jurnalistik.co.id – Kematian Jason Arday telah menimbulkan guncangan besar di dunia akademik Inggris, terutama karena ia baru saja menjalani rangkaian kontroversi yang memecah komunitas kampus. Arday disebut meninggal dalam kondisi yang “tidak mencurigakan” dan merupakan kejadian yang datang tanpa diduga.
Menurut laporan BBC, Arday ditemukan tewas di Battersea, London selatan, pada Jumat. Pengangkatannya sebagai profesor sosiologi pendidikan di Universitas Cambridge pada 2023 sebelumnya menyita perhatian global, lantaran ia dinilai menjadi tokoh berkulit hitam yang sangat terlihat di lingkungan perguruan tinggi elite.
Cambridge diketahui secara terbuka merayakan latar belakang Arday ketika ia mendapatkan jabatan tersebut. Di tengah lanskap akademia Inggris, proporsi profesor berkulit hitam di universitas-universitas masih berada di kisaran “kurang dari satu persen”, sehingga kehadirannya dipandang sebagai bagian dari minoritas yang langka dan menonjol.
Kesempatan itu muncul pada periode yang beririsan dengan perdebatan luas pasca Black Lives Matter serta agenda “de-colonising the curriculum”. Karena konteks itulah, sejumlah pengamat menilai penunjukan Arday bukan hanya perekrutan akademik, tetapi juga simbol yang membawa pengawasan publik lebih besar dari biasanya.
Kontroversi kualitas riset dan tuduhan plagiarisme
Namun, pada Juli 2026, persoalan kualitas karya akademik Arday menjadi perhatian setelah pertanyaan yang sebelumnya dibahas secara privat muncul ke permukaan. Di antaranya terdapat tuduhan bahwa bagian dari karya riset pertamanya—yakni riset yang berujung pada gelar PhD dari Liverpool John Moores University—diduga mengandung unsur plagiarisme.
Intinya, tuduhan itu menyatakan Arday memakai kerja ilmiah pihak lain tanpa memberikan kredit yang memadai. Arday membantah klaim tersebut dan menyatakan bahwa apa yang terjadi tidak benar, sementara Liverpool John Moores University setelah meninjau kembali menyatakan bahwa mereka tetap berdiri di belakang kualitas risetnya.
Arday juga menyampaikan bahwa kemungkinan kesalahan terkait atribusi ia kaitkan dengan kondisi yang ia miliki, yaitu autisme. Ketika perbincangan melebar, media membedah jejak karya Arday yang pernah berada di Universitas Durham dan Glasgow, sementara di media sosial para akademisi terbelah—sebagian secara terbuka mendukungnya, sebagian lain menilai pekerjaannya tidak bertahan terhadap pengujian.
Dalam pandangan sejumlah akademisi, terutama di Cambridge, pemeriksaan ketat terhadap integritas riset dipandang sebagai “garis merah”. Di tengah kondisi itu, sebagian pihak bahkan mengirim surat kepada vice chancellor dan menuntut adanya penyelidikan independen karena mereka merasa reputasi universitas dipertaruhkan.
Riwayat hidup publik dan isu yang ikut dipersoalkan
Berita Terkait
Selain persoalan riset, perdebatan memperoleh sorotan luas karena Arday dikenal sebagai figur akademik publik—ia sering menceritakan kisah hidupnya. Dalam narasi yang ia sampaikan, ia merupakan anak autis yang tidak berbicara hingga usia 11 tahun, serta baru belajar membaca dan menulis pada usia 18.
Sejumlah aspek lain dari narasi personalnya kemudian turut diperiksa. Arday harus menjelaskan bahwa dana donasi sebesar £5 juta untuk amal disusun sebagai kerja kelompok, serta bahwa tantangan lari sejauh 600 mil memakan waktu dua kali lebih lama daripada klaim awal.
