jurnalistik.co.id – US Open 2026 berakhir dengan kenyataan pahit untuk tenis Inggris: tidak ada wakil yang tersisa hingga pekan kedua nomor tunggal setelah seluruh petenis Inggris tersingkir pada babak kedua.
Meski begitu, penilaian tidak sepenuhnya bernada muram. BBC Sport menyoroti bahwa di balik ketiadaan wakil di fase lanjutan, ada beberapa indikator yang bisa dibaca sebagai sinyal perbaikan—dengan syarat pembinaan dan kondisi pemain terus didorong.
Untuk kali keempat dalam lima grand slam terakhir, Inggris tidak punya keberlanjutan di pekan kedua. Rangkaian performa yang kurang memuaskan di Australian Open, French Open, dan Wimbledon tahun ini sempat memicu berbagai evaluasi. Namun, situasi di New York terasa berbeda: tersingkir lebih cepat, tetapi tidak muncul kesan bahwa arah perkembangan benar-benar tersendat.
Francesca Jones, petenis putri peringkat tiga Inggris, menilai perlunya evaluasi tetap ada, namun tidak melihatnya sebagai sesuatu yang mengkhawatirkan. “Do I think there could be an inquest? I always think there’s things that British tennis could do better. So yes, definitely,” kata Jones. Ia menambahkan, “Do I think it’s something that’s concerning? No, not at all. The level is getting better and everyone is dangerous on their day.”
Tanda positif yang mulai terlihat
Salah satu sorotan utama datang dari Arthur Fery. Petenis berusia 24 tahun itu menorehkan capaian yang melampaui ekspektasi: ia menjadi satu-satunya pemain Inggris yang mencapai pekan kedua pada grand slam tahun ini. Fery sendiri masuk peringkat dunia di posisi 114 dan harus lebih dulu mengandalkan wildcard untuk tampil di All England Club, tetapi ia kemudian memanfaatkan peluang itu hingga mencapai semifinal di Wimbledon.
Prestasi Fery digambarkan sebagai bukti bahwa jalur pengembangan bakat Inggris sedang berjalan. Manajemen tenis Inggris juga mengaitkan capaian tersebut dengan kerja talent pathway yang sedang ditempuh.
Di US Open, Inggris juga mencatat sesuatu yang lebih luas dari sekadar satu nama. Ada sembilan petenis Inggris yang bertanding di undian utama nomor tunggal, jumlah tertinggi sejak 1981. Angka ini tidak termasuk Emma Raducanu yang merupakan juara US Open 2021 serta Jack Draper, yang sama-sama absen karena cedera jangka panjang.
Scott Lloyd, CEO LTA, menegaskan bahwa targetnya tetap memperbanyak kompetitor yang mampu bertahan sampai pekan kedua, namun ia juga melihat indikator arah yang membaik. “We obviously want more and more competitors in the second week of Slams – just like the British public,” ujarnya. “But the fact we’ve had four different British players make Grand Slam semi-finals since 2021 – you have to go back 30 years before Andy Murray to have four – shows there is no question that the direction of travel has improved.”
Lloyd menambahkan komitmen untuk menjaga momentum, “We’ve just got to keep driving for more – and that’s what we’re trying to do day in and day out.”
Pasca US Open, lima petenis pria Inggris diprediksi berada di top 100 dunia: Fery, Cameron Norrie, Jan Choinski, Toby Samuel, dan Jacob Fearnley. Komposisi ini menjadi rekor jumlah tertinggi sejak Februari 2024.
Di sektor putri, terdapat dua nama yang diperkirakan tetap berada di top 100: Katie Boulter dan Raducanu. Sementara itu, Francesca Jones serta Harriet Dart sempat mendekat karena keduanya mencapai babak kedua di Flushing Meadows, tetapi kemudian kembali berada di ambang batas.
