jurnalistik.co.id – Kisah Freddie Woodward menunjukkan bahwa kebiasaan menonton porn tidak selalu berubah menjadi “kesalahan sekali waktu”, tetapi bisa menguat sampai mengganggu rutinitas. Dari pengakuan seorang mantan atlet Olimpiade, artikel ini merangkum tanda-tanda pemakaian porn yang mulai merusak kehidupan dan langkah bantuan yang bisa dicari.
Woodward, mantan penyelam Team GB, menyebut ia mulai menyadari masalah itu sejak remaja. “Every time I sat down to revise, all I wanted to do was open those sites,” ujarnya, menggambarkan dorongan yang muncul setiap kali ia harus belajar.
Ia juga menceritakan bahwa pada usia 12 tahun ia rutin mengunjungi situs yang ia sebut “hardcore”. Seiring kariernya berkembang, termasuk saat mewakili negara di Olimpiade, Woodward mengatakan ia menonton konten dewasa beberapa kali dalam sehari.
Kini berusia 30 tahun, ia mengatakan kebiasaannya bisa ditekan dengan menggeser cara pandang. “You can’t be the person who is trying to quit porn. You have to be someone who doesn’t watch porn, and that takes a lot of work,” katanya.
Kapan kebiasaan menonton menjadi “bermasalah”?
Meski istilah “porn addiction” sering terdengar, para ahli menegaskan belum ada pengakuan resmi sebagai kondisi tersendiri. Silva Neves, psikoterapis seks dan hubungan, mengatakan banyak klien memang menghadapi persoalan serupa, tetapi definisi dan penanganannya masih beragam.
Campbell Ince dari Monash University menyebut mayoritas klinisi sepakat orang bisa mengalami “problematic porn use”. Namun, Ince menegaskan belum ada daftar gejala atau opsi penanganan yang benar-benar definitif bagi mereka yang khawatir.
Dalam praktik klinis, sebagian pendekatan mengaitkannya dengan gangguan perilaku seksual kompulsif. Dr Paula Hall, psikoterapis di Laurel Centre dan juga menjalankan layanan nirlaba, menjelaskan cirinya sebagai “feels out of control, is causing significant distress, and despite repeated attempts to control it, they can’t,”
Hall juga menyinggung bahwa NHS menyatakan seseorang bisa menjadi “addicted to just about anything”, termasuk seks. Meski begitu, penilaian tetap perlu melihat dampaknya, bukan sekadar menempelkan label.
Menurut Neves, indikator utama bukan lamanya atau seberapa sering seseorang menonton. Ia menegaskan, “not about the frequency or duration, it’s about the damage to your life”. Contohnya bisa berupa terlambat bekerja karena terjaga semalaman, menomorsatukan aktivitas itu di atas komitmen kepada orang terdekat, atau menontonnya di kantor.
Ince menambahkan pertanyaan kunci: apakah seseorang benar-benar bisa mengurangi atau menyesuaikan kebiasaan saat ia mencoba. Ia juga menilai penting untuk melihat apakah seseorang tetap menonton meski rasa menikmati konten tersebut makin lama makin berkurang.
Neves juga mengingatkan bahwa rasa tertekan tidak selalu berarti seseorang kehilangan kendali. “Someone could be watching porn for five minutes, three times a week – and because they have a lot of shame, they think ‘I’m an addict’,” katanya. Di saat lain, ada pula orang yang menonton setiap hari dan menganggapnya baik-baik saja.
Ince mengingatkan, banyak orang mungkin merasa terganggu karena alasan sosial, moral, atau agama. Namun, distres semacam itu tidak otomatis berarti kebiasaannya sudah di luar kendali.
Hall menganjurkan klien untuk menjauh dari cara pikir hitam-putih. Ia mendorong untuk “get away from the idea of ‘I’m either an addict or I’m not’”, lalu fokus pada seberapa besar kebiasaan itu memengaruhi studi dan hubungan.
Kisah Craig: tekanan dan perubahan saat pandemi
Berita Terkait
Craig, yang menggambarkan dirinya sebagai “recovering addict”, mengatakan momen yang menandai perubahan terjadi selama pandemi Covid-19. “I don’t think it ever became a huge issue for me until lockdown, where that extra pressure, extra isolation, just compounded the issue,” ujarnya.
