jurnalistik.co.id – Gubernur DKI Jakarta Pramono Anung mengakui pelaksanaan operasi modifikasi cuaca (OMC) tidak selalu berujung pada turunnya hujan di Ibu Kota. Pengakuan itu disampaikan Pramono saat menanggapi pelaksanaan OMC pada Jumat (21/8/2026) yang belum berhasil menurunkan hujan.
Pramono menilai, meski upaya intervensi modifikasi cuaca terus dijalankan, hasilnya tetap bergantung pada sejumlah kondisi yang menyertai proses tersebut. “OMC ataupun intervensi modifikasi cuaca ini terus terang tidak selalu berhasil,” kata Pramono saat ditemui di kawasan Menteng, Jakarta Pusat, Sabtu (22/8/2026).
Menurut Pramono, pada pelaksanaan OMC sebelumnya kondisi awan sempat diprediksi cukup untuk dilakukan penyemaian agar dapat menghasilkan hujan. Namun, prediksi tersebut pada praktiknya tidak langsung menghasilkan hujan.
Ia menyebut pada hari Jumat yang baru terjadi, langit yang diperkirakan mendukung ternyata tidak berbuah pada hujan buatan. “Kemarin hari Jumat diprediksi, tapi awannya itu cukup untuk bisa dibuatkan hujan buatan. Terus terang kami sudah melakukan penerbangan beberapa kali, enggak bisa,” ujarnya.
Pramono kemudian menegaskan bahwa tidak semua kondisi awan yang dinilai memenuhi kriteria otomatis berpengaruh pada turunnya hujan setelah proses modifikasi cuaca dilakukan. Ia menganggap hal tersebut perlu disampaikan secara jujur agar ekspektasi publik tetap proporsional.
“Secara fair saya harus menyampaikan bahwa tidak semuanya ketika awannya dianggap dalam hitungan sudah cukup bisa menurunkan (hujan),” tutur Pramono. Pernyataan itu menjadi penekanan bahwa OMC bukan jaminan, melainkan upaya yang pelaksanaannya tetap dibatasi oleh faktor alam.
Di sisi lain, Pramono menyatakan Pemprov DKI Jakarta masih membuka kemungkinan untuk kembali melakukan OMC bila kondisi awan mendukung. Dengan demikian, kegagalan pada satu kesempatan tidak langsung menutup peluang pelaksanaan di waktu lainnya.
Berita Terkait
“Bahkan hari ini sebenarnya ada rencana untuk kita menerbangkan kembali, tetapi sampai sekarang ini awannya juga belum cukup. Tetapi kalau kemudian memang awannya cukup, pasti akan kami terbangkan kembali,” ucapnya. Pernyataan tersebut menunjukkan bahwa evaluasi dan keputusan pelaksanaan berikutnya tetap menyesuaikan hasil pengamatan kondisi awan saat itu.
Selain membahas efektivitas OMC, Pramono juga menghubungkan intervensi modifikasi cuaca dengan upaya pemerintah dalam menanggulangi polusi udara di Jakarta. Ia menyebut OMC diposisikan sebagai salah satu cara untuk mengurangi persoalan kualitas udara.
Meski begitu, Pramono menekankan bahwa polusi yang dirasakan di Jakarta tidak semata-mata berasal dari aktivitas yang terjadi di wilayah kota itu sendiri. Menurutnya, ada pengaruh dari daerah penyangga yang turut menyumbang emisi.
Pramono menyebut PLTU di kawasan Suralaya, Cilegon, Banten sebagai salah satu sumber emisi yang ikut memengaruhi masalah polusi udara di Jakarta. Ia memandang keterkaitan antarwilayah tersebut berpengaruh terhadap kualitas udara yang kemudian terlihat di Ibu Kota.
“Polusi di Jakarta tidak serta-merta karena Jakarta. Ada daerah pendukung, terutama beberapa daerah pendukung yang masih menggunakan pembangkit listriknya dari batu bara, industrinya dari batu bara. Itulah yang menyebabkan kemudian terjadi polusi yang ada di Jakarta,” kata Pramono.
Dengan pandangan tersebut, Pramono menempatkan OMC sebagai langkah yang dijalankan pemerintah, tetapi ia sekaligus menunjukkan bahwa penanganan polusi udara memerlukan pemahaman yang lebih luas mengenai sumber emisi di luar batas administratif Jakarta. Dalam logikanya, mengandalkan satu jenis upaya tanpa memperhitungkan pengaruh wilayah lain akan membuat hasil kebijakan menjadi tidak maksimal.
Pengakuan Pramono mengenai ketidaksesuaian antara prediksi kondisi awan dan hasil modifikasi cuaca menegaskan bahwa proses OMC tetap memerlukan kesesuaian faktor cuaca yang nyata di lapangan. Sementara itu, rencana terbang kembali juga menunjukkan adanya mekanisme menunggu kondisi yang dianggap cukup sebelum tindakan dilakukan.
Pada akhirnya, Pramono menegaskan dua hal sekaligus: intervensi modifikasi cuaca tidak selalu efektif menurunkan hujan, dan persoalan polusi udara di Jakarta dipengaruhi faktor lintas wilayah. Kombinasi keduanya memperlihatkan bahwa evaluasi kebijakan akan terus mengikuti hasil pengamatan, baik terkait pembentukan hujan maupun sumber emisi yang membentuk kualitas udara di Jakarta.












