melakukan beberapa rekrutmen lain sepanjang jendela transfer. McNulty menyebut kedatangan Hayden Hackney dari Middlesbrough sebagai PFA Championship Player of the Year. Christian Norgaard didatangkan dari Arsenal, tetapi pemain berusia 32 tahun itu saat ini mengalami cedera tanpa jadwal pemulangan yang pasti. Keanggotaan skuad juga mencakup konfirmasi untuk Merlin Rohl (Jerman) serta Tyrique George (sayap Inggris U-21) yang sebelumnya menjalani masa pinjaman musim lalu. Selain itu, Brennan Johnson tiba dari Crystal Palace melalui pertukaran langsung dengan Dwight McNeil. Namun, semua tambahan tersebut—baik yang terdengar strategis maupun yang sekadar menambah opsi—tertutup oleh fakta bahwa hari batas transfer berakhir sebagai “debacle”. Pada akhirnya, McNulty menilai Everton keluar dari periode ini dengan kondisi yang justru lebih lemah daripada saat mereka memulai. Sejauh tulisan ini, klub belum mengeluarkan pernyataan publik yang menjelaskan rangkaian peristiwa yang memicu kritik tajam, pemberontakan suporter, dan hilangnya kredibilitas di mata publik. Dan meski masih ada ruang untuk memperbaiki hubungan yang retak, apakah itu bisa terjadi dengan cepat dan meyakinkan tetap menjadi tanda tanya besar.
Beranda
Olahraga
Kekacauan hari batas transfer Everton terkait Folarin Balogun bikin The Friedkin menghadapi pemberontakan suporter, menurut Phil McNulty
Kekacauan hari batas transfer Everton terkait Folarin Balogun bikin The Friedkin menghadapi pemberontakan suporter, menurut Phil McNulty
Redaksi7 min baca












