jurnalistik.co.id – Sejumlah pakar menyoroti kebutuhan baru di dunia kerja: enam keterampilan utama dinilai dapat âsetara kualifikasiâ dalam membantu pelamar menonjolâserta bertahanâdi dekade mendatang.
Dalam studi besar selama lima tahun yang dipublikasikan National Foundation for Educational Research (NFER), kemampuan-kemampuan yang bersifat dapat ditransfer (transferable skills) ditempatkan sejajar dengan kualifikasi formal saat proses rekrutmen dan mempertahankan pekerjaan.
Penelitian NFER juga memproyeksikan tantangan yang semakin berat: seiring AI dan otomasi, hingga tiga juta pekerjaan pada level rendah hingga menengah bisa hilang pada 2035. Pada saat yang sama, lebih dari satu juta anak muda tidak berada di pendidikan, pekerjaan, atau pelatihanâangka ini menjadi yang tertinggi dalam lebih dari satu dekade.
Struktur, prioritas, dan ketenangan di tempat kerja
Salah satu kejutan bagi mereka yang baru keluar dari pendidikan formal adalah hilangnya struktur harian, sehingga kemampuan mengatur, merencanakan, dan memprioritaskan kerja dipandang krusial oleh banyak pemberi kerja.
Christian Townsley, co-founder North Bar di Leeds, menggambarkan dunia kerja yang bergerak cepat lewat pengalaman di bar yang ramai. Menurutnya, bekerja di sana âall about staying calm and keeping a âcool headââ.
Townsley menjelaskan, âItâs important that you can organise, you can multitask, you can identify whoâs next at the bar and remember that,â sembari menambahkan bahwa ia menyediakan trial shifts sebagai bagian dari proses rekrutmen.
Dalam uji kerja tersebut, ia menyatakan, âWeâll observe them working with customers, working with the team, seeing how they fit in, seeing how they communicateâ. Pola yang sama, lanjutnya, juga terkait tuntutan saat seseorang dipromosikan dan harus mengelola tanggung jawab yang lebih luas.
âThereâs organisation, ordering beer, pricing beer, planning social media, marketing, recruiting,â tambah Townsley, merujuk pada berbagai tugas yang menuntut pengaturan dan pengambilan keputusan di tengah rutinitas yang padat.
Memecahkan masalah dan mengambil keputusan saat situasi berubah
Di luar kemampuan merapikan prioritas, banyak perusahaan mengharapkan rekrutan baru bisa merespons persoalan yang muncul dan mengambil tindakan secara cepat.
Maria Aderonmu, yang semula menempuh studi ilmu politik lalu membangun karier di Morgan Sindall Infrastructureâperusahaan yang mengerjakan proyek infrastruktur di bidang energi, pertahanan, kereta api, dan lainnya di Inggrisâmenjalani pekerjaan yang menuntut pemikiran âon the goâ.
Dalam pengalamannya, Aderonmu menyebut âadapting to each kind of situationâ sebagai salah satu hal terbesar yang ia pelajari dari kerja. Ia juga menilai aktivitas di debating society semasa kuliah membantu kemampuannya berpikir sigap saat menghadapi situasi yang tidak sepenuhnya terencana.
Maria kemudian dihubungkan dengan saran dari Maria? Bukan; yang memberi panduan berikutnya adalah Maria Aderonmu sendiri dalam narasinya, sementara People director India Chaplin menegaskan ekspektasi yang lebih realistis bagi pelamar muda.
India Chaplin menyatakan ia tidak mengharapkan setiap orang muda âevery young person to have come across every scenarioâ. Ia menyarankan agar pelamar menimbang bagaimana pengalaman memecahkan masalah di luar kerjaâmisalnya di sekolah atau saat tergabung dalam sebuah timâbisa diterapkan pada lingkungan pekerjaan.
âThereâs lots of different ways that people can show the softer skills that weâre looking for and how they would approach a problem, even if itâs a scenario theyâve maybe not come across to help think how they would put that into practice in the working environment,â ujarnya.
Komunikasi untuk membangun relasi dan meredam konflik
Skill berikutnya yang banyak dicari adalah komunikasi yang baik, karena dinilai mampu membangun relasi sekaligus mengurangi eskalasi konflik.
Jake Readman, general manager North Bar, menempatkan âdeveloping communication skillsâ sebagai kunci dalam suasana kerja yang cepat dan ramai. Ia juga menekankan pentingnya kemampuan meredakan ketegangan: âhow to de-escalate and resolve conflict in certain situationsâ.
Readman menambahkan, âBe confident in who you are as a person and your ability to learn new skills and rise to new situations,â serta âand also the ability to show a little bit of initiativeâ.
Praktik komunikasi di proses rekrutmen juga terlihat pada El Cousins yang memilih memberikan CV secara langsung. Ia mengatakan ia menyukai bertemu calon pemberi kerja tatap muka karena âthey get an idea of your personalityâ.
Cousins menilai hal itu âmatters quite a lot and that doesnât always come across on a piece of paper or online,â sehingga interaksi langsung memberi gambaran yang lebih utuh kepada pihak yang menilai.
