jurnalistik.co.id – Kabar tentang Miriam Lee dan Ollie Jolliff kembali menguatkan arti donor organ setelah 10 tahun berlalu. Saat Ollie masih bertumbuh dan menjalani hari-harinya seperti anak seusianya, keluarga menyebut pemberian hati Miriam sebagai keputusan yang “selfless” dan menyelamatkan nyawanya.
Miriam Lee, remaja berusia 17 tahun dari Kettering, Northamptonshire, meninggal dunia pada 2016 akibat sudden cardiac arrest. Hati Miriam kemudian diberikan kepada Ollie Jolliff yang saat itu baru berusia 11 bulan, dan ia membutuhkan transplantasi karena kondisi genetik yang dialaminya.
Dalam keluarga Ollie, keputusan donor membawa bobot emosional yang tidak kecil. Kakaknya, Kieran, juga meninggal dunia karena kondisi yang sama pada usia empat tahun. Hannah, ibu Ollie, mengatakan kabar mengenai calon donor datang pada tanggal yang bertepatan dengan apa yang seharusnya menjadi ulang tahun Kieran yang ke-10.
Nicola dan David, orang tua Miriam, menuturkan bahwa hidup Ollie menjadi salah satu bentuk penghiburan di tengah duka. Mereka menyampaikan, “It has been a true honour to see Ollie grow up. It’s helped us with our grief, that something positive has come out of something awful.”
Mereka juga menceritakan bahwa keluarganya telah saling bertemu dan menjalin kedekatan sejak tahun 2020, dan pertemuan itu berlanjut dari waktu ke waktu. Bagi Nicola, rasa syukur itu lahir dari keyakinan bahwa keinginan Miriam untuk menjadi donor sudah disiapkan sejak proses pendaftaran sebelum kematiannya.
Nicola menjelaskan, “She was a very caring person. Miriam had registered on the Organ Donor Register when she was registering to give blood and as a part of the process, she had also told us her wishes. So, we knew we had to honour them.”
Menurut keluarga Miriam, perempuan itu mendonasikan sejumlah organ dan jaringan—ginjal, hati, pankreas, mata, serta jaringan—yang menurut mereka menyelamatkan kehidupan empat orang sekaligus memberikan penglihatan kepada dua orang lainnya. Nicola menambahkan, “She wanted to offer everything she could and positively impact as many lives as possible.”
Ketika mendengar bahwa hati Miriam akhirnya sampai kepada “tiny Ollie”, momen itu digambarkan sebagai sesuatu yang sangat emosional. Nicola berkata, “When we heard from Hannah and Mike and learned that Miriam’s liver had gone to tiny Ollie, it was such an emotional moment. It has been a true honour to see Ollie grow up.”
Hannah kemudian menjelaskan bahwa transplantasi bukan pilihan yang dapat dilakukan bagi Kieran. Ia mengatakan Ollie sempat menghabiskan sebagian besar hidupnya di lingkungan rumah sakit, sebelum menerima transplantasi. “He was living because of Miriam,” ujar Hannah, menegaskan hubungan langsung antara donor dan kelangsungan hidup putranya.
Berita Terkait
Dari sisi medis, Ollie menjalani tes sejak kelahiran dan didiagnosis memiliki kondisi metabolik yang menyebabkan kadar amonia beracun dalam darahnya. Selama masa menunggu hati baru, Ollie memperoleh obat, sambil keluarga berharap peluang donor bisa tiba.
Setelah transplantasi berlangsung 10 tahun lalu, Hannah menyebut Ollie kini berkembang dengan baik. Ia mengatakan anaknya memasuki tahun terakhir sekolah dasar, memiliki beragam minat, dan menjalani hidup layaknya anak berusia 10 tahun pada umumnya.
Hannah menuturkan, “We feel incredibly lucky. Ollie knows he’s got a special liver, and he knows that Miriam is the special girl who gave it to him. We’re so aware of how different things could have been had Miriam and her family not made the decision to donate.”
Ia kembali menekankan betapa besar arti keputusan itu bagi keluarga. “It was a difficult and completely selfless decision, and we are so grateful to them,” kata Hannah, sebelum mengajak masyarakat mempertimbangkan konsekuensi dari keputusan mereka serta memastikan pilihan tersebut tercatat pada NHS Organ Donor Register.
Di saat kisah keluarga ini dibagikan, otoritas kesehatan juga menyerukan agar publik mendaftar sebagai donor organ melalui register tersebut. NHS Blood and Transplant (NHSBT) menyebut tingkat persetujuan keluarga telah menurun—dari 67% pada 2020/21 menjadi 57% pada tahun lalu—serta jumlah donor yang memenuhi syarat mengalami pengurangan.
Hannah dan keluarganya tidak menutup kemungkinan bahwa, tanpa donor, hasil yang terjadi bisa jauh berbeda bagi Ollie. Karena itu, mereka ingin kisah ini menjadi pengingat bahwa keputusan yang tampak jauh di masa lalu dapat berdampak nyata pada kehidupan di masa depan.
Sementara itu, Anthony Clarkson selaku director of organ and tissue donation and transplantation di NHSBT menyatakan situasi saat ini termasuk periode yang berat. Ia berkata, “We are facing one of the most challenging periods for organ donation in over a decade. The sharp decline in donors and the rising number of people waiting for a transplant need urgent action.”
NHSBT juga menyebut ada 8,700 orang yang menunggu transplantasi organ. Di tengah kebutuhan yang tetap tinggi, keluarga menegaskan bahwa keputusan donor tidak hanya menyangkut satu kehidupan, tetapi bisa membuka kesempatan bagi orang lain yang membutuhkan perawatan segera.
Bagi Ollie, hati yang ia terima kini telah menjadi bagian dari kehidupannya. Sementara bagi keluarga Miriam, 10 tahun ini tidak menghapus kehilangan, namun setidaknya menghadirkan makna: bahwa sesuatu yang “awalanya buruk” dapat berubah menjadi harapan bagi orang lain, sebagaimana yang mereka rasakan saat menyaksikan Ollie bertumbuh.










