Pendidikan

Enam langkah agar orang tua bisa menghadapi transisi kembali ke sekolah dengan lebih ringan

×

Enam langkah agar orang tua bisa menghadapi transisi kembali ke sekolah dengan lebih ringan

Sebarkan artikel ini
Ilustrasi: Six ways parents could make the return to school a little easier

jurnalistik.co.id – Kegiatan kembali ke sekolah biasanya membawa perubahan besar bagi banyak keluarga: suasana santai musim liburan perlahan diganti dengan rutinitas yang lebih terjadwal. Di Inggris, Wales, dan Irlandia Utara, masa kembali ke sekolah berlangsung pada pekan-pekan awal ketika September mulai.

Bagi orang tua, tantangannya sering bukan hanya mengatur jam bangun dan berangkat, tetapi juga membantu anak menyesuaikan diri tanpa membuat hari pertama terasa menegangkan. Sejumlah pakar dan pendidik membagikan langkah-langkah praktis agar proses transisi ini berjalan lebih ringan.

Jaga rutinitas pagi tetap konsisten

Cerys Parker, guru dan blogger, menilai kunci pertama ada pada kestabilan rutinitas pagi. Ia memulai aktivitasnya 30 menit sebelum anak-anak bangun, untuk waktu sendiri dan secangkir kopi panas.

Setelah itu, Parker menyiapkan sarapan yang sama setiap pagi. Anak-anak kemudian makan bersama tanpa layar, lalu lanjut mandi dan bersiap berangkat sekolah.

Parker juga menaruh perhatian pada detail hari-hari tertentu. Ia menyimpan salinan jadwal anak agar tahu apa yang perlu disiapkan di hari tertentu, misalnya saat pelajaran olahraga.

Di malam hari, ia memastikan tas sekolah sudah siap, sepatu diletakkan, seragam dirapikan, dan bekal makan malam sudah dipaketkan. Pada pagi hari, ia membawa mereka ke luar pada pukul 07:30 untuk bus, atau pukul 07:50 bila ia mengantar langsung karena jadwalnya sendiri.

Menurut Parker, pendekatan “menempatkan barang di tempat yang sama” membuat pagi lebih lancar: “We have things in the same place, so the bags are always in the same location, the keys, and that makes the morning smoother. There’s no panic about where everything’s going to be.”

Buat kalender keluarga untuk hari-hari penting

Langkah berikutnya berkaitan dengan pengingat berbagai aktivitas di sepanjang tahun ajaran. Dalam kondisi sibuk, orang tua mudah lupa hari seperti kegiatan non-seragam, hari olahraga, atau sesi belajar tambahan.

Parker menyarankan keluarga memasang kalender yang bisa dilihat setiap hari, misalnya di dinding atau kulkas. “It’s an academic year calendar with a space for each of us, and then an events section, so as soon as a notice comes in, I write it down.”

Kalender itu bisa mencakup rencana makan, kegiatan ekstrakurikuler setelah sekolah, hingga—tergantung usia anak—hari ujian. Ia juga menekankan pentingnya mengingat tanggal libur dan momen di tahun akademik, termasuk: Children in Need (Friday, 13 November), World Book Day (Thursday, 4 March 2027), Red Nose Day (Friday, 19 March 2027), dan Earth Day (Thursday, 22 April 2027).

Parker menambahkan kebiasaan kecil yang membantu ketika ada kebutuhan mendadak. Sepanjang tahun ia menyiapkan kantong kecil berisi koin untuk berjaga-jaga bila anak memerlukan uang kembalian pada hari non-seragam atau saat ada aktivitas seperti penjualan kue.

Ubah cara bertanya tentang hari anak

Sepulang sekolah, banyak anak cenderung lelah dan tidak selalu siap bercerita panjang. Karena itu, Will Shield—profesor psikologi anak dan pendidikan dari University of Exeter—menyarankan perubahan pendekatan dalam percakapan.

Ia menekankan pentingnya bertanya dengan cara yang lebih terbuka: “Ask some open questions, instead of interrogating them,” katanya. Misalnya, orang tua bisa bertanya apa yang membuat anak tersenyum hari ini atau siapa yang ia mainkan saat jam makan siang.

Menurut Shield, jenis pertanyaan seperti itu lebih mudah dijawab dibanding menuntut laporan rinci. Ia juga menyarankan pilihan lain, seperti “What was the silliest thing that happened, or what made you laugh today?”

