jurnalistik.co.id – Kamis menjadi momen yang menentukan bagi ratusan ribu siswa di Inggris, Wales, dan Irlandia Utara ketika hasil A-level, BTEC, dan T-level diumumkan setelah berminggu-minggu menunggu.
Di berbagai sekolah, suasananya campuran: ada yang datang dengan tenaga penuh, ada pula yang tampak menahan napas. Banyak siswa menceritakan bagaimana perasaan mereka berubah dari cemas menuju lega, bahkan saat angka-angka akhir akhirnya terlihat.
Emily, siswa di Hartlepool yang belajar di English Martyrs School dan Sixth Form College, mengaku sempat merasa tidak enak badan sebelum mengetahui hasilnya. Ia mengatakan, âI’ve worked really hard, I’ve tried and that’s all I can do⊠and it’s paid offâ, dan menyebut dirinya âfelt a bit sickâ sebelum membaca nilai. Pada akhirnya, Emily meraih A*, A, dan B.
Baginya, kabar tersebut bukan sekadar nilai, tetapi juga pintu menuju rencana yang sudah ia pilih sejak awal. Emily menyatakan kini ia menantikan untuk memulai program degree apprenticeship guna menjadi seorang solicitor, karena ia menilai jalur itu lebih sesuai dengan kondisi kerja yang semakin sulit: ânow it’s harder to get a jobâ.
Di tengah kebahagiaan, sebagian siswa juga menyoroti bagaimana tahun ini terlihat berbeda. Artikel tersebut mencatat adanya rekor jumlah 18-tahun yang diterima ke universitas, serta semakin banyak yang berhasil masuk ke pilihan utama mereka (firm choice). Meski begitu, disebutkan jumlah peminat dalam populasi juga lebih besar dibanding tahun-tahun sebelumnya.
Untuk Anastasiia Sochka, hasil yang ia terima membawa beban harapan yang lebih panjang. Ia pindah ke Hartlepool dari Ukraina bersama ibunya, Victoria, pada musim panas 2022, setelah Rusia melancarkan invasi skala penuh. Anastasiia menceritakan pada awalnya ia sempat kesulitan menghadapi hambatan bahasa, tetapi tetap merasa sangat terharu ketika bisa memberi kabar baik kepada ayahnya.
Ayahnya bertugas dalam Angkatan Bersenjata Ukraina, dan Anastasiia mengatakan ia sangat bahagia ketika bisa menyampaikan hasilnya: ia meraih A* untuk mata pelajaran bahasa Rusia, A untuk psikologi, serta B untuk sosiologi. Ia menambahkan, âIt was nice to be able to give him that good news because I wanted to make him happy. I miss him a lot,â.
Anastasiia kini akan menempuh studi di Newcastle University. Ia berharap menjadi pekerja sosial dan menyampaikan bahwa situasi di Ukraina juga memberi dampak pada arah hidupnya: âLots of people are struggling in Ukraine now because of poverty due to the war, and I want to be able to help them,â. Ia juga menyebut pengalaman tersebut mengubah cara pandangnya, serta menyampaikan harapannya dengan kalimat, âSeeing what’s happened has influenced me and changed my life perspective. I hope that by the time I graduate, the war will be over.â
Bagi sebagian siswa lain, ada jeda yang dibutuhkan setelah hari-hari menunggu. Civ, yang juga akan kuliah di Newcastle University setelah meraih dua A* dan satu A, memilih merayakan dengan cara yang sederhana: kembali pulang dan âhaving a âlie-inââ. Ia mengatakan kepada BBC bahwa ia mungkin âmight go outâ nanti, setelah sempat menikmati tidur yang selama ini ia rindukan.
Berita Terkait
Di London, kegembiraan keluarga juga menjadi bagian dari pengumuman hasil. Ayah Michel mengatakan ia sangat terharu ketika mengetahui putranya memperoleh A*, A, dan A. Nilai tersebut menjadi tiket Michel untuk mengambil tempat studi political economy di Kingâs College London. Sang ayah bahkan menyampaikan dengan penuh semangat bahwa putranya akan menjadi âthe next prime ministerâ. Ia mengatakan, âI’m so proud of him, so proud of everyone, his mates, it’s amazing,â sebelum meminta kerumunan siswa untuk bersorak.
