Daerah

Hampir 40 Tahun Beroperasi, SDN 3 Kacamarga di Tanggamus Masih Berdinding Papan

×

Hampir 40 Tahun Beroperasi, SDN 3 Kacamarga di Tanggamus Masih Berdinding Papan

Sebarkan artikel ini
Ilustrasi: Hampir 40 Tahun Berdiri, SDN 3 Kacamarga Tanggamus Masih Berdinding Papan

jurnalistik.co.id – Pagi di Kecamatan Cukuh Balak, Kabupaten Tanggamus, Lampung, dimulai dengan langkah anak-anak SD Negeri 3 Kacamarga menuju sekolah. Sebagian siswa berasal dari wilayah umbulan yang letaknya jauh di pelosok.

Untuk sampai ke sekolah, mereka harus menempuh perjalanan kaki yang bisa mencapai dua jam. Saat berangkat, jalan menurun, sedangkan perjalanan pulang menanjak.

Kepala SDN 3 Kacamarga, Latri, S.Pd., menjelaskan bahwa waktu tempuh itu sudah menjadi rutinitas bagi murid dari umbulan. Ia menyampaikan, “Anak-anak yang dari umbulan itu sampai dua jam perjalanannya. Jalan kaki turun gunung. Pulangnya nanti nanjak.”

Bagi banyak keluarga, sekolah bukan sekadar tempat belajar, melainkan juga tujuan yang menuntut ketahanan sejak pagi. Meski perjalanan panjang, anak-anak tetap berangkat agar bisa mengikuti kegiatan pembelajaran.

Bangunan berdinding papan sejak 1987

Setelah menempuh jalan yang tidak singkat, perjuangan siswa belum berakhir di luar sekolah. Mereka harus belajar di bangunan yang berdiri dengan keterbatasan, termasuk dinding yang masih menggunakan papan.

SDN 3 Kacamarga berdiri sejak 1987. Hingga saat ini, gedungnya ditopang tiang-tiang kayu dengan atap asbes tanpa plafon, sehingga kondisi ruang kelas sangat dipengaruhi cuaca.

Saat hujan turun, pencahayaan di dalam kelas menjadi jauh lebih redup. Latri menuturkan kondisi tersebut secara langsung ketika dihubungi Kompas.com, “Ya kayak gitulah, seadanya. Enggak ada plafon. Kalau hujan itu gelap ruangannya.”

Akibatnya, kegiatan belajar turut terganggu. Proses pengajaran yang seharusnya berjalan dengan nyaman harus menyesuaikan dengan perubahan suasana di dalam ruang kelas.

Dua ruang untuk enam jenjang

Keterbatasan bangunan tidak hanya terkait material dinding dan atap, tetapi juga berdampak pada pengaturan ruang belajar. Sekolah menampung enam jenjang pendidikan dalam dua ruang kelas.

Di satu ruangan, siswa kelas I sampai III belajar bersama. Sementara itu, kelas IV hingga VI juga menempati satu ruang yang sama.

Dalam pendataan, sekolah mencatat sebanyak 22 siswa yang terdaftar di Dapodik. Angka tersebut menjadi gambaran jumlah murid yang menjalani sistem pembelajaran di tengah keterbatasan fasilitas ruang.

Latri menyampaikan, “Kalau murid sekarang alhamdulillah yang masuk di Dapodik 22.” Ia menggambarkan bahwa meski fasilitas yang tersedia terbatas, aktivitas sekolah tetap berlangsung dan diikuti para siswa.

Kekurangan tenaga bukan isu utama

Dari sisi tenaga pendidik, SDN 3 Kacamarga memiliki enam guru berstatus PNS. Namun, dua di antaranya mendapatkan surat penempatan tugas di tempat lain karena faktor jarak.

Meski ada pengaruh dari kondisi penugasan tersebut, Latri menilai kekurangan guru bukan lagi persoalan utama. Menurutnya, masalah yang paling mendesak justru berhubungan dengan kondisi bangunan dan fasilitas sekolah yang belum memadai.

Ia menekankan bahwa anak-anak tetap datang untuk belajar hampir setiap hari. Bahkan ketika kondisi sekolah berada dalam keterbatasan, proses belajar tetap berusaha dijalankan agar pendidikan tidak berhenti di tengah akses yang sulit.

Proposal perubahan gedung sejak 2014

Perubahan yang diharapkan pihak sekolah sudah lama diperjuangkan. Latri menyebut bahwa sejak 2014, sekolah berulang kali mengajukan proposal bantuan pembangunan.

Setiap kali ada permintaan proposal dari pihak terkait, sekolah kembali mengusulkannya. Meski demikian, gedung baru belum juga terwujud hingga saat ini.

Harapan akan perbaikan semakin dirasakan ketika bangunan berpengaruh langsung terhadap suasana belajar, terutama saat cuaca buruk. Dengan atap asbes tanpa plafon dan dinding papan, ruang kelas dapat menjadi gelap ketika hujan turun.

Di tengah kondisi itu, sekolah dan para guru berusaha menyiapkan kegiatan pembelajaran sebaik mungkin. Namun, kebutuhan terhadap fasilitas yang lebih layak tetap menjadi bagian dari tuntutan utama agar proses belajar bisa berlangsung lebih optimal.

Dengan jumlah siswa yang terdata 22 orang dan pembelajaran yang membagi enam jenjang dalam dua ruang kelas, setiap hari di SDN 3 Kacamarga menuntut penyesuaian. Anak-anak datang setelah perjalanan hingga dua jam, sementara ruang kelas menghadapi tantangan dari kondisi bangunan yang telah bertahan puluhan tahun.

Komitmen untuk tetap belajar terlihat dari keberlanjutan aktivitas sekolah. Di sisi lain, perjuangan untuk mewujudkan pembangunan gedung baru yang diajukan sejak 2014 masih terus menjadi pekerjaan yang belum selesai.