Peristiwa

Jangan Sapu Abu Vulkanik Anak Krakatau, Dokter Tirta Sarankan Ini

×

Jangan Sapu Abu Vulkanik Anak Krakatau, Dokter Tirta Sarankan Ini

Sebarkan artikel ini
Ilustrasi: Awas Jangan Sapu Abu Vulkanik! Ikuti Tips dari Dokter

jurnalistik.co.id – Abu vulkanik erupsi Gunung Anak Krakatau terus menyebar ke berbagai wilayah, termasuk Jakarta. Kondisi ini tidak hanya soal gangguan pandangan, tetapi juga berpotensi memengaruhi kesehatan, khususnya saluran pernapasan.

Dokter sekaligus entrepreneur Tirta Mandira Hudhi atau yang dikenal sebagai Dokter Tirta membagikan sejumlah langkah yang dapat dilakukan masyarakat agar dampaknya dapat ditekan. Anjuran tersebut dibagikan melalui akun Instagram @dr.tirta dan dikutip Minggu (6/8/2026).

Menurut Dokter Tirta, masyarakat yang tetap beraktivitas di luar ruangan perlu menyiapkan perlindungan. Ia menekankan bahwa meski abu terlihat tipis, pemakaian masker tetap harus menjadi bagian dari kebiasaan saat keluar rumah.

“Nah, yang pertama adalah kalian kalau ke mana-mana, aktivitas outdoor walaupun abunya tipis itu harus memakai masker,” kata Tirta. Ia menjelaskan, abu vulkanik yang terlalu sering terhirup dapat masuk ke saluran pernapasan dan memicu reaksi alergi.

Lebih lanjut, gangguan yang muncul tidak selalu berhenti di awal. Kondisi tersebut juga dapat berkembang menjadi masalah pada saluran pernapasan bagian atas hingga bronkitis bila intensitas paparan semakin berat.

Selain perlindungan saat berada di luar, perhatian juga diperlukan ketika membersihkan abu yang menempel di lingkungan. Dokter Tirta mengimbau agar masyarakat tidak melakukan sapuan kering, karena tindakan tersebut justru membuat abu kembali beterbangan dan lebih mudah terhirup.

“Jangan disapu, itu tambah terbang, tambah sesak napas, dan batuk-batuk, disiram pakai air ya, disiram pakai air,” ujarnya. Dengan pendekatan seperti menyiram menggunakan air, abu berpotensi tidak menyebar kembali dalam bentuk partikel yang mudah terhirup.

Dalam proses pembersihan, ia juga meminta masyarakat berhati-hati saat abu mengenai bagian wajah. Menurut Dokter Tirta, menghilangkan abu tidak boleh dilakukan dengan menggosok secara langsung, karena dapat menimbulkan iritasi pada kulit.

“Kalau kena muka, itu sebenarnya gunakan facial wash yang proper, jangan langsung ngegesek, karena bisa baret-baret serius,” katanya. Ia juga menyarankan agar masyarakat tidak panik bila muncul bau yang terasa berbeda dari biasanya.

“Maklumi kalau baunya tuh agak aneh ya, namanya juga abu vulkanik,” ujarnya.

Untuk warga yang rutin berolahraga di luar ruangan, Dokter Tirta menyarankan penyesuaian sementara. Aktivitas tersebut dinilai sebaiknya dialihkan ke dalam ruangan agar peluang menghirup abu vulkanik dalam jumlah lebih besar dapat dikurangi.

“Terus buat temen-temen yang hobi berolahraga outdoor, diganti dulu di indoor. Daripada Anda beresiko terhirup abu vulkanik, semakin banyak, kecuali Anda olahraga outdoornya mau pakai masker,” tuturnya.

Pemilihan masker yang tepat

Dokter Tirta juga menyoroti jenis masker yang dinilai efektif untuk menyaring partikel berbahaya. Ia merujuk pada pandangan seorang profesor paru dari RSUP Persahabatan, Prof Dr dr Agus Dwi Susanto, SpP(K), yang menjelaskan standar masker untuk partikel particulate matter.

Dalam keterangan yang dikutip dari Detikcom, Prof Agus menyebut, “Yang ideal yaitu masker yang kita sebut respirator, yang bisa memfiltrasi partikel particulate matter seperti contohnya masker N95 atau KN95.” Ia menambahkan bahwa pilihan respirator lain juga bisa digunakan selama memiliki kemampuan memfiltrasi particulate matter.

Masih dalam penjelasan tersebut, Prof Agus juga menekankan cara menilai kelayakan masker: “Atau bisa juga respirator lain yang memiliki kemampuan memfiltrasi particulate matter, itu bisa dilihat juga dari bahan yang dipakai apakah ada kemampuan memfiltrasi,” imbuhnya.

Untuk anak-anak, Prof Agus menyampaikan batasan penggunaan. “Anak-anak memang tidak disarankan pakai N95 karena itu cukup pengap,” terangnya. Ia menyarankan penggunaan masker khusus anak yang juga banyak dijual di pasaran, agar kenyamanan dan kesesuaian perlindungan lebih terjaga.

Menjaga kualitas udara di dalam ruangan

Selain masker untuk aktivitas di luar, kualitas udara di dalam rumah juga menjadi faktor penting. Dokter Tirta menyarankan langkah sederhana namun berdampak, seperti menutup pintu dan jendela ketika paparan abu sedang tinggi.

Di samping itu, penggunaan air purifier dapat membantu menjaga kebersihan udara di ruang yang digunakan. Masyarakat juga diminta menghindari sumber polutan lain yang berpotensi memperparah kondisi pernapasan, misalnya kebiasaan membakar lilin maupun merokok.

Mendukung daya tahan tubuh

Dampak abu vulkanik juga terkait dengan kesiapan tubuh dalam menghadapi paparan. Karena itu, Dokter Tirta menekankan pentingnya menjaga pola istirahat dan asupan nutrisi agar daya tahan tubuh tetap optimal.

Ia mengingatkan bahwa waktu istirahat yang cukup dan nutrisi yang seimbang berperan membantu tubuh menangkal dampak buruk bagi kesehatan. Dalam anjuran tersebut, ia juga menyampaikan kebutuhan cairan yang memadai selama kondisi ini berlangsung.

“Air juga harus cukup, ketika lagi seperti ini banyak minum air itu disarankan,” jelasnya.

Rangkaian langkah yang disampaikan Dokter Tirta pada dasarnya berangkat dari upaya pencegahan: mengurangi paparan partikel saat berada di luar, menghindari kebiasaan yang membuat abu beterbangan, serta meminimalkan risiko iritasi melalui cara bersih-bersih yang tepat.

Dengan disiplin menggunakan masker saat aktivitas outdoor, tidak menyapu abu, serta menjaga udara dan kebugaran di dalam rumah, masyarakat diharapkan dapat menghadapi sebaran abu vulkanik Gunung Anak Krakatau secara lebih aman dan terukur.