jurnalistik.co.id – Para ilmuwan melaporkan temuan yang menjelaskan mengapa wabah meningitis B di Kent pada awal tahun ini berkembang dengan sangat cepat dan terasa luar biasa berat. Studi DNA terhadap bakteri penyebabnya menunjukkan adanya pertukaran materi genetik dengan mikroba lain yang hidup alami di tenggorokan beberapa orang, sehingga terbentuk varian baru yang kemudian menulari lebih banyak orang.
Wabah pada bulan Maret itu menginfeksi lebih dari 20 anak muda, mayoritas mahasiswa, dan dikaitkan dengan sebuah tempat hiburan malam di Canterbury. Semua yang terjangkit membutuhkan perawatan di rumah sakit, sembilan di antaranya harus masuk ruang perawatan intensif, sementara dua orang meninggal.
Kedua kematian tersebut adalah seorang mahasiswa Universitas Kent berusia 21 tahun dan Juliette Kenny, siswi sekolah tingkat atas (sixth-form) di Queen Elizabeth’s Grammar School, Faversham. Dalam penyelidikan, para ahli dari UK Health Security Agency (UKHSA) dan Universitas Oxford menelusuri jejak perubahan pada DNA bakteri.
Menurut penjelasan para peneliti, bakteri penyebab meningitis B yang beredar saat wabah berlangsung mendapatkan materi genetik dari bakteri lain yang ditemukan secara alami pada tenggorokan sebagian orang. Pertukaran tersebut memunculkan strain atau varian baru yang selanjutnya menyebar di antara pengunjung klub pada waktu itu, hingga menyebabkan penyakit berat.
Peran perubahan genetik dan kondisi pergaulan
Para ahli menegaskan bahwa vaksin meningitis B yang saat ini diberikan kepada lebih dari satu juta anak muda yang memulai kuliah tetap memberi perlindungan terhadap varian tersebut. Meski begitu, mereka juga mengingatkan bahwa kejadian semacam ini jarang, namun mungkin terulang.
“Investigasi ini menunjukkan seberapa cepat dan dramatis bakteri dapat berubah,” ujar Dr Charlene Rodrigues, konsultan dalam bidang Pathogen Genomics di UKHSA. Ia menambahkan bahwa kemampuan varian wabah untuk menjangkau begitu banyak anak muda berkaitan dengan lingkungan sosial, yaitu tempat dengan banyak percampuran sosial yang dekat.
Dalam wawancara terpisah dengan BBC, Dr Rodrigues menyampaikan bahwa bakteri memang diketahui mengalami perubahan seperti itu yang dikenal sebagai horizontal gene transfer. Ia juga menjelaskan bahwa perubahan semacam itu dapat membuat infeksi menjadi lebih berat, sekaligus berpotensi membuat kuman “melewati” sistem kekebalan tubuh, khususnya karena banyak orang belum pernah menghadapi varian tersebut sebelumnya.
Berita Terkait
Dr Rodrigues menekankan bahwa meski peristiwa ini jarang dan sulit diprediksi, kemungkinan kemunculannya tetap ada. Karena itu, menurutnya, para pihak “seharusnya tidak kehilangan fokus,” mengingat wabah seperti ini bisa terjadi lagi.
Wabah Kent dinilai tidak lazim dari sisi kecepatan
Kecepatan sekaligus tingkat keparahan wabah di Kent, menurut ilmuwan, sangat tidak lazim. Saat kasus terjadi, wabah itu digambarkan sebagai “unprecedented” dan “explosive”, karena banyak infeksi muncul di satu tempat dalam rentang waktu yang sangat singkat.
Para peneliti memperkirakan wabah dimulai dari sebuah klub bernama Club Chemistry, yang berada di pusat kota. Tempat itu populer di kalangan mahasiswa. Dugaan mereka, kemungkinan ada satu orang yang lebih dulu membawa infeksi, lalu penyebaran terjadi pada malam yang sama ketika terjadi interaksi antarpengunjung.
Meningitis menular melalui kontak dekat, termasuk aktivitas seperti berciuman serta berbagi minuman atau vapes. Dalam konteks itu, temuan genetik yang membuat varian bakteri menjadi lebih berbahaya, juga diduga berperan dalam mengapa wabah tersebut tidak berlangsung lama dan tidak terus menyebar lebih luas.
Dr Rodrigues menduga bahwa kualitas wabah yang begitu berat justru membuat mata rantai penyebaran cepat terputus. Menurutnya, orang-orang yang terinfeksi tampaknya terlalu sakit untuk berperan sebagai “silent carriers”, yaitu pembawa tanpa gejala yang bisa menularkan tanpa disadari kepada orang lain.
Setelah wabah Kent, pemerintah menjalankan program vaksinasi MenB yang bersifat khusus (one-off) untuk melindungi anak muda yang akan memasuki universitas pada musim gugur. Langkah ini muncul sebagai respons langsung terhadap kejadian di Canterbury dan konsekuensi yang ditimbulkannya.
Sementara itu, para penasihat dilaporkan meminta pemerintah mempertimbangkan pemberian vaksin MenB secara rutin bagi anak usia sekolah menengah, sekitar umur 15 tahun, guna meningkatkan perlindungan terhadap penyakit yang dapat berakibat fatal.