Untuk anak yang masih lebih muda, Dr Martha Deiros Collado mengingatkan bahwa momen penjemputan bukan tanda peringatan. “See it as part of the process of separating and loving you, missing you, which is really important.”

Kenalkan konsep sekolah sebelum hari besar

Bagi keluarga yang baru pertama kali mengirim anak ke sekolah, momen adaptasi sering terasa sama pentingnya bagi orang tua. Shield menyarankan orang tua menenangkan diri dengan menyiapkan rutinitas yang akan dijalankan pada pagi hari.

Ia menganjurkan langkah awal yang sederhana: “Visit the school, walk or drive past it, bring bedtimes back a bit earlier so it’s not just a big start in the first week,” ujarnya. Ia juga mendorong orang tua memperkenalkan gagasan sekolah melalui aktivitas seperti membaca buku tentang sekolah, menelusuri situs sekolah, serta mencoba seragam baru atau perlengkapan pelajaran olahraga.

Namun, Deiros Collado menegaskan agar informasi tidak dibebankan sekaligus. Ia mengingatkan agar anak tidak kewalahan, tetapi perlahan sampai pada titik yang terasa “familiar”.

Deiros Collado juga menjelaskan bahwa kesiapan sekolah tidak semata soal “numbers and letters”. “It’s about much more basic things, like feeling comfortable and safe to be in a classroom with other children,” kata dia.

Latih kemandirian dan kebiasaan minta bantuan

Pembentukan kemandirian dapat membantu anak menjembatani kehidupan di rumah dan di sekolah. Deiros Collado menyebut contoh sederhana seperti mendorong anak menyiapkan dirinya sendiri, misalnya mengencangkan resleting jaket.

Melalui kebiasaan itu, anak belajar rasa siap untuk melakukan sesuatu tanpa ditemani terus-menerus: “It’s just building that sense of, I’m ready to do this without you,” ujarnya. Meski demikian, ia menekankan satu kemampuan yang tidak boleh hilang: anak harus bisa meminta bantuan ketika diperlukan.

Deiros Collado menyarankan keterampilan penting untuk anak kecil agar mampu menyampaikan kebutuhan pada orang dewasa. Ia menegaskan bahwa orang tua perlu membiasakan kalimat “Help me” di hadapan anak, karena “you want your kid to be able to say that to a teacher.”

Untuk melatih latihan perpisahan, ia juga mengusulkan “goodbye ritual” yang ringan, seperti meniup ciuman.

Tata jadwal pekerjaan rumah secara mingguan

Katharine Radice—guru dan penulis—menyarankan orang tua membuat jadwal pekerjaan rumah yang disusun per minggu. Ia menjelaskan bahwa langkah ini memberi batas pada aktivitas PR dan membantu mengunci waktu yang minim gangguan.

Jadwalnya bisa berbeda mengikuti aktivitas lain di minggu tersebut, tetapi Radice menegaskan perlu ada rencana lebih dulu agar tidak dikerjakan di menit-menit terakhir. Untuk membantu anak saat mengerjakan PR, Radice menganjurkan pendekatan yang “positive and open way” dan mendengarkan bagian mana yang terasa sulit.

Ia juga menyarankan orang tua memberi pujian atas usaha anak agar motivasi tetap terjaga. “If your child thinks their outcomes won’t meet your expectations, they may start to feel that their effort is pointless,” katanya.

Dengarkan kecemasan, jangan langsung menenangkan dengan kalimat instan

Bila anak kembali sekolah dengan kecemasan tentang tahun yang akan dijalani, Shield menganjurkan orang tua duduk bersama dan benar-benar mendengar kekhawatiran tersebut. Ia menegaskan, jangan langsung menenangkan dengan kalimat “You’ll be fine” tanpa ruang untuk memahami kekhawatiran anak.

Shield menyebut alasan itu: “The child’s got no evidence they will be fine because they’re worried.” Ia menyarankan frasa yang menegaskan anak merasa didengar, misalnya “I can see you’re worried”.

Lebih jauh, orang tua perlu menggali detail kekhawatiran yang spesifik tentang sekolah. Shield juga mengajak untuk memberi dorongan pelan pada hal-hal positif yang disukai anak, seperti waktu makan siang atau kesempatan bermain olahraga bersama teman.

Jika kecemasan sudah terasa berat—anak tidak tidur, atau kekhawatiran itu mengganggu aktivitas harian—Shield menyarankan berbicara dengan sekolah atau dokter umum setempat (local GP).