jurnalistik.co.id – Banyak orang tua berharap anak dapat tumbuh menjadi pribadi yang siap menghadapi beragam tantangan di masa depan. Dalam pandangan psikolog anak Michele Borba, bekal itu tidak cukup hanya berupa kecerdasan akademik, melainkan juga keterampilan yang membentuk ketahanan mental serta kemampuan bersosialisasi.
Melalui penjelasannya yang dikutip dari CNBC Make It, Borba merangkum tujuh keterampilan yang dinilai penting agar anak lebih peka terhadap diri sendiri, lebih tangguh saat menghadapi kesulitan, dan tetap bersemangat untuk terus berusaha. Menurut Borba, kemampuan-kemampuan tersebut dapat menjadi fondasi dalam menjalani kehidupan serta menjadi faktor pendukung kesuksesan di kemudian hari.
Percaya Diri
Borba menilai, banyak orang tua cenderung menyamakan harga diri dengan kepercayaan diri. Karena itu, tidak jarang muncul kalimat seperti “Kamu spesial” atau “Kamu bisa menjadi apapun yang kamu inginkan” saat mendampingi anak.
Namun, Borba menegaskan bahwa tidak ada bukti yang kuat menunjukkan harga diri otomatis meningkatkan kesuksesan akademis atau kebahagiaan anak. Di sisi lain, studi yang disebut Borba justru memperlihatkan bahwa anak-anak yang sukses umumnya percaya pada usaha dan kemampuan yang mereka miliki.
Rasa percaya diri sendiri biasanya tumbuh ketika anak pernah berhasil melakukan sesuatu dengan baik, sanggup menghadapi rintangan, mampu menemukan solusi, serta berani bersikap tegas pada dirinya. Borba juga mengingatkan bahwa terlalu sering ikut campur—apalagi sampai mengerjakan PR anak—bisa membuat anak memaknai situasi itu sebagai pesan tersirat bahwa orang tua tidak benar-benar yakin anak mampu.
Empati
Empati, menurut Borba, memiliki tiga bentuk. Empati afektif berkaitan dengan kemampuan berbagi perasaan dan merasakan emosi orang lain. Empati perilaku muncul saat kepedulian mendorong seseorang untuk bertindak. Sementara empati kognitif lebih menekankan pada kemampuan memahami pikiran orang lain dan mencoba menempatkan diri pada sudut pandang yang sama.
Untuk menumbuhkan empati, Borba menyarankan orang tua memulai dari pengenalan jenis emosi—mulai dari bahagia, kesal, marah, hingga sedih. Setelah itu, anak perlu dibantu mengenali emosi yang ia alami serta belajar cara mengungkapkannya dengan baik, termasuk melalui contoh nyata dari orang tua.
Orang tua juga dapat mengajak anak berdiskusi tentang perasaan orang lain. Misalnya, dengan bertanya, “Menurutmu, bagaimana perasaan orang itu? Kamu pernah merasakan itu enggak?” Langkah ini melatih anak untuk peka pada emosi orang sekitar sekaligus memperluas cara berpikir mereka.
Pengendalian Diri
Borba menempatkan pengendalian diri sebagai salah satu kunci kesuksesan anak. Kemampuan ini mencakup pengaturan perhatian, emosi, pikiran, tindakan, serta dorongan atau keinginan yang muncul.
Agar anak belajar mengelola diri, Borba menyarankan orang tua memberi isyarat yang jelas. Contohnya, ketika anak marah, orang tua bisa mengarahkan, “Kalau kamu marah, hitung sampai 10 sebelum kamu menjawab.”
Jika anak mulai ragu, orang tua dapat menuntun dengan kalimat, “Kalau kamu ragu, berhenti dulu. Lalu berpikir dan tenang.” Sedangkan ketika anak hendak melontarkan sesuatu, Borba juga mengajak penggunaan batasan yang mudah dipahami seperti, “Jangan mengatakan apapun yang kamu tidak mau dengar dari orang lain, ya.”
Berita Terkait
Integritas
Integritas bagi Borba bukan sekadar konsep moral yang abstrak. Ia tersusun dari keyakinan, kapasitas, sikap, serta keterampilan yang membuat anak dapat mengenali dan melakukan hal-hal yang baik.
Borba menekankan pentingnya memberi ruang bagi anak untuk mengembangkan identitasnya. Saat anak punya kesempatan membangun pemahamannya sendiri tentang siapa mereka, proses tumbuh menuju sosok yang sukses menjadi lebih nyata dan terarah.
Dalam praktiknya, orang tua dapat membangun integritas dengan mengakui sekaligus memuji perilaku positif yang dilakukan anak. Agar pemahaman anak semakin kuat, Borba menyarankan penggunaan kata “karena”, sehingga anak mengerti alasan di balik mengapa tindakan tersebut dinilai baik.
Rasa Ingin Tahu
Rasa ingin tahu menggambarkan dorongan anak untuk mengeksplorasi hal-hal baru yang menantang. Borba menyebutkan, orang tua dapat memancingnya melalui benda-benda sederhana yang mudah ditemukan, seperti cat, benang, kertas, hingga stik es krim.
Setelah menyediakan bahan, anak sebaiknya diberi ruang untuk bereksplorasi sendiri. Dengan cara itu, rasa ingin tahu tidak hanya menjadi respons sesaat, tetapi berkembang menjadi kebiasaan melihat kemungkinan dan mencoba hal baru.
Selain lewat benda, rasa ingin tahu juga dapat dipancing lewat pertanyaan. Borba memberi contoh, “Yuk, kita lihat apa yang akan terjadi!”, “Kalau menurut kamu bagaimana?”, serta “Wah, kok, kamu bisa tahu?” Pertanyaan-pertanyaan seperti ini mendorong anak berpikir aktif dan membangun rasa penasaran mereka sendiri.
Ketekunan
Ketekunan membantu anak bertahan ketika kondisi terasa sulit. Borba menilai, ketekunan akan semakin kuat jika orang tua membantu anak mengenali kesalahan tanpa menyudutkan, sekaligus mendorong anak membagi pekerjaan menjadi beberapa bagian agar lebih mudah dikerjakan.
Ketika proses terasa tidak terlalu berat, anak cenderung tetap termotivasi untuk bekerja keras dan menyelesaikan apa yang sudah dimulai, meski muncul kendala di sepanjang jalan.
Optimisme
Borba menyampaikan pandangannya bahwa anak-anak yang optimis cenderung memandang tantangan dan hambatan sebagai sesuatu yang bersifat sementara. Mereka juga lebih berpeluang melihat hambatan sebagai hal yang dapat diatasi, sehingga dorongan untuk menjadi sosok yang berhasil menjadi lebih besar.
Dalam tulisannya yang dikutip CNBC Make It, Borba menegaskan peran orang tua: optimisme harus dimiliki terlebih dahulu oleh orang tua sebelum diajarkan kepada anak. Alasannya sederhana namun penting, karena anak-anak akan mengadopsi sikap optimis yang mereka lihat dari orang tua sehari-hari.












