jurnalistik.co.id – Aryna Sabalenka kembali menunjukkan kelasnya di US Open 2026. Juara bertahan itu melangkah ke putaran ketiga setelah mengalahkan debutan Polina Iatcenko dalam laga yang berlangsung hanya 53 menit.
Di babak kedua, petenis peringkat satu dunia berusia 28 tahun menutup pertandingan dengan kemenangan telak 6-1, 6-1. Hasil cepat itu menjadi salah satu kemenangan Grand Slam tercepat dalam kariernya, sekaligus membuka peluang untuk melanjutkan pertahanan gelar.
Meski unggul mutlak sejak awal, Sabalenka tidak sepenuhnya tampak santai saat sesi konferensi pers setelah pertandingan. Ketegangan sempat muncul ketika ia berinteraksi dengan seorang jurnalis, menambah warna dari duel yang secara skor terlihat sepihak.
Sabalenka menegaskan ia puas dengan performanya. Ia berkata, “I’m happy with the level I played, happy with the focus and happy to be through this match,” setelah pertandingan.
Menurut jadwal turnamen, kemenangan itu membuat Sabalenka berhak menghadapi petenis asal Uzbekistan, Kamilla Rakhimova, pada putaran ketiga. Untuk mencapai target tersebut, ia juga tetap menjaga ambisinya meraih “three-peat” gelar US Open—sebutan untuk mempertahankan gelar untuk tahun ketiga berturut-turut.
Secara kualitas permainan, Iatcenko berada dalam posisi yang jauh di bawah lawannya. Petenis peringkat 160 dunia itu hanya mampu mengumpulkan tiga winner, berbanding 24 yang dibuat Sabalenka sebagai unggulan utama.
Iatcenko sempat terlihat gugup pada laga terbesar dalam kariernya. Namun, ketika ia berhasil mengubah situasi dan menguasai papan skor hingga 5-1, ia pun langsung tersenyum lega—meski jeda itu tidak berlangsung lama.
Di set pertama, Sabalenka langsung menekan dengan ritme yang cepat. Tanpa perlu waktu lama, ia menutup set pembuka dengan memegang servis lawan hingga “love” dalam waktu kurang dari 90 detik.
Walau hanya berada di lapangan selama 24 menit, Iatcenko memilih meminta jeda untuk ke kamar mandi guna mengganti perlengkapan. Dalam konteks pertandingan yang ketat, keputusan itu lebih tampak sebagai upaya reset mental ketimbang kebutuhan fisik.
Sambil menunggu, Sabalenka tetap menjaga fokusnya, termasuk dengan berlatih servis untuk mempertahankan tempo. Setelah itu, ia kembali mengambil alih permainan dengan lonjakan yang berujung pada double break hingga unggul 3-0 di set kedua.
Meski tidak semuanya berjalan mulus, Sabalenka masih mampu mengendalikan arah laga. Ia sempat kehilangan servis pada game keempat setelah melakukan beberapa kesalahan, tetapi segera merespons dengan menambah dua kali break lagi untuk memaksa Iatcenko bertekuk lutut.
Berita Terkait
- Celtic Rekrut Lima Pemain dalam Sehari: Van den Berg dan Lotomba Gabung Sam Johnstone, Mheuka, serta Emenalo
- US Open 2026: Katie Boulter Tersingkir di Babak Kedua setelah Cuma 1 Game dalam 58 Menit Melawan Karolina Muchova
- Berita transfer Man City: lini tengah baru, tapi ada perjudian besar demi Haaland
Dengan rentang waktu permainan yang singkat dan dominasi yang konsisten, Sabalenka tidak hanya meraih tiket ke putaran berikutnya, tetapi juga mempertegas dirinya sebagai figur yang sulit dihentikan di turnamen ini. Bagi Iatcenko, pelajaran berharga tetap didapat karena ia memperoleh pengalaman menghadapi nomor satu dunia di panggung terbesar.
Dari sisi finansial, US Open 2026 juga memberi kejutan berupa nilai tambahan bagi Iatcenko. Menjelang turnamen, ia telah mengumpulkan $300,000 (£220,000) selama karier. Namun, ia membawa pulang tambahan $190,000 (£140,000) dari New York untuk diinvestasikan kembali pada masa depannya.
Kemenangan atas Iatcenko juga datang dalam situasi yang tidak sepenuhnya mudah bagi Sabalenka. Sebelum US Open, ia memang memulai musim dengan gemilang, mencapai final Australian Open, lalu memenangkan gelar Indian Wells dan Miami secara beruntun.
Meski demikian, setelah “Sunshine Double”, catatan kemenangan-kekalahan Sabalenka menurun menjadi 17-7 sebelum ia tiba di US Open. Ia hanya mencapai satu semifinal WTA dalam lima bulan terakhir, dan menghadapi tantangan untuk kembali stabil pada level terbaik.
Perubahan besar terlihat dalam duel melawan Elena Rybakina. Kekalahan Sabalenka dari Rybakina tercatat sebagai satu-satunya setelah 27 pertandingan pertama musim 2026. Meski demikian, tekanan peringkat tetap terasa, karena posisi puncak klasemen dunia bisa bergeser.
Rybakina masih punya peluang menggusur Sabalenka bila ia melaju hingga semifinal. Bahkan jika Sabalenka berhasil mempertahankan gelar, Rybakina tetap bisa naik ke puncak rangking lewat pencapaian hingga babak empat besar.
Dalam periode yang ia akui tidak berjalan pada kondisi terbaiknya, Sabalenka pernah menyebut ada beberapa hal yang sedang ia hadapi. Setelah menyelesaikan pertandingan melawan Iatcenko, ia juga mengambil sikap tegas terhadap penafsiran seorang jurnalis terkait persiapan turnamen.
Sabalenka bereaksi setelah mendengar isyarat bahwa ia menghadiri “lots of parties” dalam masa menuju US Open. Ia menanggapi dengan kata-kata tajam, “What kind of question is that? Just because I posted some activities with brands, you think that I’ve been partying [and] not training?”
Ketika ditanya apakah ia kini mulai “getting serious” setelah turnamen berjalan, Sabalenka menjawab, “Oh yeah, I wasn’t serious before that. Next question.” Pernyataan itu menutup percakapan dengan nada yang berjarak, selaras dengan ketegangan yang sempat tersorot.
Di hari yang sama, perburuan gelar juga berlanjut lewat pertandingan lain pada sektor putri. Unggulan ketiga, Pegula, melanjutkan upaya untuk meraih gelar Grand Slam tunggal pertamanya setelah menumbangkan sesama pemain Amerika, Sofia Kenin, dengan kemenangan 6-3, 6-1.
Pegula juga punya kesempatan menjadi petenis nomor satu dunia jika ia keluar sebagai juara. Peluang serupa dimiliki unggulan keempat, Coco Gauff, yang menjaga mimpinya tetap hidup lewat kemenangan 6-3, 6-1.
Beberapa pertandingan lain berakhir langsung dalam dua set. Di antaranya, Karolina Muchova yang merupakan runner-up Wimbledon, dua kali semifinalis Grand Slam, Marta Kostyuk, serta sensasi remaja Amerika, Iva Jovic, semuanya meraih kemenangan straight-set. Sejauh dua putaran awal, pola kejutan yang minim membuat persaingan tetap didominasi pemain-pemain unggulan.












