Teknologi

KAI Resmi Pakai Biodiesel B50 di Lokomotif dan Kereta Pembangkit, Uji 55 Hari Diproyeksi Turunkan Emisi

×

KAI Resmi Pakai Biodiesel B50 di Lokomotif dan Kereta Pembangkit, Uji 55 Hari Diproyeksi Turunkan Emisi

Sebarkan artikel ini
Ilustrasi: Lokomotif & Kereta Pembangkit RI Sudah Pakai B50, Hasilnya Tak Terduga

jurnalistik.co.id – PT Kereta Api Indonesia (Persero) terus mendorong efisiensi energi sebagai bagian dari penguatan layanan berbasis rel. Upaya itu dilakukan melalui inovasi operasional sekaligus pemanfaatan biodiesel pada armada yang menggunakan bahan bakar solar.

Selama periode Januari 2026, KAI mengoperasikan seluruh lokomotif serta kereta pembangkit berbahan bakar solar dengan campuran biodiesel B40. Setelah itu, perusahaan menerapkan perubahan komposisi mulai 1 Juli 2026 dengan menggunakan biodiesel B50 untuk seluruh lokomotif dan kereta pembangkit pada layanan KA Jarak Jauh maupun KA Lokal yang dikelola KAI.

“Transportasi masa depan membutuhkan pengelolaan energi yang semakin efisien dan terukur. Melalui penerapan B50, KAI terus mengoptimalkan penggunaan energi dengan kandungan biodiesel yang lebih tinggi untuk mendukung operasional kereta api yang semakin berkelanjutan,” ujar Anne Purba, Vice President Corporate Communication KAI.

Uji coba 55 hari dan proyeksi pengurangan emisi

Penerapan B50 dijalankan melalui fase uji selama 55 hari, yakni pada 1 Juli hingga 24 Agustus 2026. Dalam rentang tersebut, peningkatan campuran biodiesel dari B40 menjadi B50 diproyeksikan memberi tambahan manfaat pengurangan emisi karbon terhadap operasional kereta yang menggunakan solar.

Berdasarkan estimasi kebutuhan BBM operasional KAI pada periode uji coba, total konsumsi diproyeksikan mencapai sekitar 40 juta liter. Dari proyeksi itu, peningkatan kandungan biodiesel sebesar 10 persen dibandingkan penggunaan pada B40 diperkirakan menghasilkan tambahan pemanfaatan biodiesel sekitar 4 juta liter.

Dengan menggunakan pendekatan manfaat pengurangan emisi dari program biodiesel Kementerian ESDM, penerapan B50 selama 55 hari diperkirakan memberikan pengurangan emisi sekitar ±9 ribu ton CO₂e dibandingkan skenario penggunaan B40. Perhitungan tersebut difokuskan pada layanan KA Jarak Jauh dan KA Lokal.

Anne juga menegaskan bahwa karakteristik tiap moda transportasi berbeda, sehingga penghitungan jejak karbon tidak dapat disamakan. “Setiap moda transportasi memiliki karakteristik energi dan metode penghitungan jejak karbon yang berbeda, sehingga perhitungan emisi untuk layanan berbasis listrik maupun moda lainnya menggunakan pendekatan tersendiri,” demikian penjelasan yang disampaikan dalam materi terkait uji coba.

Secara layanan kepada masyarakat, KA Jarak Jauh dan KA Lokal KAI pada periode Januari hingga Juli 2026 melayani sekitar 29,86 juta pelanggan. Dengan pendekatan estimasi yang sama, manfaat pengurangan emisi dari penerapan B50 selama 55 hari setara dengan sekitar 0,3 kg CO₂e per pelanggan KA Jarak Jauh dan KA Lokal.

Penguatan efisiensi energi melalui data

Selain menunjukkan dampak pada aspek lingkungan, penerapan B50 dikaitkan dengan upaya KAI meningkatkan efisiensi energi yang terukur dalam kinerja operasional. Dalam prosesnya, KAI juga mengembangkan langkah lain melalui optimalisasi penggunaan sarana, pemanfaatan energi terbarukan, serta pengelolaan konsumsi energi berbasis data.

Perusahaan mencatat, berdasarkan data penggunaan BBM periode 1 Januari hingga 24 Agustus 2026, KAI menggunakan sekitar 172.228.585 liter BBM untuk operasional kereta api yang dikelola perusahaan. Konsumsi tersebut mencakup kebutuhan lokomotif dan kereta pembangkit berbahan bakar solar pada layanan KA Jarak Jauh dan KA Lokal.

Anne menambahkan, peningkatan efisiensi pada layanan rel berkorelasi dengan kemampuan kereta api dalam melayani masyarakat dalam jumlah besar. “Kereta api memiliki karakteristik sebagai moda transportasi massal yang mampu melayani masyarakat dalam jumlah besar dalam satu perjalanan. Karena itu, peningkatan efisiensi energi pada operasional kereta api memberikan kontribusi terhadap pengembangan transportasi yang semakin efektif dan berkelanjutan,” katanya.

Dengan demikian, peralihan dari B40 ke B50 pada armada yang menggunakan solar diposisikan sebagai bagian dari transformasi energi nasional. KAI berharap langkah ini tidak hanya memperkuat efisiensi operasional, tetapi juga mendukung layanan transportasi rel yang semakin modern dan berorientasi pada keberlanjutan.