Daerah

Mahasiswa Undip Adriano Padama Menuntun Mentan Andi Amran ke Alor NTT: Bibit hingga Alsintan

×

Mahasiswa Undip Adriano Padama Menuntun Mentan Andi Amran ke Alor NTT: Bibit hingga Alsintan

Sebarkan artikel ini
Ilustrasi: Suara Adriano Padama Tuntun Mentan Amran ke Alor NTT, Bawa Bantuan Bibit hingga Alsintan

jurnalistik.co.id – Menteri Pertanian Andi Amran Sulaiman mendatangi Kabupaten Alor, Nusa Tenggara Timur (NTT), pada Sabtu (8/8/2026). Kunjungan itu berlangsung setelah sebelumnya ia menerima keluhan terkait kondisi pangan di daerah tersebut.

Keluhan tersebut disampaikan oleh Adriano Padama, mahasiswa Universitas Diponegoro (Undip) asal Alor. Adriano menceritakan bahwa distribusi pangan sulit dijangkau dan harga beras di kampung halamannya tergolong mahal.

Menurut laporan yang menyertai kunjungan ke Alor, cerita Adriano itu tersampaikan langsung saat Andi Amran menjadi pembicara dalam Upacara Penerimaan Mahasiswa Baru (PMB) Undip Tahun Akademik 2026/2027 di Semarang, Jawa Tengah, pada Kamis (6/8/2026). Dari forum tersebut, perhatian terhadap persoalan daerah kemudian berlanjut pada agenda kunjungan lapangan.

Di Alor, Amran datang bersama Wakil Gubernur NTT Johni Asadoma dan Wakil Bupati Alor Rocky Winaryo, serta jajaran pemerintah daerah. Kehadiran sejumlah pejabat itu memberi ruang agar aspirasi yang disampaikan Adriano tidak berhenti di tingkat komunikasi, tetapi dapat ditindaklanjuti dalam bentuk peninjauan langsung.

Kunjungan sebagai jembatan aspirasi

Wakil Gubernur NTT Johni Asadoma menilai kunjungan Mentan Amran ke Alor menunjukkan bahwa suara anak daerah yang sedang menempuh pendidikan di luar NTT dapat menjadi penghubung persoalan daerah ke pemerintah pusat.

Ia menyatakan, “Adriano sudah menuntun Bapak Menteri untuk datang ke Alor,” ujar Johni Asadoma. Menurutnya, proses tersebut menegaskan peran Adriano dalam membawa masalah yang dialami masyarakat Alor agar mendapat atensi di level nasional.

Asadoma juga menegaskan, “Ini adalah bukti bahwa suara anak-anak Alor, suara anak-anak NTT, bisa didengar sampai ke tingkat pemerintah pusat,” ungkapnya. Penegasan tersebut menggarisbawahi bahwa komunikasi yang berangkat dari pengalaman lapangan dapat mendorong kunjungan pejabat pusat ke wilayah yang membutuhkan perhatian.

Dalam kunjungan itu, Amran menyampaikan perhatian pemerintah terhadap kebutuhan sektor pertanian sebagai bagian dari upaya peningkatan kesejahteraan. Serangkaian peninjauan dilakukan di titik-titik yang berkaitan dengan pengembangan komoditas unggulan setempat.

Poverty dan dorongan pengembangan komoditas

Pemerintah daerah setempat masih menghadapi persoalan kemiskinan dengan angka sekitar 18 persen. Karena itu, pemerintah mendorong pengembangan sejumlah komoditas unggulan yang dinilai dapat memperkuat ekonomi masyarakat.

Komoditas yang disebut antara lain kakao, kelapa, jambu mete, padi, dan jagung. Penyebutan komoditas tersebut menunjukkan arah kebijakan yang menempatkan pertanian sebagai tulang punggung pemulihan sekaligus peningkatan pendapatan.

Salah satu lokasi yang didatangi Mentan Amran adalah tempat pembibitan kakao. Di titik tersebut, Amran menekankan bahwa sektor pertanian harus menjadi instrumen utama untuk meningkatkan kesejahteraan masyarakat Alor.

Amran mengatakan, “Solusi tercepat adalah pertanian. Karena itu kita harus mengirimkan benih yang kompetitif,” tegasnya. Pernyataan tersebut merujuk pada kebutuhan perbaikan dari hulu, termasuk penyediaan bibit yang dapat mendukung keberhasilan budidaya.

Dalam konteks kedatangan Mentan, bantuan juga disebut mencakup bibit hingga alsintan. Dengan fokus pada bibit yang kompetitif dan dukungan sarana di bidang pertanian, kunjungan ini diarahkan untuk menjawab langsung kebutuhan di lapangan, bukan hanya berhenti pada penyampaian keluhan.

Melalui rangkaian agenda di Alor, pesan utama dari kunjungan tersebut adalah bagaimana aspirasi yang disampaikan oleh Adriano dapat diterjemahkan menjadi tindakan nyata. Kunjungan Mentan Amran menjadi lanjutan dari cerita yang ia dengar di Semarang, lalu berujung pada peninjauan langsung di wilayah yang disebut mengalami tantangan distribusi pangan dan harga beras.

Dengan demikian, kunjungan tersebut mempertemukan dua hal yang sama-sama penting: masukan dari mahasiswa asal Alor yang memahami kondisi daerah, dan arah kebijakan pemerintah pusat yang menyoroti peran pertanian dalam mengangkat kesejahteraan. Alor lantas menjadi ruang pembuktian, baik terkait perhatian pada persoalan pangan maupun dorongan pengembangan komoditas andalan melalui pembibitan.

Di akhir rangkaian kunjungan, arah pembinaan yang disampaikan tetap bertumpu pada penguatan sektor pertanian. Dari pembibitan kakao hingga penyebutan komoditas unggulan lainnya, pemerintah menekankan bahwa perbaikan di tingkat produksi dapat menjadi jalan yang paling cepat untuk mendukung peningkatan kesejahteraan masyarakat Alor.