Beberapa orang yang semula menandatangani surat dukungan juga diketahui kemudian menarik nama mereka secara diam-diam. Ketika konflik memuncak, Arday mengundurkan diri dari posisinya di Cambridge pada minggu terakhir, dan ia mengatakan bahwa “accusations” yang berlangsung tanpa henti telah menimbulkan “profound toll” bagi dirinya dan keluarganya, serta ia menilai tuduhan itu bermotif rasial.
Sampai saat ini, masih ada pertanyaan yang belum terjawab dan kemungkinan akan menjadi bagian dari pertimbangan koroner, termasuk menyangkut keadaan serta kondisi mental Arday pada hari-hari sebelum ia meninggal. Setelah kematiannya, pihak keluarga menyampaikan bahwa Arday menghadapi “campaign of misinformation” yang dinilai terlalu berat untuk “gentle man” tersebut.
Sejumlah pihak lain berpandangan bahwa perhatian yang begitu tajam muncul karena Arday adalah pria kulit hitam dengan posisi yang sangat menonjol. Wali Kota London, Sir Sadiq Khan, menyebut Arday sebagai “the victim of a pernicious public shaming that other people in his position simply wouldn’t have faced”, menegaskan kematian itu sebuah tragedi sekaligus “wake up call” bagi banyak pihak.
Profesor kajian kulit hitam, Kehinde Andrews—sahabat Arday—mengatakan bahwa sorotan ini tidak berhenti pada dua pekan terakhir. Ia menyatakan melalui kutipan yang disampaikan ke Newsnight bahwa kisah dan perdebatan telah terjadi jauh sebelumnya, “this goes back three and a half years”, termasuk dengan menyebut adanya permintaan Freedom of Information pada hari Arday mendapat jabatan di Cambridge untuk memeriksa kredensialnya.
Andrews juga menggambarkan adanya upaya dari sejumlah pihak kanan di Amerika Serikat dan Inggris untuk menulis guna menilai kredibilitas Arday, serta menyinggung bahwa sebagian orang tidak percaya seorang pria kulit hitam semestinya berada pada posisi di Cambridge. Ia merangkumnya sebagai “three-and-a-half-year toll” yang akhirnya memuncak pada titik yang ia sebut sekarang.
Dalam perbincangan yang sudah terjadi, fakta penting lain adalah bahwa Arday berupaya mempertahankan reputasinya menggunakan bantuan firma pengacara berprofil tinggi untuk mengirim surat kepada seorang jurnalis dari Times Higher Education yang sebelumnya mempertanyakan karyanya. Universitas Cambridge, pada awalnya, sempat membela Arday dengan kuat, sebelum kemudian mengumumkan adanya penyelidikan terkait pengangkatan serta masa jabatannya di tengah ketidakpuasan yang makin meluas.
Ketika Cambridge bergerak pada 2023, universitas tersebut diketahui ingin menampilkan lebih banyak perekrutan non-kulit putih di tengah kritik soal kurangnya keberagaman. Namun, seseorang yang masuk ke jabatan bergengsi seperti itu tetap akan menghadapi sorotan, dan Arday disebut memiliki rekam jejak riset yang “lebih ringan” dibanding sebagian kandidat lain.
Dr Jo Grady, Sekretaris Jenderal University and College Union, menyebut kematian Arday sebagai “devastating”. Ia mengatakan “There are so many questions that need to be answered” dan menilai tingkat pelecehan serta rasisme yang dialami Arday “has been sickening”, sehingga harus ada penyelidikan.
Bagi Cambridge, kini tantangan tambahan muncul: bagaimana menjaga komunitas akademik tetap utuh di tengah situasi yang terbagi dan terkejut oleh kontroversi sekaligus kematian Arday. Cambridge telah mengumumkan penyelidikan terkait pengangkatan dan masa jabatan, serta meninjau bagaimana staf senior dipilih, tetapi semua rencana itu kini tertutup oleh peristiwa yang mendadak dan mengejutkan ini.












