jurnalistik.co.id – PT Alamtri Resources Indonesia Tbk (ADRO) menyatakan bahwa kondisi hidrologi di Kalimantan Selatan mulai memberi dampak pada operasional logistik berbasis sungai. Perusahaan mengaitkan gangguan itu dengan pendangkalan dan kekeringan yang terjadi di Sungai Barito akibat fenomena El Niño.
Dalam pengamatan perusahaan, perubahan kondisi aliran sungai membuat pergerakan kapal tongkang yang mengangkut batu bara menjadi tidak seoptimal sebelumnya. Kondisi ini, menurut ADRO, berpotensi mengubah ritme pengangkutan dan menambah tantangan pada rantai distribusi berbasis perairan.
“Pendangkalan memang cukup berdampak pada logistik sungai,” ujar Corporate Communication Department Head ADRO Karina Novianti kepada Bloomberg Technoz, Minggu (6/9/2026). Ia menekankan bahwa gangguan yang muncul berawal dari turunnya debit air yang berujung pada pendangkalan.
ADRO juga menyebut bahwa meskipun persoalan tersebut tidak menjadi faktor yang paling dominan dibanding keseluruhan lanskap penjualan, pengaruhnya tetap terasa pada segmen tertentu. Perusahaan melihat dampak itu terutama pada aspek distribusi yang bergantung pada kelancaran transportasi air.
Untuk menggambarkan kontribusinya terhadap kinerja periode berjalan, ADRO mencatat bahwa segmen penjualan ekspor perusahaan mencapai sekitar 33,42% dari penjualan konsolidasi pada semester I-2026. Angka ini menunjukkan porsi ekspor yang cukup material dalam struktur pendapatan perusahaan pada paruh pertama tahun tersebut.
Secara nilai, penjualan ekspor ADRO pada periode itu berada di kisaran US$333,98 juta. Dari total tersebut, penjualan terbesar tercatat mengalir ke Singapura dengan nilai sekitar US$278,73 juta.
Berita Terkait
Dengan komposisi tersebut, perusahaan perlu memastikan alur pemenuhan permintaan tetap terjaga meski kondisi sungai mengalami tekanan akibat El Niño. Ketika debit air menurun dan pendangkalan meningkat, efisiensi pengangkutan barang melalui sungai dapat ikut terpengaruh, terutama untuk moda yang mensyaratkan kedalaman tertentu.
Dari sisi operasional, pernyataan ADRO mengindikasikan bahwa pengelolaan logistik menjadi perhatian yang lebih besar pada masa-masa debit rendah. Tantangan yang dihadapi bukan sekadar pada pergerakan kapal, tetapi juga pada kelangsungan jadwal pengapalan dan kesinambungan suplai batu bara.
Meski demikian, ADRO menempatkan dampak pendangkalan sebagai bagian dari dinamika yang sedang terjadi, bukan satu-satunya penentu performa perusahaan. Porsi penjualan ekspor yang relatif signifikan pada semester I-2026 menunjukkan bahwa perusahaan tetap menjaga aktivitas bisnisnya sambil merespons kendala distribusi yang dipicu oleh perubahan kondisi alam di Sungai Barito.
Ketika debit Sungai Barito menurun, perusahaan memandang perubahan daya angkut di rute sungai sebagai faktor yang dapat memengaruhi keteraturan alur kirim. Dalam kondisi pendangkalan, pergerakan kapal tongkang memang tidak lagi seoptimal sebelumnya, sehingga kebutuhan menjaga kelancaran pengapalan menjadi semakin menonjol dalam manajemen distribusi.
ADRO juga melihat bahwa sensitivitas terhadap gangguan hidrologi tidak merata di seluruh aktivitas, tetapi lebih terasa pada bagian yang sangat bergantung pada transportasi perairan. Karena distribusi menjadi penopang penting bagi kelangsungan suplai, perusahaan perlu merespons variasi kondisi sungai agar ritme pengangkutan tetap bisa diselaraskan dengan kebutuhan rantai distribusi.
Dengan porsi penjualan ekspor yang mencapai sekitar 33,42% pada semester I-2026, komposisi pendapatan yang cukup material membuat perusahaan tetap harus memastikan pemenuhan permintaan berjalan, termasuk ketika tekanan lingkungan terjadi di Sungai Barito. Pada periode yang sama, penjualan ekspor ADRO tercatat sekitar US$333,98 juta, dengan kontribusi terbesar mengalir ke Singapura sekitar US$278,73 juta.
Secara keseluruhan, perusahaan menempatkan dampak pendangkalan sebagai bagian dari dinamika yang tengah berlangsung akibat El Niño, bukan faktor tunggal yang menentukan kinerja. Dengan demikian, tantangan logistik pada masa debit rendah dipandang sebagai isu operasional yang perlu dikelola—agar jadwal pengapalan dan kesinambungan suplai tetap terjaga tanpa mengabaikan lanskap penjualan yang lebih luas.












