jurnalistik.co.id – Ayyoub Bouaddi memulai laga Liga Champions pertamanya bersama Manchester City dengan penampilan yang membuatnya tampak lebih matang dari usia aslinya. Di momen debut starter itu, City menang 2-0 atas Porto, dan gelandang berusia 18 tahun tampil sebagai salah satu perhatian utama di lapangan.
Bouaddi langsung menjadi pusat kendali permainan di lini tengah. Walau Erling Haaland mencuri sorotan lewat dua golnya, proses pertandingan menunjukkan peran Bouaddi yang tenang dan terukur dalam mengatur tempo serta menjaga kestabilan tim saat membangun serangan.
City mendatangkan Bouaddi dari Lille dengan banderol besar, yakni ÂŁ86 juta. Transfer tersebut menjadikannya remaja termahal dalam sejarah Premier League. Namun, yang kemudian menjadi sorotan bukan hanya nilai transfer, melainkan bagaimana Bouaddi terlihat siap saat diberi kepercayaan sejak menit awal pada laga resmi terbesar di level antarklub.
Dalam laga kontra Porto, Bouaddi tidak terlihat “kaget” dengan intensitas pertandingan. Ia memperlihatkan ketenangan saat berposisi, keberanian ketika mengambil keputusan di ruang sempit, serta kemampuan menjaga bola dan memulai alur serangan. Pada akhirnya, City meraih kemenangan 2-0, dan debut starter Bouaddi menjadi salah satu alasan mengapa pembicaraan publik terarah pada potensinya untuk berkembang bersama The Citizens.
Pengakuan juga datang dari figur yang ikut menyoroti pertandingan. Pat Nevin, mantan pemain yang dikenal sebagai winger, menyampaikan kekagumannya melalui komentar di BBC Radio 5 Live. “His age, his game – he looks absolutely born to do it,” kata Nevin. Ia menambahkan, “I cannot take my eyes off Bouaddi, he looks very special.” Menurutnya, City sempat diliputi kekhawatiran akan kehilangan Rodri, tetapi Bouaddi justru memberi sinyal awal yang meyakinkan.
Nevin juga mengaitkan penilaian itu dengan pengalamannya menyaksikan Bouaddi saat tampil di Piala Dunia. Ia mengatakan Bouaddi “very impressive so far,” dan menyebut pemain itu sebagai “an absolute no-brainer.” “You get him at that age and you don’t think he might work, he is a class act,” tambahnya.
Selain kualitas yang terlihat langsung, ada pula data performa yang menguatkan gambaran tersebut. Bouaddi menyelesaikan 54 dari 55 operan. Ia juga memimpin metrik tertentu dibanding pemain kedua tim pada aspek dribel, dengan torehan 4 dribel, serta pada momen penguasaan bola yang dimenangi, Bouaddi mencatat 7 kali. Di duel-duel, ia turut tampil menonjol dengan 13 duel yang diperebutkan.
Catatan usia Bouaddi juga membuat pencapaian debut starternya semakin spesial. Ia menjadi pemain keempat termuda yang memulai pertandingan Liga Champions untuk City. Pada hari laga tersebut, Bouaddi berusia 18 tahun dan 341 hari, sebuah angka yang menempatkannya dalam daftar pemain muda dengan kepercayaan terbesar saat mentas di kompetisi elit.
Berita Terkait
Manajer City, Enzo Maresca, menilai penampilan Bouaddi sebagai bukti bahwa keputusan klub untuk memboyongnya tidak sekadar soal investasi jangka panjang. Maresca menyatakan, “He is very good.” Ia mencontohkan bahwa pada laga sebelumnya Bouaddi sempat kehilangan dua bola, tetapi setelah itu pemain tersebut berada di dalam kotak penalti dengan sikap yang tetap tenang. Maresca menegaskan, “Other players may have panicked but at 18, he is a fantastic player.”
“Tonight, he was very good. He speaks French, English, Spanish perfect. He is different in how mature he is. This is why the club has made the effort for him to be with us,” lanjut Maresca. Penekanan pada kedewasaan dan kemampuan komunikasi itu menjadi bagian dari alasan mengapa Bouaddi disebut memiliki karakter yang memudahkan penyesuaian sejak awal.
Dalam periode perpindahan pemain, sempat muncul pertanyaan mengenai ukuran biaya dan ketepatan posisi pemain yang ditugaskan mengisi kebutuhan tim di lapangan. Namun, pertandingan melawan Porto justru memberi jawaban yang lebih konkret: Bouaddi mampu tampil kompetitif sejak starter, tanpa terlihat kehilangan kendali pada fase-fase penting pertandingan.
City juga pernah dilaporkan memiliki ketertarikan terhadap Bouaddi sejak Juni. Dalam informasi yang dibahas setelahnya, ada pula penegasan bahwa rencana “tanda tangan lalu dipulangkan/di-loan kembali ke Lille untuk satu musim” tidak menjadi agenda, terlepas dari beredarnya sejumlah pemberitaan lain.
Yang membuat penilaian di laga ini terasa semakin punya landasan adalah jejak performa Bouaddi ketika menghadapi kompetisi besar bersama Lille. Dua tahun lalu, ia mendapat sambutan luar biasa dari pendukung Lille, setelah membantu timnya meraih kemenangan mengejutkan di fase grup Liga Champions melawan pemegang gelar saat itu, Real Madrid. Dalam konteks itu, City kini melihat adanya kesinambungan: pemain yang pernah tampil dalam situasi tekanan besar, kini tampil dengan cara yang sejalan saat berada di pentas Eropa bersama Manchester City.
Walau Bouaddi menjalani laga dengan peran yang banyak mengatur ritme permainan, sorotan tetap tidak lepas dari dampak tim secara keseluruhan. Haaland, yang mencetak dua gol pada laga pembuka Liga Champions City, juga menilai Bouaddi. Ia menyebut, “He did a really good game.” Haaland menambahkan, “The last couple of weeks in training, he has been amazing. I think we have got a gem there, to be honest.”
Menariknya, meski memuji performa Bouaddi, Haaland juga menyelipkan sindiran bernada bercanda yang menunjukkan dinamika di ruang latihan. Ia berkata, “I think he should’ve played me through in the second half so I was a bit angry.” Namun, Haaland tetap mengakui inti penampilan Bouaddi saat menutup komentarnya, “But he played a good game… except for that pass.”
Kemenangan 2-0 atas Porto menjadi langkah awal City di Liga Champions, tetapi debut starter Bouaddi memberi narasi tambahan: bukan hanya tentang hasil, melainkan tentang bagaimana seorang pemain muda dengan investasi besar mampu menjawab ekspektasi sejak menit pertama. Dari detail operan, dribel, duel, hingga sikapnya di momen-momen krusial, Bouaddi memperlihatkan fondasi yang membuat City yakin pada proses pengembangannya menjadi pemain bertaraf dunia.












