jurnalistik.co.id – Menjelang tahun ajaran baru, banyak calon mahasiswa dipenuhi harapan sekaligus cemas. BBC News berbicara dengan sejumlah mahasiswa yang kini sudah menjalani perkuliahan untuk mengulas kekhawatiran yang mereka rasakan sebelum berangkat kampus, cara mereka menghadapinya, dan nasihat yang akan mereka berikan untuk freshers tahun ini.
Di tengah kabar bahwa tahun ini diperkirakan ada jumlah besar anak berusia 18 tahun yang akan mulai kuliah, wajar bila sebagian orang menata strategiâbukan hanya untuk akademik, tetapi juga untuk kehidupan baru yang terasa asing. Dari urusan berteman, rasa rindu rumah, hingga pengelolaan uang, para mahasiswa berbagi sudut pandang yang lebih personal dan praktis.
Isaak Hewitt, 20 tahun, menggambarkan pindah ke Cardiff sebagai âcompletely blank slateâ karena ia tidak mengenal siapa pun sebelumnya. Baginya, mendekati banyak orang untuk pertama kalinya setelah masa sekolah menengah terasa menegangkan, namun ia memilih cara sederhana: berbicara dengan orang-orang yang ditemuinya di kuliah dan seminar.
Ia sempat merasa âterrifiedâ ketika harus mulai percakapan, tetapi ia juga menyadari bahwa ada pijakan yang sama: mereka sama-sama belajar bidang yang dipilih. Karena itu, Isaak menasihati freshers untuk tampil percaya diri, walau sebenarnya gugup, serta berani membuka diri dan mengambil kesempatan untuk mengenal orang baru.
Seorang mahasiswa komuter di Nottingham, Grace Morrell, juga punya kekhawatiran tentang bagaimana ia akan bertemu teman. Ia tidak punya ruang yang sama seperti mahasiswa yang langsung berinteraksi di asrama, karena Grace justru harus membangun pergaulan dari lingkungan yang berbeda.
Menurut Grace, ia menemukan koneksi melalui kegiatan yang ia pilih sendiri, termasuk majalah kampus, serta organisasi radio dan teater. âA lot of my friendships come from putting myself out there and just doing what I love, which I found was a bit hard at times, especially when you don’t know anyone,â ujarnya, saat berusia 19 tahun.
Di sisi lain, Mustafa Dassu, 19 tahun, memanfaatkan obrolan grup WhatsApp sebelum hari pertama kuliah di Kingâs College London. Ia mengatakan bahwa selama periode dari hari hasil ujian hingga momen freshers, banyak percakapan terjadi terus-menerus di grup tersebut. Ia âmet friends that I’m still in touch with a lot today,â dan hubungan itu bertahan sampai saat ini.
Bagi sebagian freshers, tantangan terbesar bukan hanya perkenalan, tetapi juga rasa rindu. Izzy Garcez, 20 tahun, mengaku ia sangat khawatir harus menjalani hari-hari sendirian. Ia mengira malam-malamnya akan sangat berbeda karena tidak bisa lagi menikmati kebersamaan dengan keluarga saat makan dan menonton TV.
Namun pada akhirnya ia merasa rindu rumah tidak seberat yang ia bayangkan. Izzy menekankan bahwa kamu akan menemukan teman lebih cepat daripada yang diperkirakan, lalu perlahan menyadari bahwa panggilan ke orang tua tidak lagi terasa setiap hari. âRealistically, you’ll make friends so quickly at uni,â katanya, dan âyou’re going to get to a point where you realise ‘I’ve not called my parents in a week’, and you’ll realise that suddenly you’re not actually missing them anymore – or not missing them nearly as much.â
Urusan uang juga muncul sebagai perhatian yang serius. Kieran Miller, 19 tahunâmahasiswa jurnalisme dari Swanseaâmengatakan ia khawatir tentang keuangan sebelum berangkat. Ia melakukan perbandingan rekening bank mahasiswa dan memilih yang memberikan kartu Railcard gratis untuk usia 16-25.
Kieran juga mendaftar program diskon mahasiswa. Ia mengingatkan bahwa meski pencairan dana pemeliharaan (maintenance loan) terlihat seperti jumlah besar sekaligus, dana tersebut harus bertahan sampai cicilan berikutnya. âEverything you need to know about university costsâ menjadi semacam pengingat baginya, terutama karena gaya hidup kampus bisa membuat pengeluaran sulit dikendalikan.
Ia menyusun anggaran sementara dengan bantuan ibunya sebelum pindah. Kieran juga mengingatkan bahwa kebebasan baru sering membuat seseorang merasa lebih sulit untuk tetap ketat secara finansial. âWhen you start uni and you’re living away from your family and you’ve got this new sense of freedom it was also really difficult to stay strict financially because you want to make mates with people,â ungkapnya.
Ia menjelaskan bahwa undangan untuk makan atau keluar minum bisa membuat seseorang ragu untuk menolak. Dalam situasi itu, seseorang sering merasa segalanya harus dijalani agar bisa terhubung. âSomeone might invite you to go for food or to go for a drink – and you’re like, ‘I don’t really want to say no because this is a chance to connect with someone.’â
Berita Terkait
Selain pinjaman mahasiswa, Kieran menilai freshers perlu mengecek peluang beasiswa dan bursary yang biasanya tersedia di kampus. Banyak universitas menawarkan skema dukungan, sehingga penting untuk melihat apakah kamu memenuhi syarat.
