Bisnis & Ekonomi

Wabah kutu daun: 30 juta kepala selada di Inggris terancam gagal panen, rugi hingga £10 juta

×

Wabah kutu daun: 30 juta kepala selada di Inggris terancam gagal panen, rugi hingga £10 juta

Sebarkan artikel ini
Ilustrasi: Millions of heads of lettuce ruined by aphid outbreak

jurnalistik.co.id – Lonjakan serangan kutu daun (aphids) sedang membuat sejumlah petani selada di Inggris menghadapi risiko panen yang tidak lagi layak jual. British Leafy Salads Association memperkirakan sebagian besar hasil musim tanam terakhir berpotensi harus dibuang.

Organisasi tersebut menyebut kerugian dapat mencapai £10 juta, seiring tak kurang dari 30 juta kepala selada diproyeksikan menjadi tidak berguna. Dampak ini terutama terasa saat musim tumbuh sudah memasuki fase akhir dan keputusan di lapangan harus segera diambil.

Menurut British Leafy Salads Association, cuaca yang hangat dan kering berperan besar dalam memperkuat kondisi “ideal” bagi kutu daun. BLSA menilai, dalam periode dari sekarang hingga akhir Oktober, sekitar 30% dari total panen selada di Inggris bisa berakhir terbuang.

“warm and dry weather has produced ‘ideal conditions’ for the bugs,” demikian penjelasan organisasi itu, yang kemudian berujung pada penilaian bahwa kerusakan tanaman terjadi lebih cepat dari perkiraan banyak pihak. Pada saat yang sama, pola konsumsi pasar juga ikut berubah: produk selada rumahan biasanya mendominasi pada pekan musim panas dan awal musim gugur, sebelum masuknya lebih banyak pasokan impor mengisi rak-rak toko.

Namun, ketika wabah kutu daun meningkat, jadwal pasokan tersebut dapat bergeser. Teks laporan BBC menyebut bahwa selada impor kemungkinan lebih cepat muncul di pasar Inggris dibanding kebiasaan.

Daerah di Inggris yang paling terdampak

Serangan dilaporkan menimpa banyak wilayah di Inggris, termasuk Midlands, East Anglia, south-east, bagian selatan, serta south dan north-west. Meski begitu, BLSA menekankan bahwa tidak seluruh lahan di seluruh wilayah Inggris mengalami kondisi yang sama.

Dieter Lloyd, juru bicara British Leafy Salads Association, menggambarkan persoalan ini sebagai situasi yang serius. Saat berbicara kepada BBC Radio 5 Live, Lloyd menyebut masalah tersebut “serious”, sembari menegaskan bahwa gangguan tidak melanda seluruh hasil panen.

Ia juga menyoroti bahwa masyarakat selama ini tetap bisa menikmati salad dari produk lokal. Lloyd mengatakan orang-orang telah mengonsumsi salad dari produk Inggris “all summer”, tetapi menambahkan bahwa persoalan utamanya muncul karena siklus hidup kutu daun yang kembali berkembang di musim yang berbeda. Dalam kutipan yang disampaikan, Lloyd menyatakan: “The issue though is serious, the aphids bloom in June and again in August/September.”

Menurut Lloyd, yang sedang hilang bukan hanya hasil yang sudah dipanen, melainkan juga bagian panen yang akan terjadi. Ia menjelaskan: “What we’re talking about here is the loss of the crop over the course of the last couple of weeks and the couple of weeks ahead.”

Lloyd menekankan bahwa ini bukan berarti “all of the heads in the UK” rusak seluruhnya, melainkan persentase yang signifikan. Ia menyebut produsen “looking at not using 30 million heads of lettuce at the cost of £10m to the growers”, yang menggambarkan konsekuensi ekonomi di tingkat petani.

Sepanjang satu musim, petani selada di Inggris menghasilkan sekitar setengah miliar kepala selada. Dengan angka tersebut, perkiraan bahwa 30 juta kepala berpotensi harus dibatalkan menempatkan wabah pada skala yang besar dibanding total produksi musiman.

Cuaca bukan satu-satunya faktor, tapi mempercepat dampak

Ketika ditanya apakah cuaca menjadi faktor yang berkontribusi terhadap persoalan, Lloyd menjawab bahwa pola cuaca jangka pendek dan perbedaan antarwilayah memang turut berpengaruh. Ia mengaitkan kejadian saat ini dengan pengalaman pada tahun sebelumnya, saat Inggris juga mengalami masalah kutu daun.

Dalam pernyataannya, Lloyd menyebut: “We had a problem with aphids last year, we’ve had a mild winter which traditionally might affect the aphid populations and then they do like warm weather.” Uraian ini mengindikasikan bahwa kombinasi kondisi musim dingin yang lebih ringan, lalu disusul cuaca hangat, dapat membantu populasi kutu daun bertahan dan berkembang.

Artinya, perubahan kondisi di luar musim tanam tidak berhenti pada satu titik waktu. Wabah yang mulai muncul dalam satu fase kemudian berlanjut mengikuti rentang waktu panen, sehingga petani menghadapi dilema operasional di beberapa pekan sekaligus.

Dukungan dari NFU untuk petani dan riset

Dari sisi dukungan industri, National Farmers’ Union menyatakan pihaknya tengah berupaya membantu petani dan peneliti di tengah wabah. Martin Emmett, ketua urusan hortikultura NFU, menyampaikan bahwa cuaca panas dan kering musim ini menimbulkan beragam tantangan.

Emmett menyebut dampak tersebut “still being felt,” dengan menggambarkan bahwa tingkat hama dan penyakit juga terus meningkat, sehingga memberi tekanan tambahan pada bisnis pertanian setelah periode yang sudah sulit. Dalam kutipan yang disampaikan, Emmett mengatakan: “This summer’s warm and dry weather created a number of challenges for growers and the effects are still being felt, with rising levels of pests and disease now adding further pressure to farming businesses following an already difficult period.”

Ia kemudian menambahkan bahwa para petani tetap berupaya menekan jumlah kutu daun yang tinggi, sementara NFU mendukung berbagai pihak yang terlibat dalam solusi. Emmett menyatakan: “While growers are working hard to tackle record high numbers of aphids, the NFU is supporting the work of grower groups, plant breeders and researchers.”

Dengan situasi seperti ini, fokus kebijakan dan strategi tidak hanya pada tindakan darurat di lapangan, tetapi juga pada upaya pemuliaan tanaman serta riset agar penanganan wabah di musim berikutnya dapat lebih efektif. Untuk saat ini, besaran kerugian yang diperkirakan—hingga £10 juta—dan skala kepala selada yang terdampak—sekitar 30 juta—membuat keputusan petani di berbagai wilayah menjadi sangat menentukan bagi keberlangsungan musim panen mereka.