Kisah lain datang dari Canterbury, Kent, ketika tiga bersaudara kembar tripletâScarlett, Grace, dan Tabby Taylorâmerayakan hasil yang sama-sama membuka jalan ke universitas pilihan pertama. Mereka mengatakan merasa sangat senang untuk diri sendiri sekaligus satu sama lain.
Tabby menyatakan bahwa hasil tersebut menjadi bukti atas kemampuannya, âIt’s proven to me I can do university and I will be able to succeed,â. Scarlett menambahkan, âI can do what I want to do and get where I want to be,â.
Meskipun ketiganya akan menempuh pendidikan di tempat berbeda, mereka tetap menantikan waktu untuk saling mengunjungi di bulan-bulan dan tahun-tahun berikutnya. Scarlett menyebut, âWe will be able to see other places, it’s so cool.â Dari rencana studi mereka, Scarlett berangkat ke Oxford untuk mengambil geografi, Tabby akan menekuni tari di Bath Spa, sedangkan Grace memilih sejarah dan politik di Sussex.
Di Wales, cerita juga datang dari siswa yang sejak awal hidupnya tak pernah benar-benar berhenti oleh kesibukan. Bobi Jones, 18 tahun, adalah pemadam kebakaran paruh waktu (on-call) yang sudah menghadapi tugas lapangan ketika hasil diumumkan. Ia bergabung dengan Mid and West Wales Fire and Rescue Service pada musim gugur tahun lalu, saat ia masih belajar A-level dalam bidang business dan sport, sekaligus menempuh Welsh Baccalaureate.
Ia mengakui bahwa beberapa minggu terakhir penuh tuntutan, menyusul munculnya kebakaran hutan (wildfires). Bobi mengatakan, âIt’s been a great experienceâ, sambil mengakui bahwa ia âhad plenty on his plateâ.
Sementara itu, Nick Basher, 19 tahun, mengaku tersenyum lega begitu mengetahui ia memperoleh merit pada T-level bidang digital production design and development. Dalam penjelasannya, disebutkan bahwa T-level adalah kualifikasi vokasional untuk usia 16â19 di Inggris, yang dalam beberapa tahun terakhir semakin populer karena menawarkan jalur yang lebih jelas menuju pekerjaan di pasar kerja yang sulit.
Nick menyebut ada sedikit rasa gugup yang ia rasakan: âI’ve been waiting a couple of months so there’s been a little bit of nerves,â. Namun ia tidak sepenuhnya setegang sebagian siswa lain, karena sebelumnya ia sudah mendapatkan pekerjaan penuh waktu di sebuah kantor pengacara, tepatnya di departemen IT. Ia berharap bisa terus bertumbuh di perusahaan tersebut dan menilai peluang yang muncul: âI am hoping to continue that within the company and look at whatever opportunities arise during that,â.
Bagi mereka yang hasilnya tidak persis seperti yang diharapkan, pengumuman nilai tetap tidak menutup kemungkinan. Artikel itu menekankan bahwa keadaan yang tidak berjalan sesuai rencana tidak berarti seseorang tidak bisa melanjutkan pendidikan, memperoleh program magang/apprenticeship, atau mencari pekerjaan.
Jika nilai yang diperoleh hanya sedikit di bawah standar yang dibutuhkan universitas atau perguruan tinggi, pihak penerimaan bisa saja tetap mempertimbangkan dan menawarkan tempat di kursus lain. Ada juga opsi mengikuti proses clearing. Selain itu, kemungkinan re-sit untuk sebagian atau seluruh ujian tetap terbuka, dan siswa disarankan berdiskusi dengan sekolah atau perguruan tinggi mereka untuk menjajaki jalur tersebut.












