Pendidikan

Jagung Ternyata Bisa Mematikan: Ini 5 Tanaman Beracun di Indonesia

×

Jagung Ternyata Bisa Mematikan: Ini 5 Tanaman Beracun di Indonesia

Sebarkan artikel ini
Ilustrasi: Siapa Sangka Jagung Bisa Mematikan, Termasuk 5 Tanaman Ini

jurnalistik.co.id – Tidak semua tanaman tampak ramah karena bentuknya menarik. Sejumlah spesies justru menyimpan zat beracun sebagai bagian dari mekanisme pertahanan, sehingga dapat membahayakan manusia bila tersentuh, terhirup, atau masuk ke dalam tubuh.

Dampak racun pada beberapa jenis tumbuhan bisa beragam, mulai dari iritasi dan gangguan pada sistem saraf, hingga memicu halusinasi serta gangguan jantung. Pada kondisi tertentu, risikonya bisa berujung pada kematian.

Discover Wildlife dan Royal Horticultural Society (RHS) mencatat sejumlah tanaman yang tergolong sangat berbahaya. Di Indonesia, beberapa di antaranya juga tumbuh atau dibudidayakan, sehingga penting memahami bagian mana yang berisiko dan cara penanganannya.

Buah bintaro (Cerbera odollam)

Bintaro dikenal dengan julukan suicide tree. Pada spesies ini, bagian biji mengandung cerberin, senyawa yang dapat mengganggu kerja jantung.

Dalam kasus berat, racun tersebut dapat menyebabkan henti jantung. Kew Science mencatat Cerbera odollam tumbuh secara alami di Jawa, Sumatra, Sulawesi, dan Kalimantan.

Saga rambat (Rosary pea)

Saga rambat memiliki biji merah dengan ujung hitam yang kerap dijadikan ornamen. Namun, bijinya mengandung abrin yang termasuk racun sangat kuat.

Jika biji rusak atau dikunyah dan abrin masuk ke dalam tubuh, keracunan dapat memicu mual, muntah, hingga kejang. Racun ini juga disebut bisa menyebabkan kerusakan organ dan berujung pada kematian.

Bunga mentega (Oleander)

Oleander dikenal sebagai tanaman hias dengan bunga berwarna merah muda yang mencolok. Meski tampilannya menarik, tanaman ini mengandung cardiac glycosides yang dapat mengganggu irama dan fungsi jantung jika tertelan.

Oleander bukan tanaman asli Indonesia, tetapi telah diperkenalkan dan tumbuh di beberapa wilayah. Kew Science mencatat keberadaannya antara lain di Jawa dan Kepulauan Sunda Kecil.

Kecubung (Datura metel)

Kecubung, atau Datura metel, merupakan tanaman semak dari keluarga terong-terongan. Bunganya berbentuk terompet berwarna putih atau ungu, sementara buahnya bulat berduri.

Tanaman ini banyak ditemukan di daerah tropis termasuk Indonesia, dan kerap dipelihara karena bentuk bunganya yang khas. Di sisi lain, kecubung juga dikenal dalam pengobatan tradisional untuk sejumlah keluhan seperti memar, sakit gigi, demam, rematik, asam urat, dan asma.

Meski demikian, kecubung mengandung senyawa beracun yang dapat memengaruhi sistem saraf. Risiko yang disebut mencakup halusinasi, gangguan denyut jantung, hingga kejang, bahkan kondisi yang mengancam nyawa jika dikonsumsi atau disalahgunakan.

Tembakau (Nicotiana tabacum)

Tembakau mungkin menjadi tanaman paling dikenal dalam daftar ini. Seluruh bagian tanaman mengandung alkaloid, terutama nikotin dan anabasine, dengan konsentrasi tinggi pada daun.

Discover Wildlife mencatat tembakau dapat bersifat racun apabila dikonsumsi secara langsung. RHS juga menyoroti dampak yang jauh lebih besar dari produk tembakau, yang secara global menyebabkan jutaan kematian setiap tahun akibat konsumsi rokok dan paparan asapnya.

Tanaman ini telah lama dibudidayakan secara komersial di Indonesia. Nicotiana tabacum telah diperkenalkan ke Jawa dan banyak wilayah tropis lain di dunia.

Jagung (Zea mays)

Nama jagung dalam daftar tanaman berbahaya terasa mengejutkan, tetapi sumber menyebutnya bukan beracun seperti kecubung atau oleander. RHS memasukkan jagung karena pola konsumsi jangka panjang tanpa pengolahan yang memungkinkan tubuh menyerap vitamin B3 atau niasin.

Kekurangan niasin dalam kondisi tertentu dapat menyebabkan pellagra. Kondisi ini dapat memicu dermatitis, diare, gangguan neurologis, hingga kematian bila tidak ditangani.

Risiko tersebut terutama muncul ketika jagung mendominasi pola makan dan asupan niasin dari sumber lain sangat rendah. Karena itu, konsumsi jagung dalam pola makan normal dan seimbang disebut bukan berarti berbahaya.

Jagung sendiri telah tersebar luas, termasuk di Jawa, Sumatra, Maluku, dan Kepulauan Sunda Kecil. Di sisi lain, jagung yang disimpan dalam kondisi lembap berisiko terkontaminasi jamur yang menghasilkan mikotoksin, seperti aflatoksin dan fumonisin.

Ini menjadi risiko serius karena toksinnya tidak selalu terlihat dari penampilan jagung. Jika jagung sudah berjamur, berubah warna, berbau aneh, atau membusuk, sebaiknya tidak dimakan karena proses memasak tidak selalu menghilangkan seluruh mikotoksin.

Sementara itu, jagung mentah bukan berarti beracun, namun lebih sulit dicerna dan berpotensi membawa kontaminasi mikroba jika tidak ditangani dengan baik.

Beracun, tapi tetap punya nilai ekonomi

Status “beracun” tidak otomatis berarti tanaman tersebut tidak berguna. Bahkan beberapa jenis dalam daftar ini justru menjadi komoditas penting.

Tembakau adalah contoh paling jelas. Nicotiana tabacum disebut sebagai spesies tembakau komersial utama yang dibudidayakan luas di berbagai negara, termasuk Indonesia.

Jagung juga memiliki nilai ekonomi yang besar karena menjadi bahan pangan, pakan ternak, hingga bahan baku industri. Oleander bernilai sebagai tanaman hias, sementara rosary pea pernah dimanfaatkan sebagai ornamen dan perhiasan karena bentuk bijinya yang menarik.

Dengan demikian, perbedaan utamanya terletak pada pemanfaatan dan bagian mana yang berpotensi menimbulkan bahaya. Racun yang menjadi mekanisme pertahanan alami tanaman dapat hidup berdampingan dengan nilai ekonomi, pangan, maupun ornamentalnya.