Bisnis & Ekonomi

Harga Bensin Eropa Capai Rekor Tertinggi, Inflasi Melonjak

×

Harga Bensin Eropa Capai Rekor Tertinggi, Inflasi Melonjak

Sebarkan artikel ini
Ilustrasi: Harga Bensin di Eropa Tembus Rekor Tertinggi, Inflasi Meledak!

jurnalistik.co.id – Komisi Eropa melaporkan tingginya harga bensin di sejumlah negara Uni Eropa, seiring berkepanjangannya konflik di Timur Tengah yang terus mengerek biaya energi.

Dalam rangkaian data terbaru, harga satu liter bensin rata-rata tertimbang kawasan Uni Eropa tercatat mencapai €2,063 per liter pada 14 September. Pada waktu yang sama, harga solar berada di level €2,159 per liter.

“Kedua angka tersebut merupakan angka tertinggi dalam rangkaian data Komisi Eropa yang dimulai pada 2005,” demikian bunyi keterangan yang disampaikan Euronews, Minggu (20/9/2026).

Menurut catatan Komisi Eropa, puncak harga bensin sebelumnya terjadi pada 2022. Sementara itu, untuk solar, level terakhir yang mendekati kondisi saat ini tercatat pada April.

Komisi Eropa juga menekankan bahwa lonjakan terjadi secara luas, namun tidak seragam di seluruh wilayah. Di antara negara-negara Uni Eropa, Malta menjadi yang termurah untuk bensin dengan harga €1,34 per liter, sedangkan Denmark mencatat harga tertinggi di angka €2,56 per liter.

Untuk solar, variasinya lebih lebar. Harga solar berada di kisaran €1,21 per liter di Malta hingga €2,51 per liter di Finlandia.

Angka-angka tersebut dimuat dalam Buletin Minyak Mingguan terbaru Komisi Eropa yang diterbitkan pada 17 September. Buletin itu menggunakan harga yang dilaporkan pada 14 September, dan seluruh angka disebut sudah memperhitungkan pajak.

Dalam cakupan lebih dari dua dekade, Komisi Eropa menyebut bahwa biaya untuk mengisi bahan bakar mobil rata-rata tidak pernah semahal ini di seluruh Uni Eropa. Dengan mengacu pada harga rata-rata terbaru, diperlukan sekitar €103 untuk mengisi tangki 50 liter bensin, sementara solar membutuhkan sekitar €108.

Tekanan pada harga eceran, menurut laporan yang sama, meningkat sejak pecahnya konflik di Timur Tengah. Kenaikan itu kemudian ikut memengaruhi dinamika inflasi, khususnya di zona euro.

Data Bank Sentral Eropa (ECB) menunjukkan inflasi energi zona euro naik menjadi 14,3% pada bulan Agustus, dari 10,3% pada bulan Juli. Kenaikan ini terkait dengan lonjakan harga bahan bakar yang telah berlangsung berbulan-bulan.

ECB mengaitkan proses kenaikan tersebut dengan perang yang melibatkan Iran yang pecah pada akhir Februari. Gangguan yang terjadi disebut mengganggu aliran energi melalui Selat Hormuz, sehingga menguatkan biaya energi dan pada akhirnya merembet ke harga di SPBU.

Di sisi pasar internasional, harga minyak mentah Brent—sebagai patokan global—sempat naik di atas $126 saat puncak konflik. Pada Jumat, Brent diperdagangkan lebih dari $104 per barel untuk pengiriman bulan berikutnya. Adapun sebelum perang pecah, Brent berada di kisaran sekitar $72 per barel.

Namun, kenaikan harga bensin dan solar tidak dipengaruhi oleh harga minyak mentah saja. Disebutkan bahwa biaya serta margin penyulingan ikut meningkat secara signifikan, sehingga semakin menekan harga produk bahan bakar saat sampai ke level eceran.

Margin penyulingan sendiri mencerminkan selisih antara biaya minyak mentah dan harga produk olahan, seperti bensin dan solar. Dalam penjelasan para ahli, margin bensin disebut tampak telah mencapai puncaknya, sedangkan margin solar diperkirakan belum sampai titik tertingginya hingga Oktober.

Para ahli ECB menyampaikan kepada Euronews bahwa margin penyulingan kini memberi kontribusi besar terhadap harga solar. Mereka memperkirakan, pada minggu ketiga bulan September, margin penyulingan telah memberikan kontribusi sebesar €0,41 atau 19% dari harga jual di SPBU untuk solar, serta €0,17 atau 8% dari harga jual di SPBU untuk bensin di zona euro.

Di samping faktor biaya, ECB juga menyoroti risiko lanjutan dari gangguan pasokan energi. Dalam pernyataan kebijakan moneter yang diterbitkan pada 10 September, ECB mengingatkan bahwa “gangguan pasokan energi yang kembali terjadi dapat menyebabkan harga energi naik lebih lanjut dan lebih lama dari yang diperkirakan saat ini.”

Dengan demikian, prospek penurunan harga akan bergantung pada pemulihan rantai energi dan proses pengolahan. Para ahli ECB menyebut bahwa berakhirnya konflik di Timur Tengah serta pulihnya aliran energi dan penyulingan menjadi kunci agar harga energi dapat turun, sekaligus meredakan tekanan inflasi yang sedang meningkat.