jurnalistik.co.id – Laporan Simon Jones dan AndrĂ© Rhoden-Paul menyebut sekitar 140 orang berhasil diselamatkan setelah kapal karet tunggal menyeberang dan meminta pertolongan di perairan Inggris, tepatnya di Selat Inggris.
Penjaga pantai Prancis menyatakan rombongan itu berangkat dari pantai Normandia pada malam hari, kemudian mencari bantuan ketika berada di wilayah perairan Inggris.
Petugas menambahkan bahwa dua kapal RNLI melakukan penjemputan dan membawa para penumpang menuju daratan di Inggris.
Proses penyelamatan berlangsung setelah kapal karet tersebut dilaporkan meminta bantuan di perairan Inggris. Setelah penjemputan, para migran akan dibawa ke lokasi penanganan di daratan.
Menurut keterangan otoritas Prancis, upaya menghentikan kapal di tengah laut dinilai tidak aman, sehingga operasi lebih difokuskan pada pengawalan dan penanganan ketika kondisi memungkinkan.
Kapal itu berlayar dari Bay of the Seine dan, sepanjang pelayaran, dipantau oleh perahu-perahu penyelamat Prancis selama sekitar 10 jam untuk berjaga apabila terjadi kesulitan.
Ia kemudian mencapai perairan Inggris pada waktu makan siang, sebelum akhirnya ditemui oleh lifeboat dari Bembridge dan Yarmouth.
Pihak berwenang Prancis juga menyoroti bahwa lokasi keberangkatan kapal tersebut tidak lazim. Kapal itu berangkat dari area sekitar 170 mil dari titik keberangkatan yang biasanya terjadi di sekitar Calais, sehingga membuat perjalanan menuju Inggris menjadi jauh lebih panjang.
Selain itu, pejabat setempat pernah memberi tahu BBC bahwa terdapat peningkatan jumlah orang yang mencoba berangkat dari Normandia.
Kasus terbaru ini muncul beberapa hari setelah Perdana Menteri Inggris Andy Burnham bertemu dengan Presiden Prancis Emmanuel Macron untuk membahas cara “scale up” atau memperbesar upaya menekan penyeberangan menggunakan perahu kecil.
Dalam pertemuan bilateral pada Kamis, keduanya menyatakan telah melihat kemajuan dalam mengurangi penyeberangan, namun menilai langkah yang diperlukan masih harus ditingkatkan.
Meski jumlah penyeberangan selama musim panas turun hingga level terendah sejak 2019, sumber lain menyebut penyelundup justru mulai memuat lebih banyak orang ke lebih sedikit kapal yang lebih besar. Kapal-kapal yang lebih padat itu disebut “mega dinghies”.
Pandangan yang disampaikan menyebut para pengatur penyeberangan diduga harus menempuh upaya yang lebih jauh untuk menghindari deteksi, menyusul penegakan yang dinilai lebih ketat di area Calais.
Pada bulan Agustus, sebuah perahu kecil mencatat rekor ketika membawa 230 orang dan berhasil menyeberang.
Dalam rentang 1 Januari hingga 1 September 2026, total 16.513 orang menyeberang Selat Inggris dengan perahu kecil dari Prancis. Angka itu turun 43% dibanding periode yang sama pada tahun sebelumnya.
Berita Terkait
Menurut data yang dirujuk dalam laporan tersebut, penyeberangan dengan perahu kecil menjadi cara paling umum untuk mendeteksi kedatangan ke Inggris secara ilegal sejak 2020. Hampir semua orang yang tiba dengan perahu kecil mengajukan klaim suaka.
Di bawah hukum internasional, mereka berhak bertahan di negara tersebut sambil permohonan suaka mereka diproses.
Para penyeberang dengan perahu kecil juga disebut menyumbang 40% dari seluruh permohonan suaka pada periode Juli 2025 hingga Juni 2026.
Untuk periode 2 September 2025 hingga 1 September 2026, kapal-kapal yang mencapai Inggris membawa rata-rata 68 orang. Angka tersebut dinilai lebih dari dua kali lipat dibanding sejak 2021.
Sejumlah ahli memperingatkan bahwa kepadatan berlebih di atas perahu membuat perjalanan menjadi lebih berisiko.
Dalam upaya menilai skala dampak, laporan tersebut menyebut setidaknya 84 orang meninggal dunia saat mencoba menyeberang pada 2024, berdasarkan catatan Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB).
Jika melihat besaran keseluruhan, jumlah kedatangan lewat perahu kecil diperkirakan setara sekitar 5% dari jumlah total imigrasi ke Inggris selama Januari 2025 hingga Desember 2025.
Pemerintah juga menyatakan komitmen untuk “smash the gangs” atau menghancurkan jaringan di balik penyeberangan tersebut guna menekan jumlah kejadian.
Siapa yang datang dan bagaimana data keterkaitannya
Dalam periode Juli 2025 hingga Juni 2026, orang-orang dari Eritrea disebut menyumbang 18% dari seluruh kedatangan melalui jalur perahu kecil.
Sementara itu, data terbaru yang mencakup Januari 2025 hingga Desember 2025 menyebut sedikitnya 2.335 orang yang tiba dengan perahu kecil teridentifikasi sebagai calon korban perdagangan manusia atau bentuk lain dari perbudakan modern, menurut Home Office.
Kedatangan tanpa izin lewat jalur lain
Selain kedatangan dengan perahu kecil, laporan tersebut juga mencatat bahwa 4.712 orang lainnya terdeteksi memasuki Inggris tanpa izin melalui cara lain pada periode Juli 2025 hingga Juni 2026. Metode yang disebut mencakup bersembunyi di kendaraan, menumpang feri, atau masuk melalui bandara.
Angka itu turun 17% dibanding periode yang sama pada tahun sebelumnya.
Laporan tersebut juga menyinggung adanya individu yang masuk secara legal, misalnya melalui visa kerja atau studi, lalu kemudian melebihi batas masa tinggal. Meski demikian, total jumlah orang yang hidup tanpa izin setelah datang secara legal dinilai belum diketahui.