Ia mengaku sulit melepaskan kebiasaan itu. “I didn’t know how to get it to loosen its grip on me,” katanya, sebelum akhirnya menilai porn sebagai “a tool to turn to for every one of life’s ups and downs”.
Craig juga menceritakan bahwa ia sempat merasa “broken, that there was no way out”. Menurutnya, proses pemulihan membantunya memikirkan kebiasaan tersebut dari sudut pandang yang berbeda.
Hall menilai lingkungan digital ikut berperan karena orang bisa “addicted by design” melalui algoritma. Keduanya juga menyebut porn yang dihasilkan AI dapat memperburuk situasi, karena orang dapat membuat “exactly what they want and need”.
Dalam contoh lain, Ore Oduba pernah berbicara secara terbuka tentang masalah yang berlangsung sekitar 30 tahun. Ia mengatakan porn itu “destroying my life from the inside out” dan menyebut, “It was the thing from a very early age that I was running to as a response to a lot of trauma”.
Langkah yang bisa ditempuh saat khawatir
Jika seseorang khawatir kebiasaannya sudah tidak sehat, Ince menyarankan mencari dukungan dari profesional yang berkualifikasi dan berpengalaman. Ia menilai psikolog terdaftar dapat membantu karena mempertimbangkan kondisi kesehatan mental secara lebih luas, mengingat “we know that co-occurring mental health problems are more or less the rule, rather than the exception”.
Craig mengatakan ia baru menyadari kebiasaannya mungkin tidak sehat setelah menjalani terapi untuk kesehatan mentalnya. Ia menyebut, “Porn addiction was like a contributing factor,”
Dalam arah pemulihannya, terapis Craig menyarankan ikut “a 12-step programme for sex addiction”. Model itu merupakan pendekatan pemulihan yang dibuat oleh Alcoholics Anonymous, dan Craig mengaku pemulihan berjalan “one day at a time”. Ia menegaskan, “I didn’t necessarily find it easy and straightforward to step away from my addiction. I feel I’m in a good place now, but also acknowledge the fact it’s one day at a time,”
Saat ini, Hall menjelaskan tidak ada layanan NHS yang khusus dan terpusat untuk orang yang kesulitan dengan pemakaian porn. Ia menambahkan beberapa layanan lokal mungkin tersedia, dan seseorang tetap bisa membicarakannya dengan dokter umum.
Karena tidak ada jalur terpusat, bantuan sering datang dari praktisi privat, kelompok pendukung, atau swadaya daring. Ince mengingatkan agar riset dilakukan sungguh-sungguh agar menemukan pendekatan yang cocok, serta berhati-hati terhadap materi online yang menawarkan saran generik.
Neves menjelaskan ada praktisi yang membantu klien menuju penghentian total. Sementara yang lain membantu “integrate it into their lives in a way that is functional”, dan Hall menegaskan pemahaman faktor yang mendasari kebiasaan itu menjadi bagian penting dari terapi.
Secara mandiri, Hall menyebut langkah praktis seperti memasang perangkat lunak pemblokir di perangkat. Ia juga menganjurkan mengenali kapan seseorang lebih rentan, misalnya ketika stres atau saat sendirian, lalu menyiapkan rencana untuk melakukan alternatif lain.
Hall berharap ada dukungan lebih luas, termasuk intervensi sejak dini sebelum porn mengambil alih kehidupan. “The scientific examination is certainly accelerating, but there is a very long way to go,” kata Ince.
Ince menambahkan bahwa perilaku semacam ini bisa dimulai sebagai cara mendapat jeda dari persoalan lain dalam hidup, termasuk tekanan pekerjaan atau putusnya hubungan. Hall juga menyebut ada faktor predisposisi seperti trauma, persoalan dari masa kanak, atau keyakinan negatif tentang diri yang membuat kebiasaan itu lebih sulit dikendalikan.
Seorang juru bicara Department of Health and Social Care menyatakan: “It is troubling to hear accounts of individuals becoming addicted to pornography at such a young age. It reinforces the importance of the online safety laws we have put in place to prevent children from accessing harmful content.”












