jurnalistik.co.id – Kevin Mills, pimpinan Dover District Council, mengatakan polisi lambat merespons aksi unjuk rasa yang berlangsung sangat terorganisasi. Menurutnya, demonstrasi itu membuat Port of Dover berhenti beroperasi selama berjam-jam.
Mills menyebut, ketika para demonstran tiba pada Sabtu, mereka “caught several agencies on the hoof”. Dalam penilaiannya, situasi di lapangan berkembang lebih cepat dari kemampuan respons otoritas yang ditugaskan mengendalikan akses dan lalu lintas.
Ia menegaskan ratusan pria bertopeng yang berteriak “stop the boats” memblokir sejumlah ruas jalan. Dampaknya, antrean kendaraan mengular hingga menyebabkan kemacetan panjang sekaligus menghalangi akses menuju pelabuhan.
Kent Police belum memberi komentar mengenai penilaian tersebut. Namun, Menteri kabinet Jonathan Reynolds menyatakan petugas “did deal with it swiftly”, menempatkan penanganan aparat dalam sudut pandang yang berbeda dibanding penilaian Mills.
Meski demikian, Mills menilai kekurangan terlihat pada aspek pembukaan kembali jalan dan jaringan terkait. Ia mengatakan pasukan tersebut “appeared to be quite slow to keep the roads and the networks open, which is disappointing”, seraya menyebut kondisi itu menjadi sesuatu yang mengecewakan.
Dalam perbincangan dengan BBC, Mills mengatakan para pengunjuk rasa “knew what they were doing”. Ia menambahkan, “I’m not sure the police did know what was going to happen,” lalu menyatakan ia memahami kendala sumber daya, karena “the police resource is stretched.”
Anggota Partai Buruh tersebut juga menyoroti lemahnya pemahaman situasi di awal. Menurutnya, “no-one actually knew” apa yang terjadi pada Sabtu pagi, sehingga menurutnya “there needs to be a wash-up over that”.
Reynolds, yang berbicara kepada BBC’s Sunday with Laura Kuenssberg, mengecam aksi tersebut. Baginya, meski protes damai merupakan bagian penting dari kehidupan di Inggris, “but that is not what we saw there with that kind of intimidatory behaviour”.
Ia menambahkan, “I feel sorry for the people around Dover and the people disrupted by that.” Kritik itu menekankan dampak langsung yang dirasakan warga dan pihak-pihak yang terdampak akibat gangguan mobilitas.
Belum ada komentar dari kepolisian mengenai pihak yang berada di balik demonstrasi itu. Aksi berlangsung dari pukul 07:00 BST hingga sekitar 11:30, dengan situasi yang berujung pada terhentinya akses pelabuhan selama jam-jam tertentu.
Berita Terkait
Sementara itu, organisasi anti-kebencian Hope Not Hate menyatakan jaringan Patriot Platform menjadi pengatur aksi. Mereka mengklaim kelompok tersebut mulai bertemu pada bulan Juli dan menghimpun anggota dari berbagai kelompok anti-migran di seluruh negeri.
Ketika ditemui BBC, sejumlah demonstran menyatakan tidak ingin berbicara dengan media. Salah satu di antaranya berkata “send them back”, sementara yang lain berteriak “stop the boats” ketika didekati.
Di media sosial X, dua tokoh aktivis sayap kanan jauh, Tommy Robinson dan Danny Thomas, turut memposting dukungan. Thomas menuliskan pengalaman di lapangan sebagai “The experience on the ground today, was the overwhelming majority of the women and local people we spoke to were thankful that people were actually doing something.”
Thomas juga memuji para pengunjuk rasa dengan menyebut mereka “discipline” dan “stuck to the plan.” Uraian tersebut menggambarkan aksi sebagai langkah yang, menurut penilaian mereka, berjalan sesuai rencana.
Reynolds menanggapi dukungan tersebut dengan kritik tersendiri. Ia mengatakan Robinson dan pihak-pihak seperti dirinya “not interested in solving genuine problems this country has”.
Ia menilai para aktor tersebut ingin memanfaatkan popularitas daring untuk mendapatkan keuntungan, dengan menyatakan, “They want to exploit their online following and take money from the people willing to follow them online, and that’s what that agenda is.”
Reynolds menutup pandangannya dengan penekanan bahwa pemerintahan saat ini berorientasi pada penyelesaian persoalan yang berdampak langsung pada kehidupan masyarakat. “This government is about solving the problems that really make a difference to people’s lives,” ujarnya.
Perbedaan pandangan antara Mills dan Reynolds menggambarkan adanya perdebatan terbuka mengenai kecepatan respons penegak hukum serta cara penanganan saat massa bergerak dan mengunci akses utama. Dalam situasi yang berlangsung cepat dan berdampak luas, pertanyaan tentang kesiapan antarlembaga kembali menjadi pusat sorotan.
Bagi Mills, kebutuhan evaluasi bukan sekadar soal durasi gangguan, melainkan juga keterlambatan membuka kembali jalan dan jaringan yang terdampak. Ia menyatakan para pengunjuk rasa tampak siap dengan skenario mereka, sementara aparat dinilai belum sepenuhnya menangkap arah perkembangan yang akan terjadi.
Sementara itu, Reynolds memposisikan respons polisi sebagai sesuatu yang dilakukan dengan cepat, namun tetap mengutuk perilaku intimidatif yang, menurutnya, tidak sejalan dengan semangat protes damai. Kontras penilaian inilah yang kini menjadi kelanjutan dari diskusi publik pascademonstrasi di Port of Dover.









