Olahraga

Kilas Foto GP Belanda: F1 Pamitan di Zandvoort

×

Kilas Foto GP Belanda: F1 Pamitan di Zandvoort

Sebarkan artikel ini
Ilustrasi: Dutch Grand Prix in pictures as F1 prepares to say farewell to Zandvoort

jurnalistik.co.id – Balapan akhir pekan ini menjadi momen perpisahan bagi Formula 1 dengan Dutch Grand Prix di Zandvoort. Ini adalah edisi terakhir sebelum seri tersebut turun dari kalender, setelah venue tepi pantai itu akhirnya kembali beraksi dengan dukungan penonton yang luar biasa.

Sejak event kembali pada 2021 setelah jeda 36 tahun, atmosfer Zandvoort nyaris tak terpisahkan dari asap oranye yang menggantung di udara. Warna tersebut terlihat bukan hanya sebagai bagian dari tradisi, melainkan juga pantulan dari tingginya antusiasme yang hadir, terutama saat pembalap Red Bull, Max Verstappen, menjadi figur yang paling sering disorot.

Meski popularitas terus tumbuh, penyelenggara tidak mampu menjalankan balapan ini secara berkelanjutan dari sisi keuangan. Keputusan untuk tidak melanjutkan menjadi tuan rumah F1 akhirnya diambil, menjadikan putaran di Zandvoort sebagai penutup satu bab panjang sejarah Dutch Grand Prix.

Dari 1952 hingga 2025: jejak panjang Zandvoort

Dutch Grand Prix pertama kali digelar sebagai balapan F1 pada 1952. Sejak itu, Zandvoort menjadi panggung beragam momen: dari start yang memadati harapan hingga insiden yang meninggalkan duka bagi dunia balap.

Pada 1963, Jim Clark, Graham Hill, dan Bruce McLaren menjadi tiga nama yang memimpin rombongan saat balapan dimulai. Lima tahun berselang, Clark kembali menjadi pusat perhatian saat ia melaju dengan Lotus pada 1965, menuju kemenangan ketiganya di Zandvoort—sebuah catatan yang melengkapi rekor empat kemenangan di sirkuit tersebut.

Tahun 1969 menyimpan gambaran lain tentang kultur balap di Zandvoort, ketika seorang fotografer berdiri di bagian dalam tikungan pertama, di area yang dikenal sebagai Tarzan. Di balik keramaian dan posisi penonton, momen-momen seperti itu menunjukkan bagaimana balapan ini menarik perhatian bukan hanya pembalap, tetapi juga orang-orang yang bekerja menangkap setiap detik lintasan.

Tragedi yang tak terlupakan

Namun, sejarah Dutch Grand Prix juga memuat peristiwa tragis yang mengubah wajah keselamatan balap. Pada 1970, pembalap Inggris Piers Courage meninggal dunia dalam kecelakaan. Tiga tahun kemudian, nasib serupa menimpa Roger Williamson pada 1973, juga akibat insiden di lintasan.

Di hari yang sama ketika Piers Courage akhirnya berpulang, Sally Courage—sang istri—membaca sebuah novel. Detail itu menegaskan bahwa di balik istilah “balapan”, ada kehidupan pribadi yang ikut terkena dampak dari setiap risiko yang dibawa ajang kecepatan.

Babak kemenangan dan duel

Pada 1975, James Hunt mencatat kemenangan F1 pertamanya di Dutch Grand Prix. Hasil tersebut sekaligus menjadi satu-satunya kemenangan bagi tim privateer Hesketh, yang dikenal dengan pendekatan “work hard, play hard”. Identitas tim itu juga tampak lewat dominasi warna merah, putih, dan biru sebagai nuansa patriotik yang dibawa di sepanjang musim.

Potret orang-orang kunci di Hesketh pada masa itu memperlihatkan figur-fitur seperti Lord Alexander Hesketh selaku pendiri, Hunt, Anthony “Bubbles” Horsley sebagai manajer tim, serta Harvey Postlethwaite sebagai perancang mobil.

Era berikutnya menghadirkan persaingan yang makin tajam. Pada 1977, Niki Lauda dari Ferrari—yang akhirnya menjadi pemenang—berada berdampingan dengan Mario Andretti dari Lotus sebelum balapan berlanjut ke rangkaian duel. Pada balapan yang sama, James Hunt dan Andretti bersenggolan saat berebut posisi di depan, dan Hunt tersingkir seketika.

Di 1979, Gilles Villeneuve mengalami momen yang bahkan sulit dilupakan: roda belakang kiri mobilnya hampir terlepas setelah ia berputar dari posisi memimpin karena ban mengalami tusukan. Ia sempat kembali ke pit, tetapi kerusakan yang terjadi membuat balapan berakhir lebih cepat dari yang diharapkan. Rekaman Villeneuve bergulat dengan mobil yang bermasalah itu disebut sebagai salah satu momen paling sering diputar dari karier sang pembalap asal Kanada.

Villeneuve kembali menorehkan insiden lain pada 1981 saat ia juga berputar di Tarzan. Dua tahun berselang, 1982, Rene Arnoux menjadi pusat perhatian ketika ia mengalami kecelakaan di Tarzan. Penonton berlari mencari perlindungan, karena roda lepas dari Renault-nya ketika mendekati tikungan; Arnoux berakhir seperti penumpang, namun dilaporkan tidak mengalami cedera.

Penutup era lama dan kembalinya F1

Pada 1985, Niki Lauda terlihat memimpin balapan dengan Alain Prost sebagai rekan McLaren di belakangnya. Ini menjadi kemenangan F1 terakhir bagi juara dunia tiga kali tersebut, sekaligus menjadi Dutch Grand Prix terakhir dalam rentang 36 tahun sebelum akhirnya kembali lagi pada era modern.

Ketika Zandvoort kembali ke kalender pada 2021, para penggemar Belanda menyambut Verstappen dengan flare berwarna oranye. Verstappen kemudian memenangkan balapan dan momentum itu beriringan dengan perjalanan menuju gelar juara dunia pertamanya.

Setelah kembalinya venue, Verstappen juga mencatat dominasi yang terlihat di 2022 ketika ia meraih kemenangan, dan laporan tersebut menyebut bahwa ia sempat mengawali tiga balapan pertama Zandvoort secara beruntun pasca-penjadwalan ulang.

Di sisi lain, gambaran balapan di Zandvoort tetap menyisakan ketegangan yang tidak pernah hilang. Pada 2024, Logan Sargeant melompat keluar dari Williams yang mengeluarkan asap setelah mengalami kecelakaan saat latihan terakhir. Kerusakan yang terjadi dilaporkan begitu besar hingga membuatnya tidak bisa mengikuti kualifikasi, dan ia kemudian “dijatuhkan” oleh Williams pada pekan berikutnya.

Memasuki 2025, Charles Leclerc dari Ferrari terlihat duduk di atas bukit pasir setelah ia pensiun dari balapan. Ia menunggu tumpangan untuk kembali ke pit, sekaligus memanfaatkan telepon seluler seorang fotografer untuk mengisi waktu.

Dengan deretan momen dari start-start klasik hingga insiden-insiden bersejarah, Dutch Grand Prix di Zandvoort kini berakhir bukan sekadar sebagai agenda kalender. Ia ditutup sebagai panggung yang lama melahirkan kenangan—baik kemenangan, keberanian, maupun pelajaran pahit—hingga akhirnya F1 berpamitan di tempat yang selama ini berdiri di jantung persaingan.