jurnalistik.co.id –
Liz Masding (44) dan Mike Markham-Lee (43) tidak membayangkan mobil pengantin sebagai bagian dari hari istimewa mereka. Di Woodbridge, Suffolk, pasangan ini justru memilih satu kendaraan yang jauh dari kebiasaan: perahu naga.
“I didn’t want a wedding car,” kata Masding. Ia melanjutkan, “I wanted to arrive or depart or have the dragon boat involved somehow.” Bagi mereka, pilihan itu bukan sekadar unik, melainkan juga membutuhkan perhitungan sejak awal.
Persiapan yang dimulai dari jadwal air pasang
Masding menjelaskan bahwa langkah pertama dalam perencanaan adalah mengecek jadwal pasang surut. Keputusan mereka untuk berangkat dan menempuh rangkaian acara melalui jalur air membuat waktu menjadi faktor penting sejak hari-hari persiapan.
Mata Masding memang sudah dekat dengan dunia kayak/perahu naga. Ia sudah lama menekuni kegiatan mendayung dan kemudian membawa Markham-Lee ikut memahami ritme olahraga itu.
Pada Minggu itu, keduanya menikah di Shire Hall di kota tersebut. Setelah prosesi selesai, mereka kemudian menuju area River Deben untuk naik perahu naga, lalu diarahkan ke Waldringfield.
“The dragon boat crew picked the couple up in Woodbridge,” demikian gambaran tentang momen penjemputan. Selanjutnya, sepanjang perjalanan menuju lokasi resepsi, kru tidak hanya mengantar, tetapi juga merancang suasana hari pernikahan dengan cara mereka sendiri.
Resepsi ditemani perjalanan dan bekal piknik
Berita Terkait
Selama menuju Waldringfield, kru memperlakukan pasangan pengantin dengan piknik di sepanjang jalan. Masding menceritakan bahwa tim menyiapkan berbagai sajian: “They got the champagne out, the picnic baskets, sandwiches, sausage rolls, they absolutely spoiled us rotten, and it was absolute bliss.”
Ia menekankan bahwa momen tersebut terasa istimewa justru karena ritme hari berjalan sangat padat. Dalam situasi yang terus bergerak—“all go, go, go”—mereka memperoleh jeda waktu untuk menikmati kebersamaan selama sekitar satu jam, sambil tetap didayung.
Masding menambahkan bahwa pengalaman itu memberinya ruang bernapas di tengah kesibukan. Bagi banyak pasangan, waktu senggang saat perayaan kadang sulit didapat; namun dalam kasus mereka, perjalanan di atas perahu naga berubah menjadi cara untuk “mengunci” waktu yang lebih tenang.
Setelah menerima rangkaian layanan dari kru, keduanya melanjutkan perjalanan sampai tiba di resepsi pernikahan. Cerita mereka menggambarkan bagaimana sesuatu yang biasanya menjadi aktivitas olahraga, di tangan mereka, berubah menjadi bagian dari narasi perayaan.
“For their honeymoon, the couple are planning to head to Loch Ness to take part in a boat race with a crew of 18,” kata laporan tersebut. Mereka menggambarkannya sebagai sebuah “real adventure,” menandakan bahwa semangat berlayar dan kompetisi tetap menjadi benang merah setelah hari pernikahan.
Namun, bukan hanya kebiasaan mendayung yang menguatkan pilihan mereka. Markham-Lee adalah “a keen metal detectorist,” seorang pencari harta karun menggunakan detektor logam. Cincin yang ia gunakan untuk melamar Masding berasal dari temuan tersebut: cincin itu ia temukan “buried deep in the mud at Walton-on-the-Naze.”
Markham-Lee kemudian menyebut momen lamaran itu dengan kalimat, “I’ve found my treasure.” Ungkapan itu merangkum makna simbolik dari pilihan-pilihan mereka—mulai dari cara mencapai resepsi hingga asal cincin yang menandai awal perjalanan baru.
Pilihan mereka menunjukkan bahwa aspek logistik dapat menjadi bagian dari kegembiraan, bukan beban. Dengan menyesuaikan rencana berangkat lewat jalur air, Masding dan Markham-Lee menjaga agar setiap fase hari berjalan selaras dengan kondisi di sungai. Cara ini juga membantu mereka tetap fokus pada inti perayaan: kebersamaan, meski jadwalnya padat.
Bagi kru, peran mereka tampak tidak berhenti pada penjemputan. Perjalanan menuju resepsi dibuat terasa seperti rangkaian pengalaman tersendiri, lengkap dengan bekal piknik dan sajian yang disiapkan selama rute berlangsung. Dalam narasi Masding, rangkaian perhatian tersebut membuat mereka merasa “spoiled” dan justru lebih menikmati momen yang bergerak cepat.
Setelah hari pernikahan, benang merah itu berlanjut pada rencana bulan madu. Laporan menyebut bahwa mereka ingin melanjutkan semangat berlayar dengan mengikuti perlombaan perahu di Loch Ness bersama kru berisi 18 orang. Ditambah lagi, kisah cincin lamaran yang berasal dari temuan Markham-Lee memperkuat gagasan tentang “harta” dan petualangan yang sama-sama tumbuh dari hobi mereka.












