Peristiwa

Operasional SPPG Dihentikan Sementara, 96 Siswa SMPN 6 Boyolali Diduga Keracunan Usai Santap MBG

×

Operasional SPPG Dihentikan Sementara, 96 Siswa SMPN 6 Boyolali Diduga Keracunan Usai Santap MBG

Sebarkan artikel ini
Ilustrasi: 96 Siswa SMPN 6 Boyolali Alami Keracunan Diduga Usai Santap MBG, Operasional SPPG Dihentikan Sementara

jurnalistik.co.id – Sebanyak 96 siswa SMPN 6 Boyolali, Jawa Tengah, diduga mengalami keracunan setelah mengonsumsi menu Makan Bergizi Gratis (MBG). Dinas Kesehatan Kabupaten Boyolali (Dinkes) turun untuk memeriksa serta menelusuri dugaan penyebabnya, sementara operasional SPPG dihentikan.

Peristiwa ini bermula saat siswa mengonsumsi menu MBG pada Kamis (20/8/2026) pagi. Seiring waktu, keluhan muncul di sore hari dan berlanjut hingga Jumat (21/8/2026) pagi.

Kepala Dinas Kesehatan Kabupaten Boyolali, FX Kristandiyoko, menjelaskan bahwa penelusuran awal dilakukan melalui anamnesis untuk merunut waktu munculnya gejala. Menurutnya, gejala berkaitan dengan makanan yang disajikan pada jam 9 pagi.

“Kita runut dari anamnesis tadi itu gejalanya makanan yang disajikan kan jam 9 (pagi). Itu ada gejala muncul di jam 4 (sore).” Kristandiyoko juga menegaskan bahwa pola waktu tersebut menunjukkan onset yang masuk ke keracunan makanan.

“Jadi memang masuk onset di dalam keracunan ya,” kata FX Kristandiyoko dihubungi wartawan pada Jumat (21/8/2026).

Setelah menerima laporan dugaan keracunan MBG, Dinkes menerjunkan tim kesehatan dari Puskesmas Boyolali I untuk mendatangi SMPN 6. Dari penelusuran awal, sekitar 96 anak dikumpulkan untuk ditanyakan riwayat keluhan yang mereka rasakan.

Kristandiyoko menyebutkan bahwa dari 96 siswa yang dilakukan anamnesis, terdapat perbedaan kondisi antara yang sudah membaik dan yang masih mengalami keluhan. Mereka lalu diperiksa tim kesehatan bersama dokter.

Menurut Kristandiyoko, keluhan yang muncul antara lain mual, mulas, serta diare. “Dari 96 itu ada 17 yang masih merasakan tidak nyaman di badannya, baik itu untuk mual, mules, diare, nah itu ada 17. Itu diperiksa oleh tim kesehatan dari Puskesmas Boyolali I dengan melibatkan dokter dan timnya. Nah, kemudian sudah diberikan obat,” ungkapnya.

Selain menangani siswa yang masih merasakan ketidaknyamanan, Dinkes juga terus berkomunikasi dengan pihak sekolah. Tujuannya agar sekolah bisa melaporkan siswa yang pada hari itu tidak masuk karena sakit, sehingga pelacakan informasi lebih akurat.

Kristandiyoko menyatakan bahwa pihaknya menunggu perkembangan sambil memastikan komunikasi berjalan dengan guru maupun kepala sekolah. “Jadi dari 96 itu yang diperiksa ada 17. Dan kami juga masih menunggu sambil kita berkomunikasi dengan guru maupun Kepala Sekolah di SMP 6 kalau murid yang misalnya hari ini tidak masuk untuk bisa memberikan laporan, sehingga kami bisa ada pelacakan untuk lebih akurat,” tambahnya.

Di bagian penyelidikan, Dinkes masih melakukan proses epidemiologi guna mengetahui penyebab yang lebih pasti. Kristandiyoko menyampaikan bahwa dalam menu MBG yang dikonsumsi terdapat indikasi jamur, namun saat ini belum dapat dipastikan sebagai penyebab tunggal.

“Dan memang kami masih melakukan suatu penyelidikan epidemiologi istilahnya kalau di kami di Dinas Kesehatan, sehingga kami bisa lebih merinci lagi sebab-sebab dan lain sebagainya.” Ia menegaskan proses penelusuran masih berjalan dan hasil akhirnya akan ditentukan setelah penyidikan epidemiologi dirampungkan.

Dengan adanya pemeriksaan dari tim Puskesmas Boyolali I dan pemberian obat bagi siswa yang masih mengalami keluhan, Dinkes terus memantau perkembangan kondisi para siswa. Sementara itu, penghentian operasional SPPG menjadi langkah sementara untuk mencegah potensi paparan berulang sambil penyelidikan penyebab didalami.

Dalam proses penanganan, Dinkes juga menempatkan penelusuran gejala sebagai bagian penting untuk memetakan keterkaitan konsumsi menu MBG dengan keluhan yang dialami siswa. Langkah awal dilakukan dengan merunut waktu munculnya tanda-tanda, lalu dilanjutkan pemeriksaan oleh tenaga kesehatan bersama dokter, khususnya pada siswa yang masih merasakan ketidaknyamanan.

Pemeriksaan tersebut difokuskan pada keluhan seperti mual, mulas, serta diare. Dari hasil anamnesis terhadap 96 siswa, disebutkan ada 17 siswa yang masih mengalami keluhan, kemudian mereka mendapatkan penanganan berupa obat sesuai kebutuhan. Setelah itu, pemantauan dilakukan untuk melihat respons kondisi para siswa dari waktu ke waktu.

Sambil penanganan berjalan, penyelidikan epidemiologi terus dilakukan untuk memperjelas faktor pemicunya. Kristandiyoko menyampaikan bahwa dalam menu MBG terdapat indikasi jamur, namun kepastian penyebab tunggal masih menunggu hasil penyidikan. Operasional SPPG disebut dihentikan sementara sebagai langkah pencegahan, sambil Dinkes tetap berkoordinasi dengan sekolah agar laporan terkait siswa yang tidak hadir karena sakit bisa dihimpun lebih akurat.