jurnalistik.co.id – Profesor Universitas Cambridge, Jason Arday, mengundurkan diri dengan segera setelah sengketa plagiarisme yang menyeretnya menjadi pusat perhatian publik.
Dalam pernyataan yang dipublikasikan melalui Good Law Project pada Rabu, Arday menyampaikan bahwa ia telah âconcluded that the only way to bring this chapter to an end is to step awayâ.
Ia juga menegaskan bahwa pengunduran diri itu dilakukan âwith immediate effectâ.
Arday menyatakan bahwa menjadi profesor adalah âwithout question, the greatest professional privilege of my lifeâ.
Namun, ia menggambarkan periode setelah pengangkatan itu disertai pengawasan ketat serta serangan personal yang berlangsung terus-menerus.
Ia menulis, âthere comes a point when the personal cost becomes too greatâ.
Menurut Arday, biaya personal tersebut membuatnya sampai pada keputusan untuk mundur demi kesejahteraan dirinya dan keluarganya.
Ia menyampaikan, âfor my own wellbeing, for my family, and for those who have stood by me throughout this difficult period, I have concluded that the only way to bring this chapter to an end is to step awayâ.
Meski mundur dari posisinya, Arday menekankan bahwa langkah ini bukan akhir dari pekerjaan akademiknya.
Ia menyatakan, âthis is not the end of my workâ dan mengatakan ia membutuhkan âtime to healâ.
Arday menambahkan, âWhen that time comes, I will returnâ.
Investigasi Cambridge berbasis ânew informationâ
Pada hari yang sama, Universitas Cambridge mengonfirmasi bahwa proses penyelidikan telah dimulai âfollowing new informationâ terkait âacademic qualifications and honorary appointmentsâ Arday.
Universitas itu menyatakan masih terdapat âa number of ongoing complaints regarding academic misconductâ.
Cambridge menegaskan bahwa proses tetap harus menyeluruh dan mengikuti kebijakan kampus serta hukum ketenagakerjaan.
Dalam pernyataan resminya, kampus menyebut: âWhile we are fully aware of the public commentary and concerns around this matter, it remains vital that any process is thorough and adheres to both university policies and employment law. We also fully recognise that there is a person at the centre of this situation, and we continue to provide support to him.â
Universitas juga menyebut bahwa pihak kampus mengakui adanya kekhawatiran di ruang publik, tetapi tetap menempatkan prosedur formal sebagai landasan penyelesaian.
Sementara itu, Jesus Collegeâtempat Arday berstatus fellowâmenyampaikan bahwa mereka meluncurkan prosesnya sendiri yang âparallelâ dengan penyelidikan universitas.
Arday menanggapi tuduhan dari Nathan Cofnas
Sengketa ini mencuat setelah Nathan Cofnas, seorang akademik yang menyebut dirinya ârace realistâ, menyatakan bahwa ia menemukan banyak contoh plagiarisme dalam karya Arday.
Cofnas sebelumnya diberhentikan dari perannya di Cambridge pada 2024.
Dalam narasi yang berkembang, Cofnas menuduh Arday melakukan plagiarisme dan juga mempertanyakan sejumlah capaian yang disebutkan Arday.
Berita Terkait
Arday mengakui adanya kesalahan dalam karyanya, tetapi ia menolak label kebohongan.
Di luar pengunduran dirinya, isu ini juga terkait cara pandang Cofnas yang memicu gelombang kritik.
Peran Cofnas berakhir setelah ia menuai reaksi atas pandangannya bahwa dalam âtrue meritocracyâ, orang kulit hitam akan âdisappear from almost all high-profile positions outside of sports and entertainmentâ.
Dalam publikasi di Substack, Cofnas mengaku telah memeriksa karya Arday menggunakan perangkat lunak pendeteksi plagiarisme.
Ia menulis bahwa perangkat lunak tersebut menemukan, âmany passages are lifted with minimal editing, sometimes retaining copy-editing mistakes from the original sourceâ.
Arday kemudian membahas tuduhan tersebut dalam wawancara dengan The Times pada Sabtu.
Ia menyampaikan bahwa ia bertanggung jawab atas kesalahan yang dimaksud, tetapi menegaskan, âwhat I am not is a liarâ.
Arday juga menyebut ada upaya sistematis untuk menjatuhkan posisinya di Cambridge sejak ia tiba.
Ia mengatakan kepada The Times, âThere has been, since I arrived at Cambridge, a very well orchestrated and co-ordinated campaign to unseat me from my position.â
Ia lantas menyatakan dugaan bahwa kampanye tersebut memiliki motif rasial.
Menurut Arday, ia menjadi âa lightning rodâ bagi kritik terhadap kebijakan keberagaman, kesetaraan, dan inklusi atau DEI.
Dalam wawancara tersebut, Arday juga menjelaskan bahwa beberapa kesalahan pada karya akademiknya di masa awal terkait kondisi autism yang ia miliki.
Ia mengatakan bahwa ia mengandalkan âusing mimicry to make sense of informationâ, sehingga ia memperkirakan pengawasan serupa akan menemukan kesalahan yang sejenis pada karya akademik akademisi lain.
Arday menambahkan kutipan yang menegaskan penolakannya terhadap tuduhan moralitas.
Ia mengatakan, âWeâre talking about academia here. I didnât murder somebody. I think the cruelty that Iâve experienced and the positioning of me as this kind of liar and fantasist is totally unacceptable,â dalam perbincangan itu.
Jejak karier dan posisi Arday di Cambridge
Jason Arday di Cambridge sebelumnya dikenal sebagai sosiolog yang pada 2023 menjadi profesor kulit hitam termuda yang pernah diangkat di kampus tersebut.
Usianya saat itu 37 tahun.
Pengangkatan Arday memunculkan sorotan tersendiri, baik dari sisi representasi maupun dari perhatian publik terhadap perdebatan akademik yang berkembang setelahnya.
Ketika tuduhan plagiarisme mengemuka dan proses penyelidikan berjalan, Arday memilih mundur dengan alasan yang ia kaitkan langsung dengan beban pengawasan publik dan dampak personal.
Dalam penutup pernyataannya, ia menekankan bahwa ia âneeded time to healâ dan menegaskan niatnya untuk kembali ketika waktunya tiba.
Dengan pengunduran diri yang berlaku segera, Cambridge kini melanjutkan proses di bawah penyelidikan resmi, sementara Jesus College menjalankan langkahnya secara paralel.
Bagi Arday, langkah mundur diposisikan sebagai jalan untuk mengakhiri âchapterâ yang sedang berlangsung, tanpa mengklaim bahwa pekerjaan akademiknya sudah selesai sepenuhnya.