Berita Terkait
Kemampuan berkolaborasi sebagai fondasi kerja tim
Keterampilan kelima yang diidentifikasi NFER adalah kolaborasi. Di Barbour, pabrik mereka di South Shields, Lynn Bassett selaku HR director menilai kemampuan bekerja sama dibutuhkan dalam setiap rekrutmen.
âEach department is interlinked with one another so working as one team is really important,â kata Bassett. Ia menekankan cara yang dicari bukan semata-mata pengalaman spesifik, melainkan kemampuan menceritakan pengalaman kolaborasi.
Bassett menjelaskan, âThey might not have the specific experience thatâs needed for the role, but we look more at those transferable skillsâ.
Gambaran kolaborasi itu juga muncul dari pengalaman Addie Pattas saat memulai placement bersama Barbour dalam program fashion di bangku kuliah. Ia bekerja pada sisi pabrik yang bertugas memperbaiki jaket-jaket lama yang dikirim pelanggan.
Pentas yang ia jalani menuntut komunikasi yang terus-menerus, termasuk menjaga agar proses diketahui oleh pihak terkait. Pattas menyebut, âcommunicating with not only the warehouse but also the factory and the shipping teamâ menjadi bagian besar dari pekerjaannya.
Berpikir kreatif, serta literasi data untuk keputusan yang lebih tepat
Selain berkolaborasi, perusahaan juga menilai kreativitas sebagai kemampuan untuk menemukan solusi, termasuk saat alur kerja tidak berjalan sesuai rencana.
Industri seperti fashion memang lebih sering dikaitkan dengan kreativitas, tetapi kemampuan memandang masalah secara berbeda dan menghasilkan solusi inovatif tidak terbatas pada satu bidang pekerjaan.
Di Barbour, Bassett menjelaskan kreativitas memiliki banyak bentuk dan pihaknya mencoba menelusuri hal itu lewat pertanyaan wawancara. Ia menyatakan, âWeâll ask questions that are quite generic around give us an example of when somethingâs not gone to plan and how did you get it back on track,â sambil menunjuk pada cara berpikir kreatif yang kerap menghasilkan solusi terbaik.
Terakhir, kemampuan mengevaluasi data juga dinilai penting, khususnya di dunia yang makin dipengaruhi AI. Pada perusahaan besar, orang yang direkrut diharapkan memahami dan mengawasi cara pengelolaan data berlangsung.
India Chaplin menekankan perlunya penerapan penilaian manusia untuk memastikan data yang diolah dapat dipercaya dan kredibel. Ia mengatakan bahwa data mentah tidak âtell a storyâ, sehingga manusia perlu merangkainya agar bermakna.
âWe need to pull that together, we need to think about why itâs important, what itâs telling us,â ujarnya. Dalam konteks bisnis, ini berarti mampu melihat dataâmisalnya prakiraan cuacaâuntuk membantu insinyur yang bekerja pada jaringan power lines menentukan informasi apa yang perlu dibagikan kepada tim lain.
Tekanan tenaga kerja dan arah kebijakan
Jude Hillary, ekonom yang memimpin proyek NFER, menyatakan bahwa keterampilan manusia inilah yang memungkinkan seseorang masuk dan mempertahankan pekerjaan pada level keterampilan yang lebih tinggi meski otomatisasi mulai berdampak. âThis is where the job growth is going to be in the labour market,â katanya.
Ia menambahkan, âItâs really important young people come into the labour market being able to compete for these jobsâ. Hillary juga meyakini fokus pada enam keterampilan esensial dapat membantu anak muda beradaptasi ketika perubahan besar terjadi.
âItâs increasingly likely that during the course of your working life, you might have to make some fairly dramatic changes in what youâre doing as your job gets replaced by technology,â ujarnya.
Dalam ulasan independen yang dipimpin Alan Milburn, mantan health secretary, perhatian juga tertuju pada skala anak muda yang tidak bekerja, tidak belajar, atau tidak ikut pelatihan. Laporan sementara menyebut 42% pemberi kerja mencantumkan kurangnya soft skills atau kesiapan bekerja sebagai tantangan saat merekrut anak muda.
Sementara itu, hanya 10% yang menyebut resiliensi anak muda sebagai perhatian terbesar berikutnya. Dari situ, ada tekanan agar sekolah, perguruan tinggi, dan kampus menyiapkan peserta didik menjadi work-ready seiring pembelajaran akademis.
Pemerintah Inggris melalui Perdana Menteri Andy Burnham juga telah menandai bahwa lebih banyak remaja diarahkan memulai pendidikan teknis pada usia 14. Burnham turut mendukung skema work experience untuk 10.000 anak muda yang diumumkan pekan ini oleh jaringan ritel Sainsburyâs.
Memasuki September, laporan final dari ulasan Milburn diharapkan memuat usulan untuk mendorong lebih banyak anak muda memasuki pekerjaan yang lebih aman.
Tambahan pelaporan dilakukan oleh Hannah Karpel.