LTA performance director Michael Bourne merangkum produktivitas beberapa tahun terakhir melalui angka. “We’ve sent 12 players to the world’s top 100 over the past eight years and four of those have played Grand Slam semi-finals,” katanya. Ia menambahkan, “I’m not sure what other period in the modern era where we’ve had that level of productivity. Hopefully the number in the top 100 will rise over the next year.”
Berita Terkait
Negatifnya masih nyata: cedera, persaingan, dan isu pelatihan
Walau ada sejumlah sinyal positif, sejumlah pihak tetap memandang Inggris masih belum sepenuhnya “setara” dengan reputasi sebagai negara grand slam. Salah satu faktor yang berulang adalah cedera yang dialami banyak pemain sepanjang tahun terakhir.
Draper, yang pernah menjadi peringkat keempat dunia, hampir tidak bermain selama setahun terakhir akibat cedera lengan. Sonay Kartal, yang sempat menembus top 50 pada tahun lalu, juga turun keluar dari top 100 setelah mengalami masalah punggung jangka panjang.
Secara komposisi peringkat, Inggris juga tertinggal dibanding Amerika Serikat, Australia, dan Prancis yang mendapat keuntungan dari pendapatan penyelenggaraan grand slam di negara mereka. Selain itu, Inggris berada di belakang beberapa negara penghasil pemain seperti Spanyol, Italia, Republik Ceko, dan Argentina.
Michael Bourne menekankan bahwa Inggris tidak bisa sekadar meniru rencana negara lain secara instan. “But Britain cannot simply ‘pick up a plan’ of what others are doing as every country has its own ‘tennis ecosystem’,” ujarnya.
Scott Lloyd menambahkan, “We’re competing in one of the most internationally elite sports out there and the landscape is vastly different to 40 or 50 years ago in terms of the number of countries which have representation at the top.” Meski demikian, ia tetap mempertahankan keyakinan pada arah perbaikan, “We’re ambitious, we want to drive for more, but we honestly believe the indicators are positive. We’re moving in the right direction and stronger than where we have been historically.”
Menguatkan fondasi: dari anak-anak hingga pelatih berkualitas
Untuk benar-benar memperbaiki peluang di grand slam, pembentukan pemain sejak usia muda disebut sebagai kunci. Draper, Raducanu, dan Fery—yang sejak awal masuk sistem LTA—dipandang sebagai contoh jalur yang bisa ditiru.
Scott Lloyd menyebut bahwa basis partisipasi tenis Inggris sudah sangat besar. “There are 4.3m juniors playing tennis annually with 1.9m playing every month, which Lloyd says are both all-time records.”
Namun, ada kekhawatiran yang menonjol: kurangnya pelatihan level tinggi berpotensi menghambat perkembangan lebih banyak talenta potensial. Bourne mengakui kebutuhan Inggris adalah meningkatkan “higher base” para pelatih. “One of the LTA’s key strategies is ‘spending time and effort’ on developing them,” katanya.
Chris Marshall, pelatih performa senior dengan pengalaman lebih dari 25 tahun, menyampaikan kegelisahannya bahwa banyak anak muda bisa “kehabisan akses” karena biaya. Ia mengatakan orang tua kesulitan membiayai pelatihan berkualitas.
Marshall yang mendirikan program Young Champs untuk menyediakan pelatihan gratis dan diskon, mencontohkan beban biaya saat membiayai atlet usia 12 tahun di level county. “To fund a 12-year-old at county level right now requires anywhere from £500 to £1,000 a month for coaching, travel, and tournament fees,” ungkap Marshall kepada BBC Sport. Ia menambahkan, “It is a massive, stressful financial barrier that makes the sport a non-starter for the vast majority of British families.”
Ia menutup dengan penekanan bahwa perbaikan harus menyentuh “pipa” pembinaan itu sendiri. “We can’t sit around lamenting the lack of British interest in the second week when we are restricting the pipeline that feeds it.”