Di luar urusan uang, ada pula tantangan menyeimbangkan jadwal. Banyak mahasiswa menjalani kelas dan studi sambil bekerja paruh waktu, relawan, klub olahraga, maupun organisasi kampus. Avery Hewitt, 19 tahun, bercerita bahwa sebelum mulai jurusan bahasa Inggris dan drama, ia cemas karena harus mengatur studi bersama pekerjaan dan bermain di sebuah band kampus.
Menurut Avery, berbicara secara daring dengan student ambassador membantu ia memahami beban kerja yang sebenarnya. Ia juga menganjurkan freshers untuk realistis terhadap jadwal dan kapasitas yang dimiliki. âI threw myself into everything in the first semester, which I quickly figured out was too much to handle,â katanya, lalu âso I had to make responsible choices about what societies or club nights I needed to cut back on.â
Bila masih ragu dengan pilihan jurusan, kesempatan untuk menyesuaikan juga ada. Pia Subong, 21 tahun, mengatakan bahwa walau tempatnya sudah dikonfirmasi, ia tetap merasa bisa mengubah arah. Setelah memulai studi di University of East Anglia, Pia menyadari biokimia bukan pilihan yang tepat untuknya, sehingga ia beralih ke film dan bahasa Inggris.
Jika kamu merasa ada keraguan tentang jurusan yang dipilih, Pia menilai perasaan itu bukan sesuatu yang harus diabaikan. âyou’re having these feelings for a reason,â ujarnya. Ia menambahkan bahwa freshers bisa menghubungi universitas sebelum mulai untuk menanyakan kemungkinan perubahan jurusan, termasuk melalui proses clearing bila ingin mendaftar di universitas lain.
Beberapa mahasiswa bahkan memilih jeda sebelum memutuskan jalan yang paling sesuai. Fatima Qureshi, 19 tahun, mengambil gap year karena tidak yakin jurusan mana yang ingin ia ambil atau karier seperti apa yang ingin ia jalani. Pada akhirnya ia memutuskan untuk belajar hukum, tetapi ia juga membayangkan bahwa jika ia memilih tahun sebelumnya, ia mungkin akan lebih condong pada biokimia atau farmasi.
Fatima menilai keputusan itu tepat. âIt was the best thing I could have done,â ujarnya. Cerita serupa datang dari Aashi Soni, 20 tahun, dari Leicester, yang sejak awal tahu bahwa kuliah bukan jalur yang cocok baginya.
Aashi mengaku ia merasa sistem pendidikan sebelumnya tidak mendorongnya ke arah magang seperti yang biasanya dipandang lebih terbuka. Ia lantas menolak tawaran universitas dan mengambil gap year untuk mencari magang yang sesuai. Pada akhirnya, ia memulai Level 6 degree apprenticeship di bidang penjualan di Coca-Cola Europacific Partners.
Menurut Aashi, jalur tersebut membantunya tumbuh dalam kepercayaan diri, memperoleh pengalaman langsung sambil tetap belajar, dan mendapatkan mentoring. Ia menegaskan bahwa kuliah bukan satu-satunya jalan yang tersedia.
Meenu Hettigama, 21 tahun, dari Walsall memulai perjalanan dari kursus media kreatif setelah lulus sekolah, tetapi ia segera berhenti dan memilih mengajukan magang. Ia kini berada pada tahap dua tahun dalam management degree apprenticeship di Amazon.
Meenu menekankan bahwa âUniversity is not the only pathway,â bahkan jika seseorang menganggapnya sebagai pilihan yang paling konvensional atau yang paling sering diharapkan keluarga. Untuk mencari peluang, ia menyarankan kandidat memeriksa situs pemerintah di Inggris, Welsh government, Northern Ireland government, serta apprenticeships.scot. Ia juga menyebut pencarian magang bisa dilakukan di platform seperti LinkedIn dan Indeed, serta mengikuti acara perekrutan magang.
Kecemasan saat memulai juga menjadi tema penting dalam berbagai cerita. Mel Kennedy, penasihat kesejahteraan mahasiswa di Ulster University, menjelaskan bahwa perubahan bisa terasa menakutkan, dan banyak orang mengalami rasa takut terhadap hal yang belum diketahui. Lindsay While, asisten direktur untuk student wellbeing dan welfare di Teesside University, setuju bahwa transisi besar seperti memulai kuliah sering memicu kecemasan dan ketidakpastian, walau pengalaman setiap orang tetap berbeda.
Untungnya, universitas menyediakan layanan yang bersifat praktis dan dukungan kesejahteraan. Layanan itu termasuk nasihat penganggaran, bantuan finansial, sesi konseling, serta dukungan akademik. Jika kamu membutuhkan bantuan sebelum semester dimulai, kamu juga bisa menghubungi pihak kampus lebih dulu.
Kesimpulannya, cerita para mahasiswa menunjukkan bahwa kekhawatiran tidak harus dihilangkan agar seseorang siap melangkah. Dengan cara mengatur diri, mencari dukungan yang tersedia, serta berani mencoba pendekatan yang sesuai dengan kondisi masing-masing, freshers bisa menavigasi transisi menuju kampus dengan lebih tenang dan terarah.












