jurnalistik.co.id – Steve Clarke mengundurkan diri sebagai pelatih kepala timnas Skotlandia setelah skuatnya tersingkir di fase grup Piala Dunia. Keputusan itu diumumkan segera setelah nasib Skotlandia dipastikan tak lolos, menyusul hasil pertandingan lanjutan Grup C pada Sabtu.
Pergantian arus informasi terjadi begitu cepat. Menurut pemberitaan, para pemain diberi tahu hanya beberapa saat sebelum pengumuman resmi keluar dari Scottish FA, pada saat Clarke dan skuat masih berada di pusat latihan mereka di Charlotte.
Clarke juga baru saja menandatangani perpanjangan kontrak berdurasi empat tahun, yang baru dilakukan sebulan sebelumnya. Karena itu, pengumuman mendadak ini memunculkan keterkejutan bagi publik sepak bola Skotlandia.
Secara keseluruhan, perjalanan Skotlandia di Piala Dunia kali ini berakhir lebih awal dari harapan. Di Grup C, mereka memulai dengan kemenangan 1-0 atas Haiti di Boston, lalu menelan kekalahan 1-0 dari Maroko. Setelah itu, tim dipukul 3-0 oleh Brasil di Miami.
Hasil tersebut membuat Skotlandia sebenarnya masih menyisakan peluang tipis untuk melaju ke babak 32 besar. Peluang itu datang lewat skema “peringkat ketiga terbaik” di antara delapan tim, namun harapan tersebut akhirnya padam pada Sabtu—tiga hari setelah kekalahan dari Brasil.
Clarke menyampaikan bahwa bagian paling emosional dari perpisahan ini adalah untuk para pemainnya. “The most emotional part of this goodbye is for my players, without whom we wouldn’t have had any of the memories that we’ve accumulated from 2019 until now,” katanya.
Dalam pernyataan lanjutan, Clarke menekankan bahwa pemain pantas mendapat penghargaan atas apa yang mereka jalani bersama. “They deserve all the praise and adulation that they receive and it was truly an honour to be called their gaffer. Thanks for having me and good luck to my successor.”
Clarke mulai memimpin Skotlandia tujuh tahun lalu. Saat ia ditunjuk, tim belum pernah tampil di turnamen besar sejak Piala Dunia 1998, tetapi di bawah kepemimpinannya Skotlandia sempat mencapai dua Kejuaraan Eropa sebelum akhirnya kembali ke Piala Dunia musim panas ini.
Catatan keberhasilan, namun hasil di turnamen besar belum sesuai
Meskipun pencapaian kualifikasi tersebut menunjukkan arah yang positif, Scotland dinilai “kurang meyakinkan” dalam tiga turnamen yang diikutinya. Dalam rangkaian final itu, kemenangan atas Haiti menjadi satu-satunya kemenangan yang berhasil diraih.
Pada laga Rabu melawan Brasil, Skotlandia datang dengan posisi yang lebih baik untuk berpeluang menjadi salah satu tim peringkat ketiga terbaik. Namun, kesalahan-kesalahan defensif membuat usaha itu buyar, sehingga tim tidak bisa mengamankan tiket lanjutan.
Scottish FA turut menanggapi pengunduran diri Clarke dengan menyoroti kontribusinya selama masa jabatan. Ian Maxwell, chief executive Scottish FA, menyatakan bahwa meski semua pihak kecewa tersingkir di babak grup, kemajuan yang telah dibuat selama tujuh tahun bersama tetap harus diingat.
Maxwell menyebut perubahan penting dari proses yang dijalani Clarke. “From starting as a pot four team in 2019 to topping our World Cup qualifying group, he has more than delivered on the remit to take Scotland back to a major tournament,” ujarnya. Ia juga menegaskan bahwa pihaknya berterima kasih atas kontribusi Clarke yang “record-breaking” dan yakin para pendukung akan tetap menghargai kenangan saat tim melangkah dengan kebanggaan di turnamen besar.
Di sisi lain, berita ini juga menyisakan pertanyaan yang kuat: siapa yang akan menjadi penerus Clarke. Publik dan media, menurut penuturan analisis, sempat melihat sisi lain dari Clarke selama turnamen—termasuk humor keringnya di konferensi pers—yang terasa berbeda dari sosoknya yang biasanya tampil serius setelah laga melawan Brasil.
Bagi Skotlandia, akhir Piala Dunia yang tak berjalan sesuai harapan menjadi penutup dari periode panjang Clarke di kursi pelatih. Namun, Clarke juga akan dikenang sebagai pelatih paling sukses tim tersebut, sementara pencarian pengganti kini dimulai dari langkah pertama.












