Pendidikan

Siklus ujian ulang GCSE “relentless” dinilai “simply not working”, kata serikat

×

Siklus ujian ulang GCSE “relentless” dinilai “simply not working”, kata serikat

Sebarkan artikel ini
Ilustrasi: 'Relentless' GCSE resit cycle 'simply not working', union says

jurnalistik.co.id – Sejumlah pemimpin sekolah dan perguruan pendidikan lanjutan di Inggris menilai praktik mengulang (resit) GCSE matematika dan bahasa Inggris yang berlangsung berulang-ulang tidak memberikan perbaikan berarti. Mereka menyebut siklus itu “simply not working” menurut pernyataan Asosiasi School and College Leaders (ASCL).

ASCL mengatakan “a significant proportion” dari peserta didik masih belum memenuhi batas kelulusan untuk dua mata pelajaran tersebut. “Most who retake those exams face the miserable experience of falling short once again,” tambah organisasi itu, mengisyaratkan bahwa banyak siswa yang mengulang justru kembali gagal.

Data hasil Kamis menunjukkan hampir “one in four” ujian GCSE matematika dan bahasa Inggris diambil oleh siswa berusia 17 tahun ke atas. Mayoritas dari kelompok ini merupakan peserta yang mengulang setelah sebelumnya tidak lulus.

Pemerintah, di sisi lain, menegaskan ingin menghentikan “endless treadmill of unnecessary resits”. Pemerintah menyebut akan memperkenalkan kualifikasi baru mulai 2028 pada Level 1—setingkat satu level di bawah GCSE—bagi siswa yang tidak mencapai nilai lulus pada matematika atau bahasa Inggris GCSE.

ASCL menilai kondisi yang terjadi saat ini menyulitkan arah belajar dan masa depan siswa. Pepe Di’Iasio, sekretaris jenderal ASCL, menggambarkan proses resit sebagai “force feeding” siswa dengan “relentless diet of GCSE English and maths”. Ia menyatakan hal itu “limits their education and career options” dan “is very likely to be a factor in the large number of young people who end up not in employment, education or training”.

Tingkat kelulusan untuk peserta usia 17 tahun ke atas pada bahasa Inggris dan matematika, menurut laporan yang menjadi dasar pernyataan ASCL, jauh lebih rendah dibanding siswa berusia 16 tahun yang mengikuti ujian untuk pertama kali. Akibatnya, pencapaian GCSE secara keseluruhan dinilai terdampak lintas usia di Inggris, Wales, dan Irlandia Utara.

Meski resit tidak diwajibkan, Departemen Pendidikan (DfE) menyebut perguruan/college umumnya tetap mendaftarkan siswa ke ujian ketika lembaga menilai mereka sudah siap. Dalam konteks ini, pilihan “stepping stone” diharapkan memberi jalur alternatif: siswa dapat diarahkan ke kualifikasi baru setelah sudah duduk untuk GCSE matematika dan bahasa Inggris, tetapi tidak meraih kelulusan.

DfE menyatakan kualifikasi tersebut akan “give students the essential knowledge and skills” sebelum siswa mengulang GCSE lagi. Setelah itu, siswa “only be entered into exams when they are ready”, sebagai upaya agar pengulangan ujian terjadi pada waktu yang lebih tepat.

Salah satu kisah yang disampaikan datang dari Marianne di Cambridgeshire. Ia mengatakan “results day has been a ‘mixed bag’” karena kedua putranya, Tobias dan Jake, menerima hasil ujian. Jake meraih nilai 8 untuk matematika, tetapi kakaknya, Tobias, tidak memperoleh kelulusan yang diinginkan setelah ujian itu dijalaninya untuk kali kelima.

Marianne menceritakan Tobias sangat terdampak secara emosional. “He was very upset,” katanya, lalu menambahkan bahwa putranya “turns up for his lessons, he puts great effort in, there’s just something about maths he doesn’t get. What do we do now?” Ia juga menilai proses berulang itu berat: “It’s horrendous making him keep doing it. I don’t think it’s fair, the pressure on them to keep resitting it,” ujarnya.

Marianne menjelaskan Tobias telah meraih hasil A-level pekan lalu—nilai B pada sejarah serta dua C untuk politik dan kriminologi—namun rencana masuk universitas untuk menjadi guru sejarah belum bisa berjalan tanpa lulus matematika. Baginya, kualifikasi baru diharapkan menjadi alternatif agar siswa tetap bergerak maju tanpa harus terjebak pada pengulangan yang tidak berujung.

Harapan serupa juga disorot dari Abdi, 17 tahun, yang tinggal di London timur. Ia gagal mencapai kelulusan pada matematika dan bahasa Inggris untuk kali ketiga. Abdi mengatakan, “I have to get my retakes right next time, or they won’t let me complete my course at college,” dan menambahkan, “My school has provided extra classes to help prepare for the exams, but you have to be self-disciplined because juggling resits and college is not easy.”

Di sisi lain, Catherine Sezen dari Association of Colleges menyambut wacana stepping stone, tetapi menekankan agar opsi itu tersedia jauh sebelum siswa gagal GCSE. Ia menyatakan perlu melihat proses dari tahap awal: “We have to look at what happens probably from reception right the way through, because young people who don’t achieve very well in their SATs at 11 are really unlikely to achieve a grade 4 at 16.” Sezen menilai angka resit tahun ini “disappointing and slightly demoralising for everybody” namun bukan “a huge surprise”, dan ia mengaitkannya dengan dampak berkelanjutan pandemi: “These young people would have been in Years 6, 7 and 8, and so possibly haven’t necessarily got the basic foundations in these subjects which are really fundamental.”

Meski demikian, resit tidak selalu berujung pada kebuntuan. Amandeep, 17 tahun, yang sebelumnya tidak lulus matematika maupun bahasa Inggris bahasa GCSE tahun lalu, pada hari Kamis justru meraih kelulusan dengan nilai 5 di Sandwell College, West Midlands. Ia berkata, “I teared up, I thought my patience had paid off,” serta “It happened for a reason, it was meant for me this year,” sebelum akhirnya dapat melanjutkan studi T-level di bidang kesehatan dan perawatan sosial.

Kasus lain datang dari Wynne Hindle, 52 tahun, nenek dari Sudbury, Suffolk. Ia merayakan kelulusan matematika GCSE setelah ujian kelima, dengan nilai 4. Hindle menyebut, “I was very happy and shocked to pass,” dan menambahkan bahwa ia hanya ingin mencapai sesuatu: “I just wanted to achieve something and I’m a resilient person.” Ia berharap suatu saat dapat bekerja di sekolah, serta menyampaikan pesan bagi mereka yang terjebak di siklus resit: “Keep at it”.