jurnalistik.co.id – Perubahan cara pandang konsumen otomotif di Indonesia, menurut pengamat, kini bergerak ke arah yang tidak hanya membahas isu ramah lingkungan atau efisiensi. Di GIIAS 2026, Yannes Martinus melihat pemilihan kendaraan sudah makin menyerupai pola orang ketika membeli smartphone.
Ia menilai, dalam banyak keputusan pembelian modern, fitur diposisikan sebagai bagian dari “nilai psikologis” di luar sekadar kegunaan teknis harian. Yannes menyampaikan pandangannya dengan analogi yang langsung mudah dipahami.
“Fitur itu penting. Kalau kayak smartphone kita deh, fiturnya banyak banget. Kita pakai semua enggak? Belum tentu. Tapi kita enggak akan mau beli smartphone kalau fiturnya cuma sedikit. Walaupun enggak dipakai, secara psikologis kita merasa penting untuk punya,” ujar Yannes.
Yannes menempatkan pola tersebut sebagai tantangan yang dihadapi penguasa pasar kendaraan bermesin pembakaran dalam (ICE). Menurutnya, perubahan standar konsumen membuat produk yang terasa “kurang komplit” berisiko ditinggalkan, meski merek tersebut sebelumnya dominan.
Ia menambahkan bahwa pemain lama cenderung melakukan pembaruan yang sifatnya minor change. Namun, pembaruan tersebut dinilai tetap diikuti kenaikan harga jual sekitar 5 hingga 7 persen setiap tahun, sehingga daya tarik produk sulit bertahan di segmen harga menengah.
Di rentang tarif yang lebih mudah dijangkau, yakni sekitar Rp 100 juta hingga Rp 400 jutaan, konsumen kelas menengah kini menjadi lebih kritis. Dalam pandangan Yannes, mereka tidak lagi sekadar melihat desain atau reputasi merek, melainkan juga mengevaluasi seberapa padat fitur yang mereka dapatkan.
Berita Terkait
“Mobil dengan harga menengah yang fiturnya kurang pasti ditinggalin. Desain keren saja sekarang semua sudah keren, teknologi canggih semua sudah canggih. Sekarang mobil listrik di range harga terjangkau justru datang dengan fitur melimpah, bahkan ada yang bisa parkir sendiri,” kata Yannes.
Ia melihat, ketika kendaraan listrik masuk ke segmen harga terjangkau dengan paket teknologi yang terlihat “penuh”, konsumen cenderung merespons lebih cepat. Artinya, kompetisi tidak lagi hanya soal status merek atau performa dasar, tetapi juga tentang kelengkapan pengalaman pengguna (user experience) yang ditawarkan.
Melihat konteks itu, langkah VinFast yang agresif memboyong kendaraan listriknya ke Indonesia dinilai sejalan dengan pergeseran selera pasar. VinFast, menurut Yannes, membawa lini produk di segmen terjangkau seperti VF 3 dan VF 5, dengan penawaran fitur yang dipaketkan dalam satu produk.
Dalam penilaian Yannes, paket tersebut mencakup fitur keselamatan, kenyamanan, serta sistem infotainment modern yang tergolong padat untuk kelasnya. Ia menekankan bahwa kelengkapan teknologi seperti ini jarang ditemukan pada mobil bensin konvensional dengan rentang harga yang sepadan.
Kondisi tersebut, menurut Yannes, berkaitan dengan keberanian pemain baru dalam mengemas teknologi canggih ke dalam kendaraan berharga terjangkau. Ia menilai VinFast berhasil membentuk ruang persaingan baru di luar dominasi merek-merek lama.
“Sekarang standar konsumen sudah berubah. Dengan banyaknya pilihan mobil listrik terjangkau yang fiturnya padat, pasar tidak lagi dikunci oleh penguasa lama. Konsumen akan memilih brand yang bisa memberikan experience dan kelengkapan terbaik untuk uang yang mereka keluarkan,” pungkas Yannes.
Dengan demikian, diskusi di GIIAS 2026 tidak berhenti pada gagasan “EV lebih ramah lingkungan”, melainkan juga membahas bagaimana konsumen memandang value dari sisi teknologi. Bagi Yannes, kemasan fitur yang terasa melimpah menjadi salah satu kunci yang membuat kendaraan listrik terjangkau dapat menarik perhatian pasar di level harga Rp 100 juta hingga Rp 400 jutaan.












