Pendidikan

Saat Anak Ketahuan Bohong, Orang Tua Disarankan Menggunakan Kalimat Ini agar Anak Mau Bercerita

×

Saat Anak Ketahuan Bohong, Orang Tua Disarankan Menggunakan Kalimat Ini agar Anak Mau Bercerita

Sebarkan artikel ini
Ilustrasi: Ayah-Ibu Jangan Ucap Ini Saat Tahu Anak Bohong, Pakai Kalimat Lain

jurnalistik.co.id – Ketika orang tua mengetahui anak tidak berkata jujur, reaksi spontan seperti kecewa, marah, atau khawatir kerap muncul begitu saja. Namun, cara respons itu dilontarkan dapat menentukan apakah anak justru merasa aman untuk bercerita, atau makin menutup diri.

Dalam beberapa situasi, anak bisa memilih mempertahankan kebohongannya ketika merasa tertekan atau terpojok. Karena itu, pendekatan komunikasi dari orang tua menjadi bagian penting yang perlu dipikirkan, bukan sekadar “membuktikan” kesalahan anak.

Mengutip Beautynesia, seorang psikolog menekankan perlunya mengganti pertanyaan bernada menuduh dengan kalimat yang mengundang anak menjelaskan kejadian dari sudut pandangnya. Tujuannya agar komunikasi tetap berjalan aman, tanpa anak merasa sedang dijebak.

Kalimat yang disarankan psikolog

Psikiater klinis bersertifikat, Dr. Tamir Aldad, menyarankan orang tua menggunakan kalimat: “Ayah/Ibu sudah tahu apa yang terjadi. Ayah/Ibu hanya ingin mendengarnya langsung darimu.”

Menurut Aldad, pilihan kata seperti itu membantu menghilangkan kesan bahwa anak sedang diuji untuk memberikan jawaban tertentu. Dengan demikian, anak tidak langsung diposisikan sebagai “pembohong” sejak awal percakapan.

Ia juga menjelaskan bahwa kalimat tersebut menunjukkan orang tua mengetahui situasinya sekaligus memberi kesempatan bagi anak untuk mengungkapkan kejadian dengan jujur. Aldad menegaskan, “Perubahan pendekatan ini jauh lebih penting daripada yang disadari banyak orang karena mengubah apa yang sebenarnya diminta dari anak. Mereka tidak lagi dihadapkan pada pilihan antara mengakui atau menyangkal. Mereka justru diberi kesempatan untuk berkata jujur kepada seseorang yang sudah mengetahui fakta sebenarnya,”

Fokusnya bergeser dari upaya mencari “kebenaran versi orang tua” menjadi ruang bagi anak untuk menyampaikan apa yang sebenarnya terjadi. Pada saat inilah peluang kejujuran biasanya lebih terbuka, karena anak merasa didengar, bukan disudutkan.

Hindari pertanyaan yang terasa menuduh

Di sisi lain, psikolog klinis bersertifikat, Dr. Jenny Yip, menilai pertanyaan yang terdengar seperti ujian dapat membuat anak merasa sedang “dinilai” atau “diuji”. Ia mencontohkan pertanyaan seperti, “Apakah kamu yang melakukan ini?” yang justru bisa memicu tekanan pada anak.

Yip menjelaskan bahwa anak cepat menangkap pesan di balik pertanyaan tersebut. Saat anak merasa sedang menghadapi ujian, perhatian mereka bisa berubah dari niat berkata jujur menjadi upaya mencari cara agar terbebas dari situasi yang dianggap mengancam.

Yip, yang juga penulis buku Hello Baby, Goodbye Intrusive Thoughts, menekankan bahwa perkembangan otak anak berlangsung bertahap. Anak masih belajar mengendalikan impuls, mengelola emosi, sekaligus mempertimbangkan dampak tindakan yang dilakukan.

Ketika muncul ancaman seperti hukuman, rasa kecewa dari orang tua, atau kemungkinan kehilangan kedekatan dengan orang yang mereka sayangi, respons bertahan hidup pada anak dapat menjadi lebih dominan dibandingkan kemampuan mereka untuk berpikir secara rasional. Dalam kondisi ini, pertanyaan yang jawabannya sudah diketahui bisa mendorong anak memilih kebohongan untuk menghindari konsekuensi langsung.

Karena itu, Yip menyarankan orang tua tidak mengajukan pertanyaan yang jawabannya sudah diketahui. Sebagai gantinya, orang tua dapat menyampaikan fakta yang terlihat dan meminta anak menjelaskan apa yang terjadi.

Misalnya, ketika menemukan lampu pecah, orang tua bisa mengatakan: “Ibu/Ayah melihat lampunya pecah. Bantu Ibu/Ayah memahami apa yang terjadi.”

Yip menilai pendekatan seperti ini membuat anak lebih terdorong memberikan penjelasan, dibandingkan langsung menyanggah tuduhan. Anak diberi peran untuk membantu orang tua memahami situasi, bukan sekadar “membela diri” dari kecurigaan.

Menjaga rasa aman agar anak mau jujur

Dr. Tamir Aldad menambahkan bahwa anak cenderung menghindari ancaman yang dirasakan dalam waktu dekat dibandingkan memikirkan konsekuensi yang mungkin muncul di kemudian hari. Karena itu, pertanyaan bernada menjebak dapat membuat anak memilih berbohong demi menghindari konsekuensi langsung.

Jika pola komunikasi seperti ini terus berulang, hubungan orang tua dan anak juga bisa terdampak. Anak dapat merasa setiap percakapan mengenai kesalahan merupakan upaya untuk menjebaknya, bukan kesempatan untuk berbicara secara terbuka.

Padahal, membangun rasa aman dalam komunikasi adalah fondasi agar anak terbiasa mengakui kesalahan dan menceritakan apa yang sebenarnya terjadi. Ketika orang tua mengubah cara bertanya dari menuduh menjadi mengajak anak menjelaskan, suasana yang lebih kondusif terbentuk untuk memelihara kejujuran sekaligus menjaga kepercayaan dalam keluarga.